Sabtu, 11 Juli 2015

Sejarah Kabupaten Cilacap

Sejarah Kabupaten Cilacap

1. Zaman Kerajaan Jawa

Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari timur ke arah barat :
- Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
- Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur
- Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh kerjaan Islam Banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap di sebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopatipada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram .

Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon.

Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur dan Limbangan.

2. Zaman Penjajahan Belanda

Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy bertugas) dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli 1839 Nomor 1, memutuskan :
"Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pelabuhan Cilacap, maka sambil menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang akan menjadi bagiannya, satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan ini akan berkedudukan di Cilacap".

Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal 27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang menjadi tempat kedudukan Kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent. Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder Regentschap setaraf dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur.

Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.

Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut:
Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung Prenteng. Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat). dari sana ke arah selatan mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut. Dari sana ke arah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu.
Dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks Kawedanan Kroya, karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub-bagian Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas. Sehingga luas kawasan Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap sekarang.

Pada masa Residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86, dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220 per tahun yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda,setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten Cilacap).

Daftar Nama Bupati Cilacap :

  1. R. Tumenggung Tjakra Werdana II (1858-1873)

  2. R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)

  3. R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)

  4. R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)

  5. R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)

  6. Raden Mas Soetedjo (1950-1952)

  7. R. Witono (1952-1954)

  8. Raden Mas Kodri (1954-1958)

  9. D.A Santoso (1958-1965)

10. Hadi Soetomo (1965-1968)

11. HS. Kartabrata (1968-1974)

12. H. RYK. Moekmin (1974-1979)

13. Poedjono Pranyoto (1979-1987)

14. H. Mohamad Supardi (1987-1997)

15. H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)

16. H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002-2009)
17. H. Tatto Suwarto Pamuji (2011-2009).

RELEVANSI TAWASUL DALAM ISLAM


RELEVANSI TAWASUL DALAM ISLAM. para pembawanya dan waktu kedatangannya. Namun ada satu kepastian yang disepakati, bahwa Islam yang datang ke Indonesia adalah Islam yang datang dengan cara damai. Faham keagamaan yang dianut oleh para penyebar Islam pertama di Indonesia adalah faham Sunni yang menonjolkan aspek-aspek sufistik. Kini mayoritas umat Islam di Indonesia bermazhab Syafi’i, salah satu mazhab dari mazhab empat dalam faham keagamaan Sunni. Dalam paham Sunni, konstruksi pemikiran dan sekaligus praktek keagamaan yang didasarkan pada sunnah Rasulullah, para sahabatnya dan para ulama mazhab terus berkembang dan berjalan. Banyak tradisi keagamaan yang telah turun temurun menjadi bagian dari kehidupan ummat Islam sampai saat ini. Kemapanan tradisi keagamaan di sekitar kita ditunjang oleh para kiai, ajengan, tengku, tuan guru atau tokoh agama lainnya yang dipandang sebagai bagian integral dari wasilah, keperantaraan sepiritual. Mata rantai yang terus bersambung melalui guru-guru terdahulu dan wali sampai dengan nabi. PROLOG Sebelum Nahdhatul Ulama dilahirkan, telah terjadi dialog sangat panjang antara budaya lokal versus nilai Islam di tengah-tengah umat Islam Nusantara hingga terwujud menjadi tradisi baru yang membumi. Kelompok Islam ini menyatu dalam pola pikir (ittihad al-ma’khad wal-mazhab) dan referensi tradisi sosial keagamaan (ittihad al-ma’khad wal-masyrab) Nahdhatul Ulama merupakan aktualisasi dari progresifitas arus besar ummat Islam di Indenesia. Dasar pembentukan prilaku moral bercirikan sikap tawassuth, tawazun, tasamuh dan i’tidal yang merupakan implementasi dalam keyakinan mereka yang kuat berpegang pada prinsip-prinsip keagamaan (qaidah al-fiqhiyyah) yang dirumuskan oleh ulama pendahulu. Diantara prinsip-prinsip keagamaan tersebut adalah al-‘Adah al-Muhakamah artinya: sebuah tradisi dapat menjelma menjadi pranata sosial keagamaan. Juga prinsip al- muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al- akhdzu bi al-jadid al-ashlah artinya: upaya pelestarian nilai-nilai baik dimasa lalu dan melakukan adopsi nilai-nilai baru yang lebih baik. Selanjutnya kaidah al-hukmu yaduru ma’a ‘illatihi wujudan wa’adaman artinya: sebuah keputusan itu terkait dengan sebabnya. Kaidah lainnya adalah ma la yaimmu al- wajib illa bihi fahuwa wajib artinya: jika sebuah keharusan tidak dapat ideal kecuali dengan unsur yang lain, maka unsur yang lain itu menjadi wajib. Prinsip selanjutnya adalah, idza ta’aradla mafsadatani ru’iya a’dzamuhuma dlararan birtikabi akhaffihima artinya: jika terjadi kemungkinan komplikasi yang membahayakan maka yang dipertimbangkan adalah resiko yang paling terbesar dengan cara melaksanakan yang paling kecil. resikonya. Kaidah lain yang juga menjadi pijakan adalah, dar’u al- mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih, artinya: mencegah mara bahaya lebih diutamakan daripada meraih kebaikan. (disarikan dari buku Islam Ahlussunah Waljama’ah, Pustaka Ma’arif NU) TAWASSUL DALAM ISLAM Definisi unsur-unsur dan klasifikasi tawassul menjadi pembahasan dalam Dirasah Mingguan al-ghadier Pondok Pesantren Majlis Tarbiyatul Mubtadiien Kempek Cirebon. Diambilnya tajuk tawassul ini karena merespon akan sesuatu yang terjadi dimasyarakat aswaja pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Otomatis kaum Nahdliyin ingin selalu rukun dan damai dalam kehidupannya dalam kehidupannya yang berdampingan dengan berbagai macam agama dan aliran. Sehingga hal-hal yang mempunyai indikasi kemaslahatan atau perpecahan selalu diperhatikan dan disikapi dengan penuh kearifan dan bijak. Dan tawassul itu termasuk didalamnya. Tema tawassul itu sendiri masih memiliki korelasi dengan pokok pembahasan yang sebelumnya yaitu tahlil. Definisi tawassul yang dapat dambil dari bentuk implementasinya dimasyarakat ialah menjadikan sesuatu sebagai sebuah media (penghantar/perantara) agar apa yang dimintakan itu sampai, diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT. Disini kita akan mengenal akan unsur-unsur dalam tawassul yang ada tiga; Pertama, Mutawassil yaitu orang yang bertawassul atau melakukan tawassul. Kedua, Mutawassul Ilaih, yaitu Allah sebagai puncak tujuan dari tawassul yang akan meluluskan segala macam permintaan. Ketiga, Mutawassul Bih, yaitu sesuatu yang dijadikan sebagai media atau perantara. Dalam Islam supermasi hukum yang memutuskan dan mengvonisnya sebagai hal yang boleh atau tidak tentunya al-Qur’an dan Hadist. Dalam al-Qur’an kita bisa menukil sebuah hukum dengan memetik ayatnya dan menyebut suratnya. Akan tetapi tidak semudah itu karena al-Qur’an sebagai kalam Allah itu ditafsiri oleh banyak orang mufassir yang sampai sekarang itu belum selesai-selesai. Hal ini akan menimbulkan perspetif yang berbeda-beda sesuai dengan point of view (cara sudut pandang) dari masing-masing mufassir. Maka hukumnya pun dilihat dari kacamata ini akan berbeda- beda. Dan dari kacamata ushul fiqh tentunya akan lain lagi jawabannya. Sedangkan dalam hadist kita harus memperhatikan beberapa hal-hal khusus dalam penyitiran sebuah hadist yaitu: Pertama, kita harus mengetahui pada sanad-sanad hadist dan orang yang meriwayatkanya. Kedua, kalau tidak bisa maka kita harus mengetahui dari kitab hadist manakah suatu hadist didapat, seperti kitab Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Tirmidzi, Ibnu majah dan lain-lain. Ketiga, kalau yang pertama dan kedua tidak ditemukan maka hadist itu boleh kita pakai atau kita gunakan asalkan diambil dari kitab-kitab yang mu’tabaroh oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, seperti perkataan seseorang “hadist ini diambil dari kitab Ihya ‘ulumuddin atau ‘I’anatut tholibin” maka hal itu boleh. Sekalipun keduanya bukan kitab hadist (tentang hadist) tapi keduanya merupakan kitab yang mu’tabar (dipakai pegangan) oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Klasifikasi Tawassul Dilihat dari segi media (perantara) nya tawassul digolongkan menjadi beberapa macam, Pertama, Tawassul bil Amal. Tawassul bil Amal langsung bisa dijawab kebolehannya dengan bukti adanya hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori yaitu pengarang kitab shoheh Bukhori, sebuah kitab hadist tershoheh setelah al-qur’an, yakni dijelaskan bahwa ada tiga laki-laki terjebak dalam gua yang pintunya itu tertutup oleh batu besar lalu ketiganya bersepakat meminta kepada Allah dengan tawassul dengan amal mereka. Wal hasil mulut gua terbuka dan merekapaun bisa selamat dan keluar dari dalam gua. Kedua, Tawassul bil Ahya. Yaitu bertawassul dengan perantara orang yang masih hidup. Diriwayatkan oleh Annas bin Malik, Ia berkata “Pada masa Rasulullah pernah terjadi tahun paceklik. Suatu saat ketika Rasulullah sedang berkhutbah jum’at,ada orang arab pedalaman berdiri lantas berkata pada Beliau:wahai rasulullah harta kami telah hancur ,keluarga kami semua kelaparan .maka mintalah pada allahkebaikan untuk kami.Seketika Nabi langsung menengadahkan kedua tangan nyayang pada saat itukami lihat tak ada mega(awan) sama sekali.Akan tetapi demi dzat yang jiwaku ada pada genggamannya Nabi mengangkat tangannya sehingga mega itu menjadi banyak sperti gunung- gunung.Dansebelum nabi turun dari mimbarnyabeliau kehujanan begitu juga kami pada hari itu, Al –Hadits.(hadits AbiJamroh :71). Ketiga, Tawassul bil Amwat yaitu bertawassul dangan perantaraan orang yang sudah mati. Disini timbul sebuah pertanyaan : Apakah orang yang sudah mati bisa memberikan kemanfaatan pada orang yang masih hidup? Menurut sebagaian golongan yang kontra tawassul, Tawassul bil Amwat dihukumi syirik, dengan dalil firman Allah SWT: Iyya kana’ Budu Wa Iyya Ka Nas Taiin. Mereka berargumen, kenapa tidak langsung saja minta kepada Allah? Bukankah Allah telah berfirman: “Berdoalah Kepadaku maka Aku akan mengabulkannya”. Dalam pandangan ini mereka juga berpendapat bahwa orang yang berwassilah dengan mayit, mereka anggap sama dengan orang kafir yang menyembah berhala. Dengan argument firman Allah dalam Surat Az-Zumar ayat 3: Wallazinat Takhozuu Min Dunihii Auliya’a Ma Na’buduhum Illa Liyuqorribuna Illallahi Zulfa. Dari dalil ini mereka beranggapan bahwa tawassul yang dilakukan oleh ahlussunah itu sama saja dengan ta’abud yang dilegalkan oleh kuffar. Akan tetapi alasan kuffar yang Liyuqorribuna dipatahkan oleh Allah dengan ayat sebelumnya, yaitu Ittakhozu Min Dunihi Awliya’. Dengan adanya ayat ini maka dalil yang dikemukakan oleh mereka tidak bisa dijadikan sebagai dalil haramnya tawassul, karena tawassul bukanlah ta’abud. Selain hal tersebut, ayat diatas (Liyuqorribuna ) tidak bisa dikiyaskan dengan tawassul, karena bagi orang kuffar ayat ini hanyalah kamuflase, sebab bagi mereka ashnam (berhala) adalah ma yas tahiqquna bi ibadah. Sedangkan bagi ahlussunah ma yas tahiqquna bi ibadah hanya Allah SWT. Bagi Ahlussunah Mutawasil Bih hanyalah sebagai media, terbukti tawassul juga perah atau sering dilakukan oleh ulama salaf seperti Imam Syafi’i dalam kitabnya ia bertawasul dengan Imam Abu Hanifah. Dengan dalil mafhumi, tawassul juga bisa dilegalkan seperti halnya yang dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa Allah memberikan mu’jizat kepada Nabi-Nabi dengan bentuk semisal tongkat untuk Nabi Musa. Juga perstiwa Tholut ketika akan menyerang Jalut, Allah memberikan wasillah berupa kotak kayu peninggalan Nabi Musa. Dalil Naqly tentang tawassul bil amwat adalah hadist Nabi yang berbunyi: “Idza Takhoyartum fil ummuri fastaiinu min ahli qubur” Dalil ini cukup kuat untuk menjadi hujjah akan Jawaznya tawassul bil amwat . Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul bil amwat itu boleh asal tidak melepas aqidah, artinya tetap berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang menjadikan adalah Allah semata. Sebenar nya antara orang yang masih hidup dan yang telah mati itu sama saja. Sama- sama memberi manfaat bagi yang hidup. Kalau orang yang masih hidup bisa memberi manfaat bagi manusia hidup lainnya dengan kekuasaan Allah, maka orang yang sudah mati pun bisa memberi kemanfaatan pada orang lain yang hidup karena memang yang menjadi Mutawssal Ilah -nya adalah Allah. Artinya bertawassul dengan yang masih hidup mutawssal Ilaaih-nya adalah Allah dan bertawassul dengan yang mati pun Mutawssal Ilaih-nya adalah Allah juga. Kalau kekuasaan Allah hanya bagi orang yang masih hidup maka kekuasan Allah itu pincang, karena tidak berkuasa pada orang yang sudah mati. Akan tatapi itu adalah mustahil adanya bagi Allah SWT yang maha kuasa atas segalanya. Imam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Shirath al-Mustaqim: Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan mati seperti yang diasumsikan sebagian orang. Sebuah hadist sahih menegaskan: Telah diperintahkan kepada orang-orang yang memiliki hajat di masa khalifah Ustman untuk bertawassul kepada Nabi setelah beliau wafat. Kemudian, mereka bertawassul kepada Rasul, dan hajat merekapun terkabul. Demikian diriwayatkan oleh ath-Thabarany (lihat, Kitab Al-Kawakib al-Durriyah, Juz II, hal.6) Dalam al-Qur’an disebutkan: Walaa tahsabannal ladziena qutilu fi sabilillah amwat bal ahya ‘inda robbihim yurzaquun. Janganlah kamu menyangka orang orang yang mati di jalan Allah mati akan tetapi mereka hidup di sisi Tuhan nya dan di beri rizqi. Nah hal ini mengindikasikan bahwa orang yang sudah mati itu ada yang sebenarnya masih hidup (di sisi Allah SWT). Dimana orang yang hidup itu bisa memberikan manfaat bagi manusia yang hidup maka merekapun bisa bermanfaat bagi yang hidup lainnya. Keempat, Tawassul bil Jamadat. Yakni bertawassul dengan perantara benda mati. Di riwayat kan dari Abdullah Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah berjalan melewati pekuburan lantas beliau menyuruh Abdullah berhenti karena di kuburan tersebut mayitnya sedang disiksa karena namimah dan ada yang karena tidak tuntas kencing. Kemudian Nabi mangambil pelapah korma lalu meletakannya diatas dua kuburan tersebut. Disebutkan juga bahwa Ummu Salamah menyimpan baju (sorban) Nabi Muhammad SAW yang biasa digunakan untuk penyembuhan (HR. Muslim) Perlu dipahami bahwa semua macam- macam tawassul ini adalah sebuah amal kasabiyah. Sedangkan yang paling pokok dari itu semua adalah Allah SWT. Janganlah menyakini bahwa yang memberi rizqi, memberi kemudahan, lancarnya usaha itu disebabkan oleh hakikat dari tawassul, karena hakikat dari yang memberikan semuanya adalah Allah SWT yang maha kuasa atas segalanya. Kemudian dari sahabat Anas, ia mengatakan: Pada zaman Umar bin Khatab pernah terjadi musim paceklik. Ketika melakukan sholat Istisqa Umar bertawassul kepada paman Rasullullah, Abbas bin Abdul Muthalib: “Ya Tuhan, dulu kami mohon kepada-Mu dengan wasilah Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami, sekarang kami mohon kepada-Mu dengan tawassul paman nabi-Mu, turunkanlah hujan kepada kami. Allah pun segera menurunkan hujan kepada mereka” (HR. al-Bukhari) Dalil yang lainnya dijelaskan dalam kitab empat puluh masalah agama. Yang berbunyi: sesungguhnya tawassul dan minta syafa’at kepada nabi atau dengan keagungan dan keberkahannya, termasuk di antara sunnah (amal kebiasaan) para Rasul dan orang-orang Salaf Shalihin. (kitab 40 masalah agama. Jilid I hlm. 137).

TAWASUL

Arti Tawassul dan Hukum Tawassul Arti Tawasul dan Hukum Tawasul - Berikut ini adalah artikel mengenai arti tawasul dan hukum tawasul menurut ahlussunnah wal jamaah. Arti Tawasul adalah mendekatkan diri atau memohon kepada Allah SWT dengan melalui wasilah (perantara) yang memiliki kedudukan baik di sisi Allah SWT. Wasilah yang digunakan bisa berupa nama dan sifat Allah SWT, amal shaleh yang kita lakukan, dzat serta kedudukan para nabi dan orang shaleh, atau bisa juga dengan meminta doa kepada hamba-Nya yang sholeh. Allah SWT berfirman : Artinya : Dan carilah jalan yang mendekatkan diri ( Wasilah ) kepada-Nya. (Al-Maidah:35) . Menurut jumhur Ahlus Sunnah Wal-Jamaah, tawasul dengan segala ragamnya adalah perbuatan yang dibolehkan atau dianjurkan. Kebolehan tawasu l dengan nama dan sifat Allah SWT, amal shaleh dan meminta doa dari orang sholeh telah disepakati, bahkan oleh kelompok yang keras sikapnya terhadap tawasul ini, sehingga perlu kami paparkan dalil-dalilnya panjang lebar. Arti Tawasul dan Hukum Tawasul . Hukum Tawasul - Bertawasul dengan nabi dan orang-orang shaleh kerap menjadi permasalahan. Contoh sederhana tawasul jenis ini adalah ketika seseorang mengharapkan ampunan Allah SWT. Misalnya ia berdoa, “ Ya Allah, aku memohon ampunanmu dengan perantara nabi-Mu atau Syaikh Abdul Qadir al-Jailani .” Terlihat jelas dalam bertawasul, nabi atau orang sholeh hanyalah perantara, sedangkan yang dituju dengan do’a hanyalah Allah SWT semata. Dengan tawasul, ia tidak menjadikan nabi dan orang shaleh tersebut sebagai tuhan yang disembah. Namun kenyataan sederhana ini tidak bisa dipahami oleh sebagian orang yang mengaku mengikuti sunnah namun kenyataannya adalah jauh dari sunnah. Mereka menganggap tawasul jenis ini adalah bentuk menyekutukan Allah SWT. Seorang Syaikh Wahabi Abu Bakar Al-Jaziri berkata mengenai Tawasul: “ Sesungguhnya berdoa kepada orang-orang shaleh, Istighosah (meminta tolong) kepada mereka dan tawasul dengan kedudukan mereka tidak terdapat didalam agama Allah ta’ala, baik berupa ibadah maupun amal shaleh sehingga tidak boleh bertawasul dengannya selama- lamanya. Bahkan itu adalah bentuk menyekutukan Allah SWT di dalam beribadah kepada-Nya, hukumnya haram dan dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam serta mengakibatkan kekekalan baginya di neraka Jahannam.”( Aqidatul Mu’min, hal 144). Fatwa ini sangat tendensius dan tidak berbobot ilmiah. Dalil - dalil Hukum Tawasul Dalil Pertama Mengenai Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan nabi adalah hadits shahih tentang Syafaat yang diriwayatkan oleh para hufadz dan ahli hadits. Pada hari kiamat, ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, mereka mengalami kepayahan yang sangat. Mereka bertawasul dengan mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan supaya Allah SWT mengistirahatkan mereka dari penantian yang panjang. Dalil kedua tentang Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan nabi adalah hadits dari sahabat Utsman bin Hunaif yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, an-nasai, ath-Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi dengan sanad yang shahih. Diriwayatkan dari Utsman bin hunaif bahwa seorang lelaki buta datang kepada Nabi SAW Memohon kepada Rasulullah SAW berdoa untuk kesembuhannya. Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau ingin, aku akan doakan. Namun jika engkau bersabar maka itu lebih baik.”Lelaki itu tetap berkata, “Doakanlah.”Nabi SAW lalu memerintahkan kepadanya untuk berwudhu dengan sempurna, shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa berikut: “Ya Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad, nabi yang rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Tuhanku denganmu agar terpenuhi hajatku. Ya Allah, izinkanlah ia memberikan syafaatnya kepadaku…” kemudian lelaki itu bisa melihat. Hukum Tawasul di dalam hadits riwayat ath Thabrani dan al-Baihaqi terdapat tambahan bahwa shabat Utsman bin Hunaif di kemudian hari mengajarkan doa tersebut kepada seorang lelaki agar hajatnya terpenuhi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Tambahan hadits ini dishahihkan oleh ath Thabrani. Al-Haitsami dalam Majma Zawaid menetapkan pendapat ath Thabrani mengenai keshahihannya. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa lelaki buta meminta doa kepada Nabi SAW, namun Nabi tidak mendoakannya melainkan mengajarkan doa yang berisi bertawasul dengan nabi saw. Ini menunjukkan bertawasul dengan nabi saw. boleh. Seandainya tawasul ini syirik maka tidak mungkin Nabi SAW mengajarkannya kepada orang buta tersebut. Para pengingkar tawasul akan berusaha memalingkan makna hadits tersebut dengan takwil yang jauh dari makna dzohirnya. Mereka yang mengatakan yang dimaksud orang buta tersebut bukan bertawasul dengan nabi saw melainkan bertawasul dengan meminta doa Nabi saw. Perkiraan ini keliru sebab hadits tersebut tidak menjelaskan bahwa Nabi saw. berdoa. Bahkan yang disebutkan adalah bahwa Nabi saw. meminta orang buta itu berdoa dengan menyebut nama beliau dalam doanya sebagai perantara. Jika itu adalah bentuk tawasul dengan doa, pasti Nabi saw. tidak perlu repot-repot mengajarkan doa yang panjang itu. Beliau hanya perlu menengadahkan tangan dan berdoa. Dalil lain mengenai Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan dzat adalah hadits yang disebutkan dalam shahih Bukhari bahwa sayidina Umar ra meminta hujan pada masa kekeringan dengan sayidina Abbas, paman Nabi saw. seraya berkata:“Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawasul kepada-Mu dengan Nabi-Mu SAW, dan sesungguhnya kami sekarang bertawasul kepadamu dengan paman Nabi kami.” Maka hujanpun turun.Para ulama menyebutkan bahwa tawasul sayidina Umar ini bukan dalil tidak bolehnya bertawasul dengan nabi saw setelah wafatnya, sebab telah berlalu dalil mengenai tawasul para sahabat dengan Nabi saw setelah wafat. Ini adalah dalil mengenai kebolehan bertawasul dengan hamba yang sholeh selain nabi. Hadits ini juga menunjukkan bahwa tawasul tidak harus dilakukan dengan hamba yang paling utama. Shabat Ali bin Abi Thalib lebih utama dari sahabat Abbas, tapi justru sahabat Abbas yang dijadikan wasilah. Tawasul dengan sahabat Abbas pada hakikatnya juga tawasul dengan Rasulullah SAW. Kalau bukan karena dia adalah kerabat dengan posisinya dengan Rasulullah saw., maka tidaklah beliau dijadikan tawasul. Berarti ini adalah bentuk bertawasul dengan nabi juga. Arti Tawasul dan Hukum Tawasul Imam as-Subki dan Ibnu Taimiyah Tentang Hukum Tawasul Pendapat mengenai hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan Nabi diperkuat dengan kesepakatan para ulama salaf dan kholaf. Imam as-Subki mengatakan: “Bertawasul, meminta pertolongan dan meminta syafaat dengan perantara Nabi kepada Allah adalah baik. Tidak ada seorangpun dari kaum salaf dan kholaf yang mengingkari hal ini sampai datang Ibnu Taimiyah. Ia mengingkari hal ini dan melenceng dari jalur yang lurus, memunculkan ide baru yang tidak pernah dikatakan oleh ulama sebelumnya sehingga terjadilah keretakan dalam islam.” Dalam ucapannya, Imam as-Subki menegaskan bahwa kebolehan bertawasul dengan Nabi disepakati sampai datang Ibnu Taimiyah . Namun faktanya, Ibnu Taimiyah sendiri sebenarnya tidak mengingkari kebolehan bertawasul kepada Nabi. Yang beliau ingkari adalah istighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi SAW, bukan Tawasul. Ibnu Katsir salah satu murid Ibnu Taimiyah menceritakan mengenai tuduhan yang ditujukan kepada Ibnu Taimiyah: “Kemudian Ibnu Atho’ menuduhnya (Ibnu Tiaimyah) dengan banyak tuduhan yang tidak bisa dibuktikan satu pun. Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata, “Tidak boleh beristighosah selain kepada Allah, tidak boleh beristighosah kepada Nabi dengan istighosah yang bermakna ibadah. Namun boleh bertawasul dan meminta syafaat dengan perantara Beliau (Nabi SAW) kepada Allah.” Maka sebagian orang menyaksikan menyatakan, ia tidak memiliki kesalahan dalam masalah ini.” ( Bidayah Wa Nihayah juz 14 hal 51 ). Jadi tampak jelas bahwa (Hukum Tawasul) bertawasul dengan Nabi sama sekali tidak diingkari oleh Ibnu Taimiyah, sedangkan tuduhan yang dialamatkan kepada beliau itu keliru. Bahkan fatwanya, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hukum tawasul dengan Nabi disyariatkan dalam berdoa . Beliau mengatakan:“Termasuk ke dalam hal yang disyariatkan adalah bertawasul dengannya ( Nabi SAW ) di dalam doa sebagaimana terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan at-Turmudzi dan dishahihkan olehnya bahwa Nabi SAW mengajarkan seorang untuk berdoa, “Wahai Allah, sesungguhnya aku bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bertawasul dengan perantaramu kepada Tuhanku agar Dia menunaikan hajatku itu. Wahai Allah, jadikan ia orang yang memberi syafaat kepadaku.”Tawasul yang seperti ini adalah perbuatan yang baik. Sedangkan berdoa dan beristighosah kepadanya ( Nabi SAW ), maka itu merupakan perbuatan yang haram. Perbedaan di antara keduanya telah disepakati dikalangan umat muslim. Orang yang bertawasul sebenarnya hanya berdoa kepada Allah, menyeru kepada-Nya dan memohon pada-Nya. Ia tidak berdoa selain pada-Nya. Ia hanya menghadirkannya ( Nabi SAW ). Adapun orang yang berdoa dan meminta tolong, maka berarti ia memohon kepada yang ia seru dan meminta darinya, serta meminta tolong dan bertawakal kepadanya, sedangkan Allah merupakan Tuhan semesta alam. (Majmu Fatwa juz 3 hal 276). Berdoa dan beristighosah yang dilarang Ibnu Taimiyah seperti sudah dijelaskan adalah dengan makna beribadah. Semua ulama bersepakat bahwa beribadah kepada Nabi Muhammad SAW adalah Syirik, berbeda dengan beribadah kepada Allah dengan melalui Nabi Muhammad yang malah disyariatkan. Muhammad bin Abdul Wahab Tentang Hukum Tawasul Berbeda dengan pengikutnya mengenai hukum tawasul yang menghukumi syirik kepada orang yang bertawasul dengan Nabi SAW dan orang Sholeh, ternyata pendiri Wahabi Muhammad bin Abdul Wahab manganggap masalah tentang hukum tawasul adalah masalah ijtihadiyah yang tidak perlu diperselisihkan. Dalam kumpulan tulisannya, disebutkan bahwa beliau pernah berfatwa: "Mengenai adanya sebagian ulama yang memperbolehkan untuk bertawasul dengan orang-orang sholeh dan sebagian lain yang hanya mengkhususkan kebolehan itu dengan Nabi SAW saja, maka mayoritas ulama melarangnya dan tidak menyukainya. Ini merupakan satu masalah fiqih walaupun pendapat yang benar menurut kami adalah pendapat jumhur yang menyatakan bahwa bertawasul adalah makruh. Namun kami tidak mengingkari orang yang melakukannya karena tidak ada ingkar atas permasalahan- permasalahan ijtihadiyah. Namun pengingkaran kami hanya ditujukan bagi orang yang berdoa kepada makhluk dengan lebih mengagungkannnya daripada kita menyeru kepada Allah".( Majmu Mualafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab juz 2, hal 41 cetakan Darul Qasim ) Pernyataan beliau keliru dalam hal bahwa jumhur ulama tidak menyukai tawasul dengan Nabi SAW dan orang sholeh, sebab kenyataannya justru para ulama sepakat menganggap hal itu baik. Namun sikap beliau tentang tawasul jelas itu adalah masalah ijtihadiyah. Muhammad bin Abdul Wahab tidak mengingkari tawasul. Yang beliau ingkari adalah jika seorang mengagungkan orang sholeh lebih daripada pengagungannya kepada Allah SWT. Tidak ada seorang muslim pun yang bertawasul dengan menganggap wasilahnya lebih agung dari Allah SWT. Jika Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab tidak pernah mengingkari bertawasul dengan Nabi maupun orang Shaleh, dari mana kaum Wahabi mendapat ajaran yang menganggap syirik orang yang bertawasul? - Arti Tawasul dan Hukum Tawasu
Memahami Tawassul Kita diperbolehkan melakukan tawassul yang syar'i karena ini merupakan suatu bentuk ibadah kepada Allah yang sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita shallallahu'alaihi wa sallam. Namun jelas kita juga dilarang dari melakukann berbagai bentuk tawassul yang bid'ah apalagi syirik yang ini pun juga sudah tersebar dan menjadi kebiasan bagi sebagian orang. Mereka menganggap dirinya sedang beribadah dan memohon ridha-Nya namun ternyata sebaliknya, murka Allah-lah baginya. Waliyyadzubillah. Dengan itu maka kita akan mulai mengkaji apa sebenarnya makna tawassul itu dan bagaimana yang disyari'atkan serta yang bagaimana yang terlarang. Tentunya agar kita tidak terjerumus ke dalamnya tanpa kita sadari karena kejahilan pada diri kita. By Redaksi Muslimah.Or.Id July 20, 2010 0 66 62 Pembaca muslimah yang semoga dirahmati Allah, tawassul adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, mengikuti petunjuk Rasul-Nya dan mengamalkan seluruh amalan yang dicintai dan di ridhai-Nya, lebih jelasnya adalah kita melakukan suatu ibadah dengan maksud mendapatkan keridhaan Allah dan surga-Nya. Tentu saja ini merupakan bentuk ibadah kepada Allah yang sering kali kita lakukan dalam kehidupan kita namun perlu diketahui bahwa tidak sedikit pula orang yang terjerumus kedalam tawassul yang itu sama sekali tidak di syari’atkan di dalam agama Islam. Ada sebagian orang yang mentakwil hadits-hadits tentang tawassul dengan berdasarkan akal pemikiran dan hawa nafsu belaka. Sehingga muncullah berbagai bentuk tawassul yang sama sekali tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam bahkan merupakan kesyirikan yang besar. Untuk itulah disini kita akan membahas tentang berbagai macam bentuk tawassul yang sudah tersebar bahkan di lingkungan sekitar kita. Kita diperbolehkan melakukan tawassul yang syar’i karena ini merupakan suatu bentuk ibadah kepada Allah yang sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita shallallahu’alaihi wa sallam. Namun jelas kita juga dilarang dari melakukann berbagai bentuk tawassul yang bid’ah apalagi syirik yang ini pun juga sudah tersebar dan menjadi kebiasan bagi sebagian orang. Mereka menganggap dirinya sedang beribadah dan memohon ridha-Nya namun ternyata sebaliknya, murka Allah-lah baginya. Waliyyadzubillah. Dengan itu maka kita akan mulai mengkaji apa sebenarnya makna tawassul itu dan bagaimana yang disyari’atkan serta yang bagaimana yang terlarang. Tentunya agar kita tidak terjerumus ke dalamnya tanpa kita sadari karena kejahilan pada diri kita. Pengertian Tawassul Tawassul adalah mengambil sarana/ wasilah agar do’a atau ibadahnya dapat lebih diterima dan dikabulkan. Al-wasilah menurut bahasa berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il ( An- Nihayah fil Gharibil Hadiit wal Atsar :v/185 Ibnul Atsir). Sedang menurut istilah syari’at, al-wasilah yang diperintahkan dalam al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala, yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. ( Tafsir Ath-Thabari IV/567 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103) ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍْ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍْ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻭَﺍﺑْﺘَﻐُﻮﺍْ ﺇِﻟَﻴﻪِ ﺍﻟْﻮَﺳِﻴﻠَﺔَ ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍْ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diti kepadaNya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (Qs.Al-Maidah:35) Mengenai ayat diatas Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkata,”Makna wasilah dalam ayat tersebut adalah al-qurbah (peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah).” Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, Ibnu Wa’il, al-Hasan, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan yang lainnya. Qatadah berkata tentang makna ayat tersebut,”Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang di ridhoi- Nya.” ( Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari IV/567 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103). Adapun tawassul (mendekatkan diri kepada Allah dengan cara tertentu) ada tiga macam: tawassul sunnah, tawassul bid’ah, dan tawassul syirik. Tawassul Sunnah Pertama : Bertawassul dengan menyebut asma’ul husna yang sesuai dengan hajatnya ketika berdo’a. Allah Ta’ala berfirman, “Hanya milik Allah-lah asma’ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjaan.” (Qs.Al-A’raf:180) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam do’anya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau menamakan diriMu dengan nama-nama tersebut, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang hambaMu, atau yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang masih tersimpan di sisi- Mu.” (HR.Ahmad :3712) Kedua : Bertawassul dengan sifat- sifat Allah Ta’ala. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam do’anya, “Wahai Dzat Yag Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, hanyadengan RahmatMu lah aku ber istighatsah, luruskanlah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun sekejap mata.” (HR. An-Nasa’i, Al-Bazzar dan Al-Hakim) Ketiga : Bertawassul dengan amal shalih Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab shahih muslim, sebuah riwayat yang mengisahkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalih mereka. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya berupa memelihara hak buruh. Orang ke dua bertawassul dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Sedangkan orang ke tiga bertawassul dengan takutnya kepada Allah Ta’ala, sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak dia lakukan. Akhirnya Allah Ta’ala membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghaanginya, hingga mereka bertiga pun akhirnya selamat. (HR.Muslim 7125) Keempat : Bertawassul dengan meminta doanya orang shalih yang masih hidup . Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa ada seorang buta yang datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar menyembuhkanku (sehingga aku bisa melihat kembali).” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjawab , “Jika Engkau menghendaki aku akan berdoa untukmu. Dan jika engkau menghendaki, bersabar itu lebih baik bagimu.” Orang tersebut tetap berkata,”Do’akanlah.” Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyuruhnya berwudhu secara sempurna lalu shalat dua raka’at, selanjutnya beliau menyuruhnya berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan aku menghadap kepada-Mu bersama dengan nabi-Mu, Muhammad, seorang nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap bersamamu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar Dia memenuhi untukku. Ya Allah jadikanlah ia pelengkap bagi (doa)ku, dan jadikanlah aku pelengkap bagi (doa)nya.” Ia (perawi hadits) berkata,”Laki-laki itu kemudian melakukannya, sehingga dia sembuh.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi) Kelima : Bertawassul dengan keimanannya kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, ﺭَّﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻨَﺎ ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻣُﻨَﺎﺩِﻳﺎً ﻳُﻨَﺎﺩِﻱ ﻟِﻺِﻳﻤَﺎﻥِ ﺃَﻥْ ﺁﻣِﻨُﻮﺍْ ﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْ ﻓَﺂﻣَﻨَّﺎ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﺫُﻧُﻮﺑَﻨَﺎ ﻭَﻛَﻔِّﺮْ ﻋَﻨَّﺎ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَﺗَﻮَﻓَّﻨَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻷﺑْﺮَﺍﺭِ “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu),’Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’. Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan- kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” (Qs.Ali-Imran:193) Keenam: Bertawassul dengan ketauhidannya kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, ﻭَﺫَﺍ ﺍﻟﻨُّﻮﻥِ ﺇِﺫ ﺫَّﻫَﺐَ ﻣُﻐَﺎﺿِﺒﺎً ﻓَﻈَﻦَّ ﺃَﻥ ﻟَّﻦ ﻧَّﻘْﺪِﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻨَﺎﺩَﻯ ﻓِﻲ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺃَﻥ ﻟَّﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧﺖَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺇِﻧِّﻲ ﻛُﻨﺖُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻓَﺎﺳْﺘَﺠَﺒْﻨَﺎ ﻟَﻪُ ﻭَﻧَﺠَّﻴْﻨَﺎﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻢِّ ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧُﻨﺠِﻲ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersemptnya (menyulitkannya). Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap,’bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disebah) selain Engkau, maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikian Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Qs.Al-Anbiya:87-88) *** Tawassul Bid’ah Pertama : Tawassul dengan kedudukan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam atau kedudukan orang selain beliau. Dalam shahih Bukhari terdapat hadits, “Dari Anas bin Malik, bahwasannya Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu jika terjadi kekeringan, maka beliau berdo’a agar diturunkan hujan dengan bertawassul melalui perantaraan (do’a) Al-‘Abbas bin Abdul Muthallib. Umar berkata,’Ya Allah dahulu kami bertawassul dengan nabi kami hingga Engkau menurunkan hujan kepada Kami. Dan sekarang kami bertawassul dengan paman nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami’. Kemudian turunlah hujan.” (HR.Bukhari: 1010) Maksud bertawassul dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bukanlah “Bertawassul dengan menyebut nama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam atau dengan kedudukannya sebagaimana persangkaan sebagian orang. Akan tetapi maksudnya adalah bertawassul dengan do’a Nabi shallallahu’alaihi wa sallam . Oleh karena itu ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah wafat, para sahabat tidak bertawassul dengan nama atau keddukan Nabi, akan tetapi bertawassul dengan doa paman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam –yaitu ‘Abbas- yang saat itu masih hidup. Kedua : Bertawassul dengan cara menyebutkan nama atau kemuliaan orang shalih ketika berdo’a kepada Allah Ta’ala. Ini adalah bid’ah bahkan perantara menuju kesyirikan. Contoh,”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan Syaikh Abdul Qadir Jailani, ampunilah aku.” Ketiga : Bertawassul dengan cara beribadah kepada Allah Ta’ala di sisi kubur orang shalih. Ini merupakan bid’ah yang diada-adakan, dan bahkan merupakan perantara menuju kesyirikan. *** Tawassul Syirik Tawassul yang syirik adalah menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam beribadah seperti berdoa kepada mereka, meminta hajat, atau memohon pertolongan kepada mereka. Contoh,”Ya Sayyid Al- Badawi, mohonlah kepada Allah untuk kami”. Perbuatan ini merupakan syirik akbar dan dosa besar yang paling besar, meskipun mereka menamakannya dengan “tawassul”. Hukum syirik ini dilihat dari hakikatnya yaitu berdo’a kepada selain Allah. Penulis: Ummu Yusuf Nur Indah Sari Muroja’ah: Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal Maraji': Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah , Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Mutiara Faedah Kitab Tauhid , Abu Isa Abdullah bin Salam. Khudz ‘Aqidataka minal Kitabi wa Sunnatis Shahihi , Muhammad bin Jamil Zainu. Buletin At-Tauhid , Jogjakarta.

Sabtu, 27 Juni 2015

BAHAGIA ITU SEDERHANA. BENARKAH???

BAHAGIA ITU SEDERHANA. BENARKAH???

Aku adalah perempuan yang selalu berpikir bahwa hidup ini adalah pindah dari satu ujian ke ujian yang lain, pindah dari satu masalah ke masalah yang lain, dan pindah dari satu hikmah ke hikmah yang lain, yang berarti bahwa setiap tingkatan kehidupan itu pasti ada ujiannya, untuk menjadi sabar aku harus merasakan marah, untuk menjadi ikhlas aku harus rela kehilangan apa-apa yang kucintai, untuk mencapai level tawakal aku harus dihempaskan oleh keadaan dimana semua doa ditunda untuk dikabulkan.Semua yang terjadi di kehidupan ini mengandung hikmah dan pelajaran berharga.Tidak ada yang terjadi tanpa sepengetahuan-Nya. Semua cerita memiliki kisah, semua kisah memiliki akhir, dan akhir itu bisa mengawali kebahagiaan...Kamu tahu? Terkadang sebagian orang berpikir bahwa kebahagiaan itu harus diraih dengan segala cara dan pengorbanan yang berat. Tapi sebagian dari mereka berpikir bahagia itu tidak selamanya sulit untuk diraih. Bahagia itu sederhana ketika kita bisa menganggap hal sekecil apapun dalam hidup ini merupakan secuil kebahagiaan yang diberikan Sang Pencipta. Tapi tak semudah itu juga. Mereka bahkan saya pun terkadang terlalu angkuh untuk mengakui bahwa bahagia itu sederhana.Ketika aku melintasi jalan dan melihat anak kecil yang polos, jujur dan apa adanya.. yang bisa berkata jujur tanpa beban, mengatakan semua hal yang ada dipikirannya,  tidak menutupi apapun, menangis, bahagia tanpa beban.. Kita bahagia melihat hal itu, dan kita ingin seperti mereka.. Bisakah?Ketika semua masalah yang terjadi bertubi-tubi datang menghampiri dan terselesaikan dengan baik, ya , untuk sesaat kita bisa bahagia..Ketika orang-orang yang kita sayangi bahagia, bahagia karena kita, tersenyum untuk kita.. bahagia melihat kita sukses... Itulah kebahagiaan yang paling besar yang ada dimuka bumi ini..Kebahagian orang-orang yang kita sayang adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup kita.. Bahagia melihat mereka bahagia, serasa ingin menghentikan waktu dan terlarut dalam kehangatan itu..Ketika kita menutup mata, menghirup udara secara perlahan dan melepaskan semua penat sejenak.. Dan ketika kita melihat hamparan langit biru dan percikan awan yang menyejukkan mata, menenangkan, kita merasakan kebahagiaan, kebahagiaan hidup yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.. Yang menciptakan sosok kuat dan tangguh, dan itu kita :) Dan saat itulah kita merasa lupa bersyukur, bersyukur untuk hal-hal kecil, bersyukur untuk semua nikmat yang telah diberikan-Nya, bersyukur terhadap kehidupan yang penuh liku..

Terkadang kebahagiaan itu berliku tapi
terkadang juga itu sederhana. Dibalik lika
liku kehidupan, selalu terselip bahagia Ya,
semuanya tergantung kita…

Wayang Potehi

Wayang Potehi merupakan salah satu
jenis wayang khas Tionghoa yang
berasal dari Tiongkok bagian selatan.
Kesenian ini dibawa oleh perantau
etnis Tionghoa ke berbagai wilayah
Nusantara pada masa lampau dan
telah menjadi salah satu jenis
kesenian tradisional Indonesia.
Sejarah
Potehi berasal dari kata pou 布 (kain)
, te 袋 (kantong) dan hi 戯 (wayang).
Wayang Potehi adalah wayang
boneka yang terbuat dari kain. Sang
dalang akan memasukkan tangan
mereka ke dalam kain tersebut dan
memainkannya layaknya wayang jenis
lain. Kesenian ini sudah berumur
sekitar 3.000 tahun dan berasal dari
Tiongkok .
Menurut legenda , seni wayang ini
ditemukan oleh pesakitan di sebuah
penjara. Lima orang dijatuhi hukuman
mati. Empat orang langsung bersedih,
tapi orang kelima punya ide
cemerlang. Ketimbang bersedih
menunggu ajal, lebih baik menghibur
diri. Maka, lima orang ini mengambil
perkakas yang ada di sel seperti
panci dan piring dan mulai
menabuhnya sebagai pengiring
permainan wayang mereka. Bunyi
sedap yang keluar dari tetabuhan
darurat ini terdengar juga oleh kaisar,
yang akhirnya memberi
pengampunan.
Menurut sejarah , diperkirakan jenis
kesenian ini sudah ada pada masa
Dinasti Jin 晉朝 (265-420 Masehi)
dan berkembang pada Dinasti Song
宋朝 (960-1279). Wayang Potehi
masuk ke Indonesia (dulu Nusantara )
melalui orang-orang Tionghoa yang
masuk ke Nusantara pada sekitar
abad 16 sampai 19. Data yang sahih
berupa catatan awal tentang wayang
Potehi di Indonesia, berasal dari
seorang Inggris bernama Edmund
Scott. Dia pergi ke Banten 2 kali,
antara 1602 dan 1625. Ia
menyebutkan, pertunjukan sejenis
opera , yang diselenggarakan bila
jung-jung akan berangkat ke atau
bila kembali ke Tiongkok . Ia
mengamati dengan teliti, bahwa
pertunjukan ini berhubungan dengan
penyembahan dan bahwa biarawan-
biarawan mempersembahkan kurban,
dan bersujud di tanah sebelum
persiapan. Scott menuliskan
bahwa "mereka sangat menyukai
sandiwara dan nyanyian, tapi suara
mereka adalah yang paling jelek yang
akan didengar orang. Sandiwara atau
selingan itu mereka selenggarakan
sebagai kebaktian kepada dewa-
dewa mereka: pada permulaannya,
mereka lazim membakar kurban, para
pendetanya berkali-kali berlutut, satu
demi satu. Sandiwara ini biasa
diadakan, apabila mereka melihat
jung atau kapal berangkat dari
Banten ke Tiongkok. Sandiwara ini
kadang-kadang mulai pada tengah
hari dan baru berakhir keesokan
paginya, biasanya di jalan terbuka, di
panggung yang didirikan untuk
maksud itu."
Penjelajah-penjelaja­h 1-2 abad
kemudian menggambarkan bahwa
teater ini yang asli dari Tiongkok,
sudah mapan di masyarakat-
masyarakat perantau di kota utama
pada masa itu. Sayangnya, hanya
sedikit keterangan bahasa yang
dipakai dalam pertunjukan itu. Juga
tidak terdapat teater boneka sarung
dari Fujian Selatan, yang dikenal
dengan nama po-te-hi , yang kini
masih ada di Jawa Timur dan Jawa
Tengah. Pada abad ke-18, seorang
Jerman yang bernama Ernst
Christoph Barchewitz (yang tinggal
selama 11 tahun di Jawa)
menunjukkan bahwa ketika ia
melihatnya di Batavia pertunjukan-
pertunjukan ini diselenggarakan
dalam bahasa Tionghoa .
Bukan sekadar seni pertunjukan,
Wayang Potehi bagi etnik Tionghoa
memiliki fungsi sosial serta ritual.
Tidak berbeda dengan wayang-
wayang lain di Indonesia.
Beberapa lakon yang sering
dibawakan dalam Wayang Potehi
adalah Si Jin Kui 薛仁貴 (Ceng Tang
征東 dan Ceng Se 征西), Hong Kiam
Chun Chiu 鋒劍春秋, Cu Hun Cau Kok
慈雲走國, Lo Thong Sau Pak 羅通掃北
dan Pnui Si Giok 方世玉. Setiap
wayang bisa dimainkan untuk
pelbagai karakter, kecuali Koan Kong
關公, Utti Kiong 尉遲恭, dan Thia Kau
Kim 程交金, yang warna mukanya
tidak bisa berubah.
Lakon
Dulunya Wayang Potehi hanya
memainkan lakon-lakon yang berasal
dari kisah klasik Tiongkok seperti
legenda dinasti-dinasti yang ada di
Tiongkok, terutama jika dimainkan di
kelenteng . Akan tetapi saat ini
Wayang Potehi sudah mengambil
cerita-cerita di luar kisah klasik
seperti novel Se Yu 西遊記
(Pilgrimage to the West) dengan
tokohnya Kera Sakti yang tersohor itu.
Pada masa masuknya pertama kali di
Nusantara , wayang potehi dimainkan
dalam dialek Hokkian. Seiring dengan
perkembangan zaman, wayang ini
pun kemudian juga dimainkan dalam
bahasa Indonesia . Oleh karena itu
para penduduk non-Tionghoa pun
bisa menikmati cerita yang
dimainkan.
Menariknya, ternyata lakon-lakon
yang kerap dimainkan dalam wayang
ini sudah diadaptasi menjadi tokoh-
tokoh di dalam ketoprak . Seperti
misalnya tokoh Si Jin Kui 薛仁貴
yang diadopsi menjadi tokoh Joko
Sudiro. Atau jika Anda penggemar
berat ketoprak, mestinya tidak asing
dengan tokoh Prabu Lisan Puro yang
ternyata diambil dari tokoh Li Si Bin
李世民, kaisar kedua Dinasti Tong 唐
朝 (618-907).
Alat musik Wayang Potehi terdiri atas
gembreng/lo 鑼 , kecer/simbal 鑔
cheh dan 鈸 puah, suling/phin-a 笛
仔 , ( gitar/gueh-khim 月琴 ), rebab/
hian-a 絃仔 , tambur/kou 鼓 ,
terompet/ai-a 噯仔 , dan piak-kou 逼
鼓 . Alat terakhir ini berbentuk silinder
sepanjang 5 sentimeter, mirip
kentongan kecil penjual bakmi, yang
jika salah pukul tidak akan
mengeluarkan bunyi "trok"-"trok"
seperti seharusnya.

Perkembangan
Wayang Potehi di Museum Wayang ,
Jakarta.
Tahun 1970-an sampai tahun 1990-
an bisa dikatakan masa suram bagi
Wayang Potehi. Itu dikarenakan
tindakan represif penguasa pada
masa itu terhadap budaya Tionghoa.
Padahal nilai-nilai budaya yang
dibawa serta oleh orang Tionghoa
sejak berabad-abad lalu telah
tumbuh bersama budaya lokal dan
menjadi budaya Indonesia. Dalam
masa suram itu, Wayang Potehi
seolah mengalami pengerdilan.
Sangat sulit menemukan
pementasannya saat itu. Apalagi jika
bukan karena sulitnya mendapat
perizinan. Padahal jika diamati para
penggiat Wayang Potehi sebagian
besar adalah penduduk asli
Indonesia. Bayangkan, betapa besar
apresiasi mereka terhadap budaya
yang bisa dikatakan bukan budaya
asli Indonesia . Namun setelah
reformasi berjalan, angin segar
seolah menyelamatkan kesenian ini.
Wayang Potehi bisa dipentaskan
kembali dan tentu saja tidak dengan
sembunyi-sembunyi.
KAMUS ISTILAH ASTRONOMI ILMU FALAQ.


1. ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ
Ijtima'
Adalah keadaan dimana Matahari dan
Bulan dalam satu bujur astronomi yang
sama yang dalam istilah Astronomi disebut
KONJUNGSI atau NEW MOON. Ijtima' oleh
para ahli hisab di jadikan pedoman untuk
menentukan masuknya bulan baru
Qomariyah. Dalam Ilmu Hisab di sebut juga
dengan IJTIMA'UN NAYYIROIN.
2. ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ
'Alamah
Adalah petunjuk waktu terjadinya IJTIMA'
yang di tentukan berdasarkan waktu rata -
rata untuk menjadi acuan dalam
mendapatkan waktu ijtima' yang sebenarnya
( AL ' ALAMAH ALMU'ADDALAH ), yang di
nyatakan dengan hari, jam, menit, dan detik.
3. ﺍﻟﺤﺼﺔ
Khisshoh
Yaitu busur pada falak bulan di hitung dari
UQDAH ( titik simpul ) sampai ke titik
tempat bulan berada. Atau dengan kata lain
tenggang waktu atau jarak yang harus di
perhitungkan dari kedudukan benda langit
yang satu ke kedudukan benda langit yang
lain, atau dari saat tertentu ke saat yang
lain.
4. ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ
Khosshoh
Atau KHOSSHOTUL QOMAR yaitu busur
sepanjang ekliptika yang di ukur dari Bulan
hingga titik Aries sebelum bergerak, atau
dengan kata lain gerak bulan sepanjang
lintasannya di hitung dari titik ARIES
sesudah di koreksi dengan AUJnya.
5. ﺍﻟﻤﺮﻛﺰ
Almarkaz
Adalah titik pusat suatu lingkaran atau
bola, termasuk juga benda langit. Dalam
istilah ilmu Falak adalah kedudukan titik
pusat suatu benda langit yang bergerak pada
lintasannya, lintasan ini di hitung sepanjang
ekliptika dari titik ARIES dengan arah
rektrogad atau tawali.
6. ﺃﻭﺝ
Auj
Adalah titik terjauh pada orbit benda langit
dari benda yang di orbitinya di sebut juga
APHELIUM atau APOGEE. Suatu benda langit
yang mengorbit tidak lah membentuk
lingkaran tapi ELIPS, oleh karena itu ada
kalanya pada posisi terdekat dan terkadang
pada titik terjauh yang di sebut AUJ.
7. ﺑﺮﺝ
Buruj
Adalah kelompok-kelompok bintang yang
terdapat pada lingkaran Ekliptika sebanyak
12 bagian yang masing-masing berjarak
30°.
8. ﺍﺭﺗﻔﺎﻉ
Irtifa'
Adalah busur sepanjang lingkaran vertikal
yang melalui benda langit yang di hitung
dari ufuq hingga benda langit tersebut.
Ketinggian benda langit di nyatakan positif
bila berada di atas ufuq (irtifa'), dan di
nyatakan negatif bila berada di bawah ufuq
(inkhifadl).
9. ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻻﺭﺗﻔﺎﻉ
Ghoyatul irtifa'
Adalah busur pada lingkaran Meridian
langit yang di hitung dari ufuq hingga ke titik
KULMINASI benda langit yang berada pada
lingkaran meridian itu.
10. ﺍﻟﻤﻜﺚ
Almuktsu / mukuts
Adalah jarak sepanjang lintasan harian
bulan di ukur dari titik terbenamnya sampai
bulan itu sendiri pada saat matahari
terbenam.
11. ﺣﻤﻞ
Khaml = Aries
Titik khaml adalah titik potong antara
Lingkaran Ekliptika dengan Lingkaran
Ekuator yang terjadi pada saat peredaran
Matahari dari selatan ke utara. Menurut
astronomi dinamakan titik ARIES.
12. ﻣﻘﻮﻡ ﺍﻟﺸﻤﺲ
Muqowwamus syams
Adalah busur pada lingkaran Ekliptika
yang di ukur dari titik Khaml sampai dengan
tempat kedudukan Matahari, yang dalam
ilmu Astronomi disebut TRUE LONGITUDE.
Muqowwamus syams terkadang di sebut
juga dengan THULUSY SYAMS atau
TAQWIM.
13. ﺍﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﻤﻨﻈﺮ
Ikhtilaful Mandlor
Adalah beda lihat antara dua garis yang di
tarik dari benda langit ke titik pusat bumi
dan garis yang di tarik dari benda langit ke
mata peninjau, perbedaan ini di sebut juga
dengan PARALLAX, GEOCENTRIC PARALLAX
atau DIURNAL PARALLAX.
DZURRIAH KHAMDANY di 23.00
KAMUS ISTILAH ASTRONOMI DAN ILMU
FALAK

BAHAGIA ITU SEDERHANA DAN SIMPEL.

BAHAGIA ITU SEDERHANA DAN SIMPEL.


Bahagia itu Sederhana - Sebelumnya saya
ucapkan terimakasih buat yang telah
membuat foto kebahagiaan ini yang saya
temui di google dan handphone saya.
Sungguh sebuah motivasi buat saya bahwa
memang benar Bahagia itu sangat
sederhana.
Apakah arti bahagia adalah suatu keadaan
pikiran atau perasaan yang ditandai dengan
kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan,
atau kegembiraan? Ada yang beranggapan
arti bahagia itu relatif. Ia berubah-ubah dan
berbeda antara seorang individu dengan yang
lain. Bagi yang sakit, sehat itu dirasakan
bahagia. Tetapi apabila sudah sehat,
kebahagiaan itu bukan pada kesehatan lagi.
Sudah beralih kepada perkara yang lain lagi.
Bagi golongan ini kebahagiaan itu adalah
satu “moving target” yang tidak spesifik
artinya.
Ada pula golongan pesimis. Mereka
beranggapan bahawa tidak ada bahagia di
dunia ini. Hidup adalah untuk menderita.
Manusia dilahirkan bersama tangisan, hidup
bersama tangisan dan akan dihantar ke kubur
dengan tangisan. Bahagia adalah satu utopia,
ilusi atau angan-angan. Ia tidak berwujud
dalam realiti dan kenyataan.
Sahabat.....anda dihadapkan
di kehidupan ini antara ingin bahagia atau
tidak. Mungkin juga bahagia tersebut adalah
suatu pilihan hidup yang akan kita jalani.
Pada jaman sekarang katagori bahagia
ditempatkan dimana keinginan tercapai
dengan segala sesuatu yang disebut dengan
UANG . Padahal bahagia itu bisa kita
dapatkan tanpa modal sekalipun, tergantung
dari diri anda sahabat
menanggapinya karena Bahagia itu
Sederhana. Pikiran kita tenang, bangun pagi
kita terasa sangat nyaman, ada sahabat dan
keluarga di sekitar kita.
KETIKA MAU MENIKAH
Janganlah mencari isteri tapi carilah ibu bagi
anak-anak. Jangan cari suami tetapi carilah
ayah bagi anak anak
KETIKA MAU MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang
tua Tetapi minta kepada TUHAN melalui
orang tua
KETIKA AKAD NIKAH
Anda bukan nikah di depan hukum tetapi
nikah di depan Tuhan
KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang hadir dan
mendoakan anda Dan berfikirlah untuk
meminta maaf kepada mereka apabila anda
Ingin bercerai
KETIKA Malam pertama
bersyukur dan berbahagialah bahwa anda
sepasang anak manusia bukan malaikat
KETIKA Menempuh hidup berkeluarga
sadarilah bahwa jalan yang akan anda
tempuh bukan jalan yang bertabur bunga
tetapi jalan yang penuh onak dan duri
KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM
MEMBAIK
Yakinkan bahwa pintu rizki akan terbuka
lebar
Berbanding lurus dengan tingkat ketaaatan
suami isteri
KETIKA KETIKA EKONOMI BAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang
setia Mendampingi kita disaat menderita
KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh berrmanja-manja kepada isteri Tapi
jangan lupa tanggungjawabnya
KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah
lembut Tapi selalu berhasil menyelesaikan
semua pekerjaan
KETIKA Telah nikah dan belum memiliki
anak,
cintailah isteri atau suami anda seratus
persen
KETIKA Telah memiliki anak
jangan bagi cinta anda kepada suami, istri
dan anak akan tetapi cintailah masing-
masing seratus persen
KETIKA Biduk rumah tangga sedang oleng
Jangan saling berlepas tangan tapi
sebaliknya semakin erat berpegang tangan
KETIKA Mendidik anak
jangan berfikir orang tua yang baik adalah
orang tua yang tidak pernah marah akan
tetapi orang tua yang baik adalah orang tua
yang jujur kepada anak
KETIKA Anak bermasalah
Yakinkan bahwa tidak ada anak yang tidak
mau bekerjasama dengan orang tua yang ada
adalah anak yang merasa tidak didengar oleh
orang tuanya
KETIKA Ada PIL Jangan diminum cukuplah
suami sebagai obat
KETIKA Ada WIL Jangan turuti cukuplah isteri
sebagai pelabuhan hati
Jadi sahabat  Bahagia itu
Simpel yang kita butuhkan hanya Ketaqwaan,
Kasih sayang, Kesetiaan, Komunikasi,
Keterbukaan, Kejujuran dan kesabaran.
Semoga dengan artikel ini sahabat
lebih merasa bahagia
dengan apa yang ada didepan anda. Silahkan
dishare dengan sahabat dan keluarga anda.

KONSEP BAHAGIA

KONSEP BAHAGIA
Pengertian Kebahagiaan
Secara etimologi kebahagiaan berarti
keadaan senang, tentram; terlepas dari
segala yang menyusahkan.sehingga­,
kebahagiaan adalah suatu keadaan yang
berlangsung, bukanlah suatu perasaan atau
emosi yang berlalu.
Kebahagiaan berasal dari kata Sanskerta,
yaitu bhagya yang berate jatah yang
menyenangkan. Bahagian juga diartikan
dengan keberuntungan. Dengan
demikian,kebahagiaan­ berarti suatu kondisi
sejahtera, yang ditandai dengan keadaan
yang relative tetap, dibarengi keadaan emosi
yang secara umum gembira, mulai dari
sekedar rasa suka sampai dengan
kegembiaraan menjalani kehidupan, dan
adanya keinginan alamiah untuk melanjutkan
keadaan ini. Dalam perspektif ini bahagia
pada dasarnya adalah berkaitan dengan
kondisi kejiwaan manusia.
Menurut Aristoteles, kebahagiaan itu dapat
dibagi menjadi lima bagian, yaitu :
Pertama, kebahagiaan yang terdapat pada
kondisi sehat badan dan kelembutan indrawi.
Kedua, kebahagiaan karena mempunyai
sahabat. Ketiga, kebahagiaan karena
mempunyai nama baik dan termasyhur.
Keempat, kebahagiaan karena sukses dalam
berbagai hal. Kelima, kebahagiaan karena
mempunyai pola piker yang benar dan punya
keyakinan yang mantap.
Dengan tercapainya kelima hal ini, menurut
Aristoteles barulah manusia akan mencapai
bahagia yang sempurna.
Sedangkan bagi filosof sebelum Aristoteles,
seperti Phytagoras, Sokrates dan Plato,
kebahagiaan hanya bias dicapai oleh jiwa
saja. Oleh karenanya, ketika mengklasifikasi
kan bahagia mereka hanya membatasi pada
fakultas-fakultas jiwa saja; seperti kearifan,
keberanian, kesederhanaan dan keadilan.
Kebahagiaan hanya akaan berkurang jika
manusia mempunyai pikiran yang lemah.
Dengan demikian, kemiskinan, nama baik,
wibawa ataupun kekurangan lain diluar
badan tidak akan merusak nilai kebahagiaan.
Jika diikuti konsepsi ini tentu akan menjadi
persoalan yang cukup rumit, karena
bagaimanapun juga tubuh adalah bagian dari
diri manusia, begitu juga dengan lingkungan
akan berpengaruh terhadap pola hidup
manusia. Oleh sebab itu, pada dasarnya
kesempurnaan bahagia itu akan tergantung
juga pada kesempurnaan badan dan hal-hal
yang berada diluarnya, sebagai factor
pendukung.
Dari uraiana diatas, terlihat bahwa pada
prinsipnya kebahagiaan tidak berada diluar
badan, tapi berada di dalam diri manusia,
yaitu dengan memungsikan potensi yang
dimilikinya, melalui sarana-sarana yang
menjadi objek pikiran. Artinya, untuk
tercapainya bahgia sangat tergantung kepada
cara manusia itu menyikapi hidup ini, bukan
bagaimana hidup memberlakukan manusia.
Namun, kebahagiaan di atas baru sebatas
kebahagiaan duniawi dan defeniasi bahagia
itu sendiri sukar untuk dirumuskan secara
utuh karena ia terkait dengan orang atau
subjek yang menjelaskannya.
KEBAHAGIAAN MENURUT PEMIKIR ISLAM
1. Ibn Maskawaih
Terlebih dahulu membuat perbedaan antara
kebaikan dengan kebahagiaan. Menurutnya,
kebaikan itu sifatnya umum, dan merupakan
tujuan dari sesuatu sedangkan kebahagiaan
merupakan akhir dari kebaikan, dalam
kaitannya dengan pemiliknya dan merupakan
kesmepurnaan bagi pemiliknya. Sehingga ia
bersifat relative berbeda menuut orang yang
mengupayakannya dan esensinya tidak pasti.
Dengan demikian, menurut Ibn maskawaih,
kebahagiaan adalah kebaikan yang paling
utama dan sempurna diantara seluruh
kebaiakn serta menjadi tujuan akhir dari
kebaikan.mengenai kebahagiaan sempurna,
Ibn Maskawaih berpendapat bahwa bahagia
sempurna atau tertinggi dapat diraih ketika
manusia dapat menyatukan antara kebutuhan
jasmani dan ruhaniyah—yang dia istilahkan
dengan alam rendah dan alam tinggi.
Namun jika tidak mencapai dari dua
tingkatan itu makan manusia berada pada
derajat binatang, karena kebaikan itu tidak
ada pada binatang dan ia tidak diberikan
kemampuan mencapai tingkatan-tingkatan
itu, sedangkan manusia diseur dan diberi
bekal untuk itu, tetapi manusia lebih suka
kepada hala-hal yang lebih rendah. Oleh
karena itu, kebahagiaan manusia itu ada
yang sempurna dan ada yang tidak.
Menurutnya, seseorang dapat mencapai
kebahagiaan di dunia ini apabila mempunyai
sifat sebagai berikut : tidak keberatan
berpisah dengan yang dicintainya di dunia;
tidak bersedih hati karena tidak mendapat
kesenangan duniawi; memandang tubuh,
harta dan semua kenikmatan duniawi tidak
lebih dari sekedar bebab duniawi , kecuali
jika dibutuhkan untuk menjaga badannya;
rindu berkumpul dengan ruh-ruh yang baik
dan para malaikat terpilih; tidak melalkukan
sesuatu kecuali jika dikehendaki Allah;
memilih sesuatu yang akan mendekatkannya
dengan Allah; tidak terjerat dengan tipu daya
hawa nafsu; tidak berduka lara atas
kegagalannya memenuhi keinginannya.
Menurut Mulyadi Kartanegara—salah seorang
doctor di bidang filsafat lulusan Universitas
Chicago—berdasarkan anilisisnya terhadap
karya-karya Ibn Maskawaih, menyimpulkan
bahwa terdapat lima macam jenjang
kebahagiaan yang diperoleh dan dirasakan
manusia. Pertama, jenjang kebahagiaan fisik
atau sensual, yang biasa disebut dengan
kesenangan, kebahagiian jenis ini sering
dipandang sebagai satu-satunya
kebahagiaan. Oleh karena itu sering keluar
ungkapan “kalau sudah kaya she pati kita
bahgia”, dan yang dimaksud kaya disini
adalah kaya harta atau materi. Kedua,
jenjang kedua adalah kebahagiaan mental,
kebahagiaan yang mungkin barangkali tidak
bisa dilepaskan dari indra lahir, tetapi
uamanya tentu indra batin. Ketiga, jenjang
kebahagiaan intelektual, yaitu kebahagiaan
manusia yang diperoleh dari ilmu
pengetahuan. Oleh karena itu, selama kita
memiliki ilmu, selama itu pula kita
merasakan kebahagiaan. Keempat, jenjang
kebahagian moral, yaitu kebahagiaan yang
diperoleh dari mengamalkan ilmu
pengetahuan. Dari sudut moral, orang baik
adalah orang yang telah memiliki perilaku
baik, dan bukan hanya mengetahui perilaku
baik itu terpuji. Artinya, pada manusia yang
berbahagia itu bukan saja manusia yang
mengetahui jalan kebaian; jalan hidup yang
baik melainkan juga menjlankann hidup yang
baik itu. Kelima, kebahagiaan spiritual,
merupakan kenahagiaan yang akan tercapai
bila manusia telah berhasil mengadakan
kontak dengan Ilahi.
2. Al-Ghazali
Dalam mewujudkan kebahagiaan, Al-Ghazali
menekankan pentingnya arti cinta kepada
Allah. Pengetahuan tentang Tuhan
merupakan kunci untuk mencintai Allah
kareana tidak mungkin lahir cinta kalau tidak
merasakan indahnya berhubungan dengan
sesuatu yang menyenangkan.
Dalam hal ini dapat diilustrasikan bahwa
orang akan bernahagia apabila dapat
beekenalan dengan raja. Hal itu, karena raja
mempunyai kekuasaan ynang besar dalam
masyarakat dan dirinya sendiri sehingga
timbullah rasa simpatik terhadapa raja.
Tetapi ia akan lebih merasa bahagia apabila
dapat berkenalan dengan rajanya segala
remaja, maka tentu saja perkenalan itu
berbeda bagi orang yang selalu dekat denga
raja dengan orang yang berjauhan dengan
raja.bagi yang dekat dengan raja tentu akan
lebih mencintau rajanaya daripada yang
berjauhan, sekalipun raja itu berpengaruh
padanaya.
Begiru juga dengan cinta kepada Tuhan, bila
manusia telah berkenalan dengan-Nya dan
berpengaruh dalam batin, maka inilah yang
dikatakan Al-Ghazali bahwa “ia sendiri
sajalah yang pantas untuk dicintai, tetapi bila
seseorang tidak mencintai-Nya, maka hal itu
disebabkan karena ia tak mengenali-Nya”.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa
bahagia menurut Al-Ghazali akan dapat
dicapai apabila manusia sudah bisa
menundukkan nafsu kebinatangan dan setan
dalam dirinya, dan menggantinya dengan
sifat malaikat. Sedangkan kebahagiaan
tertinggi menurut Al-Ghazali adalah ketika
manusia telah terbuka hijabnya dengan Allah,
ia bisa melihat Allah dengan mata hatinya,
atau dalam bahasa Al-ghazali telah sampai
kepada tahap ma’rifatullah.
Sedangkan menurut Yusuf Musa
sebagaimana yang dikutip oleh SY Datuk
Perpatih, kebahagiaan menurut Al-Ghazali
dapat dikelompokkan kepada empat
tingkatan, yaitu :
1. Kebaikan atau keutamaan jiwa yaitu: ilmu,
hikmah, iffah (dapat menjaga kehormatan
diri), berani dan adil.
2. Kebaikan atau keutamaan tubuh ada
empat, yaitu : sehat, kuat, jamal (indah), dan
panjang umur.
3. Kebaikan yang dating dari luar ada empat
pula, yaitu : harta, keluarga, terhormat dan
mulia keturunan.
4. Kebaikan atau keutamaan taufik ada
empat, yaitu : hidayah Allah, Pimpinan Allah,
bimbingan Allah, dan bantuan Allah.
Adapun jalan untuk mencapai kebahagiaan
hakiki menurut Al-Ghazali melalui ilmu dan
amal. Ilmu ialah untuk menentukan apa-apa
yang harus diersiapkan dalam mencapai
bahagia hakiki yang dimaksud, sedangkan
amal adalah berguna untuk membersihkan
jiwa dari keinginan-keinginan duniawi yang
dapat memalingkan manusia dari
kebahagiaan tersebut.
Kedudukan manusia di tengan-tengah
masyarakat dinilai dari tingkat ilmu yang
dimilikinya; orang-orang yang berilmu akan
lebih terhormat dan dihargai dibandingkan
orang-orang yang kurang atau tidak berilmu
sama sekali. Ayat-ayat Al-qur’qn sendiri
memberikan penghargaan dengan
memandang mulia orang yang berilmu
dibandingkan dengan orang yang kurang
berilmu, seperti yang terdapat dalam Surat
al-Mujadillah : 11
…… …….
Artinya : “… niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat…..” (QS. Al-Mujadillah : 11)
Jalan kedua untuk memperoleh bahagia
adalah dengan amala; amal merupakan buah
dari ilmu itu sendiri. Hal itu tentu saja sesuai
dengan pandangan al-Qur’an sendiri bahwa
amal shaleh merupakan mata rantai dari
keimanan dan bagi yang melaksanakannya
akan memperoleh kebahagiaan, baik itu pria
maupun wanita. Sebagaimana firman allah :
• •
Artinya : “Barang siapa yang mengerjakan
amal shaleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan
Kami beri balasan kepada mereka dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)

Rabu, 17 Juni 2015

PANCASILA DAN KELUWESAN ISLAM.

PANCASILA DAN KELUWESAN ISLAM. 


'Demam' Pancasila biasanya muncul saat momen-momen seperti; Hari Lahir Pancasila, Hari Kesaktian Pancasila atau pelbagai seminar kebangsaan yang bernuansa kebangsaan. Kalau mau dihitung, mungkin sudah ratusan -bahkan lebih- tulisan atau artikel yang berkeliaran membahas Pancasila baik yang bersinggungan dengan sisi sosial, agama, agama dan lain sebagainya. Nah, tulisan ini pun, meski sekedar estafet dari kebanyakan artikel yang beredar, tak pelak 'ikut-ikutan' mencoba meng-ketengahkan Pancasila versi ke-penulisan dan gaya penyampaian penulis sendiri. Seperti kita ketahui, Pancasila sebagaimana ditetapkan dan tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Ia merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia yang seolah-olah merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia. Namun menjadi ironis saat belakangan ini banyak bermunculan oknum-oknum atau gerakan-gerakan yang kembali berusaha menjungkalkan Pancasila dan meruntuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Mereka berjuang untuk merubah tatanan negara menjadi Khilafah Islamiyah, pendirian negara Islam, pelaksanaan syariat Islam dan sebagainya. Salah satu alasan mereka adalah pandangan dan keyakinan bahwa Islam bukan hanya agama, tetapi juga sebuah sistem hukum yang lengkap, sebuah ideologi universal dan sistem yang paling sempurna yang mampu memecahkan seluruh permasalahan kehidupan umat manusia. Lantas, apakah Pancasila sendiri tidak mencerminkan nilai-nilai Islam? Sehingga - menurut mereka- perlu dikubur dan dilenyapkan dari permukaan Indonesia. Jika kita perhatikan sejarah, Pancasila tidak hanya dirumuskan oleh pemimpin nasional. Namun ada juga tokoh-tokoh bangsa yang berstatus ulama yang urun rembug dalam perumusannya termasuk yang dari kalangan Nahdlatul Ulama kaliber KH Wahid Hasyim dan kalangan lainnya semisal Muhammadiyah. Dengan keberadaan ulama-ulama tersebut tentu berdampak pada wujud rumusan Pancasila yang islami, pancasila yang secara praktis menampilkan ke-rahmatan lil'alamin ajaran Islam. Bukan Pancasila yang sepi dari nilai-nilai keislaman. Selain itu, Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, sebenarnya memiliki keselarasan dengan ajaran Islam sebagai agama mayoritas penduduk bangsa Indonesia. Pancasila telah mampu menopang dan mengakomodir berbagai suku, ras, dan agama yang ada di Indonesia. Keselarasan pancasila dengan ajaran Islam bisa dibuktikan denga klop-nya sila-sila Pancasila dengan apa yang telah tergaris dalam al- Qur’an. Sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa misalkan, secara luas mencerminkan nilai ketauhidan dan kebebasan dalam berkeyakinan. Warga negara Indonesia diberikan kebebasan untuk memilih satu kepercayaan, dari beberapa kepercayaan yang diakui oleh negara. Dalam Islam, Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyebutkan dan selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengesakan Tuhan. Semisal QS. Al-Baqarah ayat 163 yang memiliki arti; "Dan Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa . Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Murah, lagi Maha Penyayang". Dalam kacamata Islam, Tuhan adalah Allah semata, tidak ada tuhan selain Dia. Akan tetapi jika ada keyakinan yang menyatakan Tuhan mereka bukanlah Tuhan sebagaimana yang diyakini umat islam, maka ajaran Islam tidak menentang keyakinan tersebut sebab tidak ada paksaan bagi mereka untuk beragama Islam. Hal ini tentu sesuai dengan rumusan universal Al Qur'an yang berbunyi; “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 256). Mayoritas kitab tafsir Al Qur'an menyebutkan akan adanya suatu riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, yaitu seorang lelaki bernama Abu Al-Husain dari keluarga Bani Salim, Ibnu Auf, mempunyai dua orang anak lelaki yang telah memeluk agama Nasrani sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Tuhan sebagai nabi. Kemudian kedua anak itu datang ke Madinah (setelah datangnya agama Islam), maka ayah mereka selalu meminta agar mereka masuk agama Islam dan ia berkata kepada mereka, “Saya tidak akan membiarkan kamu berdua, hingga kamu masuk Islam.” Mereka lalu mengadukan perkaranva itu kepada Rasulullah saw. dan ayah mereka berkata, “Apakah sebagian dari tubuhku akan masuk neraka?” Maka turunlah ayat ini, lalu ayah mereka membiarkan mereka itu tetap dalam agama semula. Sila kedua yang berbunyi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab bisa bermakna bahwa melalui misi bangunan karakter keadilan dan keberadaban manusia, bangsa Indonesia telah meletakkan penghargaan dan penghormatan hak-hak yang melekat pada tiap-tiap pribadi manusia. Al Qur'an sendiri dengan ayat-ayatnya yang bersifat universal, mencakup segala aspek tanpa kenal zaman wal makan, relevan sampai kapanpun dan dimanapun, telah banyak mengajarkan umatnya untuk bersikap adil, berakhlak mulia, saling menghormati dan menghargai antar sesama. Hal ini salah satunya tercermin dalam surat Al Maidah ayat 8 yang memiliki makna; "Hai orang- orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Sila ketiga berbunyi Persatuan Indonesia bermakna bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa bermisikan menyatukan seluruh elemen di Indonesia, bangsa yang satu dan bangsa yang menegara. Dan telah ma'lum dalam konsep Islam akan wujud ajaran untuk selalu menjaga persatuan. Baik persatuan antar umat islam sendiri dengan bingkai "mu'min ikhwah" nya maupun dengan non- islam dalam bingkai kemanusiaannya. (baca missal: QS. Ali Imran: 103 dan QS. Al- Hujuraat: 10). Begitu juga dengan sila ke empat yang mengedepankan asas musyawarah dengan didasari hikmat kebijaksanaan, pun selaras dengan tatanan islam yang mengajarkan untuk bersikap bijaksana dalam mengatasi permasalahan kehidupan dan bermusyawarah dalam suasana yang demokratis. Dalam surat Ali Imran ayat 159 Allah menegaskan yang maknanya; "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." Cerminan nilai-nilai keislaman juga melekat pada sila kelima yang menekankan adanya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam islam teramat banyak konsep-konsep yang bermuatan keadilan. Baik adil terhadap diri sendiri, adil terhadap orang lain, kepada alam ataupun lingkungan. Misi besar Islam yang menyejahterakan umatnya baik di dunia maupun di akhirat tentu belum bisa optimal tanpa diterapkannya nilai-nilai keadilan. Inilah yang menjadikan islam memerintahkan umatnya untuk berlaku adil dalam segala hal. (lihat QS. an-Nahl ayat 90). Walhasil, Pancasila merupakan bangunan dasar atau ideologi negara yang sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Islam yang luwes dengan rumusan-rumasan globalnya, dengan sifat rahmat bagi penghuni alamnya (rahmatan lil 'alamin) membuat Pancasila bisa 'nyempil' di dalamnya. Dengan begitu, patutlah kita sebagai bagian dari warga negara Indonesia senantiasa berusaha melestarikan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semoga dengan hal tersebut kita menjadi manusia yang secara tidak langsung mengamalkan nilai-nilai universal ajaran islam. Menjadi umat yang berislam secara praktis.

KECANTIKAN BIDADARI.

KECANTIKAN BIDADARI.



 Bidadari adalah salah satu nikmat terindah yang di sediakan Allah ta’ala bagi hamba-hambaNya yang beriman dan bertaqwa, mereka adalah gadis-gadis belia yang sebaya dan penuh pesona, hati-hati mereka dipenuhi rasa cinta yang mendalam kepada pasangan-pasangan mereka, mereka laksana mutiara yang terpelihara dan terjaga baik, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya, kecantikan dan keelokan mereka tidak akan berkurang sepanjang masa, rasa cinta dan kesetiaan yang tertanam di dalam hati mereka akan tetap abadi selamanya, dan mereka adalah harta terbaik yang di anugerahkan Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya. Didalam al-qur’an Allah menyebutkan berbagai macam keindahan dan keistimewaan para Bidadari Surga, yang membuat siapa saja membacanya akan berharap untuk segera berjumpa dan memadu kasih dengan mereka, dan diantara keistimewaan para Bidadari surga adalah: 1. Bidadari surga Adalah gadis-gadis yang yang baik dan cantik jelita; Allah ta’ala berfirman di dalam surat ar- Rahman: Artinya:“Di dalam Surga itu terdapat Bidadari-Bidadari yang baik-baik lagi jelita”. (ar-Rahman:70) Makna dari ayat di atas adalah: Bahwa Bidadari-bidadari Surga adalah para gadis yang baik akhlaknya, sifatnya, dan perangainya serta segala hal yang padaya disifati dengan kebaikan, disamping itu mereka juga cantik dalam parasnya, badannya, warna kulitnya, dan perawakannya serta segala hal yang padanya disifati dengan kecantikan, dan mereka semua berada dalam tingkat kemolekan dan kecantikan yang sangat baik dan sempurna, baik dalam hal fisik maupun akhlaknya. Di dalam al-Qur’an Allah ta’ala menyerupakan kecantikan dan keelokan para Bidadari dengan tiga hal, yaitu: - Bidadari-Bidadari Surga laksana permata Yaqut dan Marjan; Allah ta’ala berfirman: Artinya:” Seakan-akan mereka (para Bidadari) adalah permata Yaqut dan Marjan”. (ar_Rahman:58) Dalam ayat tersebut Allah menyerupakan beningnya para bidadari dengan permata yaqut yang benang di dalam permata tersebut bisa terlihat dari luarnya, karena itulah sumsum bertis para bidadari dinyatakan terlihat dari luar daging mereka , dan putihnya kulit mereka yang amat menawan diserupakan dengan putihnya permata marjan. Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “rombongan pertama yang masuk surga laksana bulan purnama, dan rombongan setelah mereka laksana bintang yang bersinar terang di langit, hati mereka terpadu pada hati satu orang, tidak ada kebencian dan kedengkian diantara mereka, setiap orang dari mereka memiliki dua istri dari kalangan Bidadari yang sumsum tulang betisnya terlihat dari luar dagingnya”. (HR.Bukhari) - Bidadari-Bidadari Surga laksana mutiara yang tersimpan baik; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Dan Bidadari-Bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik”.(al-Waaqi’ah:22-23) Dalam ayat diatas Allah ta’ala menyerupakan kebeningan, keputihan, dan kecantikan, para Bidadari dengan mutiara yang tersimpan baik, mereka berkilau dan bersinar bagaikan mutiara yang belum pernah terpengaruh oleh perubahan waktu dan belum pernah terjamah oleh tangan-tangan manusia. Dan di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”andai salah seorang dari perempuan penghuni surga muncul ke Bumi niscaya ia akan menyinari apa-apa yang ada diantara keduanya (Bumi dan langit) bahkan ia akan memenuhi keduanya dengan wangi yang semerbak, dan sungguh kerudung diatas kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya”.(HR.Bukhari) - Bidadari-Bidadari surga laksana telur yag tersimpan baik; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Dan disisi mereka ada (Bidadari- Bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangan, seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan baik”.(ash- Shaaffat:48-49) Sa’id Ibn Jubair berpendapat: putihnya para Bidadari tersebut diserupakan dengan bagian dalam telur yang ada dibalik cangkangnya yang tidak pernah tersentuh tangan manusia. Adapun Ibn Abbas berkata: (maknanya adalah) seakan-akan mereka berada dalam telur yang tersimpan . 2. Para Bidadari adalah gadis-gadis yang suci dari segala kekurangan; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan kelak akan kami masukkan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya, disana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci, dan kami tempatkan mereka pada tempat yang teduh lagi nyaman’.(QS.an-Nisa’:57) Maknanya adalah: bahwa bidadari-Bidadari surga terbebas dari haid, nifas, kencing, berak, kentut, upil, berdahak, beringus dan dari segala hal yang merupakan kekurangan yang terdapat pada wanita dunia. 3. Para Bidadari adalah gadis-gadis perawan dan sebaya umurnya; Allah ta’ala berfirman: Artinya:”kami menciptakan (Bidadari- Bidadari) secara lansung lalu kami jadikan mereka perawan-perawan yang penuh cinta dan sebaya umurnya”.( QS.al- Waaqi’ah:35-37) Maksudnya adalah bahwa mereka para Bidadari Surga adalah gadis-gadis yang sebaya dan perawan, belum pernah terjamah oleh manusia maupun jin sebelumnya (suami mereka). 4. Para Bidadari adalah wanita yang menundukkan pandangan; Allah ta’ala berfirman: Artinya:”Dan disamping mereka ada Bidadari-Bidadari yang tidak liar pandangannya”.(QS.Shad:52) Maksudnya adalah para bidadari selalu menundukkan pandangan mereka, sehingga tidak melihat kecuali kepada pasangan- pasangan mereka, dan hal ini tentu berbeda jauh dengan kondisi para wanita dunia yang terlampau mudah untuk mengumbar pandangan mereka kepada lawan jenis selain suami mereka. 5. Para Bidadari Surga bernyanyi untuk suami mereka; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh istri-istri para penghuni surga akan bernyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara terindah yang belum pernah di dengar oleh seorangpun, diantara nyayian mereka adalah “kami adalah Bidadari-Bidadari yang elok rupa menjadi istri bagi kaum mulia dan kami melihat dengan mata yang jelita “, dan diantara nyayian mereka pula adalah ‘kami adalah Bidadari-Bidadari yang kekal selama- lamanya, dan karenanya tidak ada mati baginya, Kami adalah Bidadari-Bidadari yang menentramkan, dan karenanya kami tidak akan memberikan kekhawatiran kepadanya, Kami adalah Bidadari-Bidadari yang menetap untuknya, karena itu tidak akan pergi meninggalkannya’”(HR.ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh Al-bani dalam shahiihul jaami’). Itulah sebagian sifat dan keistimewaan para Bidadari yang Disebutkan oleh Allah ta’ala dalam kitabNya serta melalui lisan RasulNya Sallallahu ‘alaihi wasallam, semoga dengan mengetahuinya akan membuat kita semakin termotivasi untuk selalu meningkatkan ketaatan kepada Allah ta’ala, dan akhirnya kita memohon kepada Allah ta’ala agar memgumpulkan kita di dalam SurgaNya yang tinggi dan dipenuhi dengan bebargai macam kenikmatan.

KECANTIKAN BIDADARI.

KECANTIKAN BIDADARI. 


Bidadari adalah salah satu nikmat terindah yang di sediakan Allah ta’ala bagi hamba-hambaNya yang beriman dan bertaqwa, mereka adalah gadis-gadis belia yang sebaya dan penuh pesona, hati-hati mereka dipenuhi rasa cinta yang mendalam kepada pasangan-pasangan mereka, mereka laksana mutiara yang terpelihara dan terjaga baik, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya, kecantikan dan keelokan mereka tidak akan berkurang sepanjang masa, rasa cinta dan kesetiaan yang tertanam di dalam hati mereka akan tetap abadi selamanya, dan mereka adalah harta terbaik yang di anugerahkan Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya. Didalam al-qur’an Allah menyebutkan berbagai macam keindahan dan keistimewaan para Bidadari Surga, yang membuat siapa saja membacanya akan berharap untuk segera berjumpa dan memadu kasih dengan mereka, dan diantara keistimewaan para Bidadari surga adalah: 1. Bidadari surga Adalah gadis-gadis yang yang baik dan cantik jelita; Allah ta’ala berfirman di dalam surat ar- Rahman: Artinya:“Di dalam Surga itu terdapat Bidadari-Bidadari yang baik-baik lagi jelita”. (ar-Rahman:70) Makna dari ayat di atas adalah: Bahwa Bidadari-bidadari Surga adalah para gadis yang baik akhlaknya, sifatnya, dan perangainya serta segala hal yang padaya disifati dengan kebaikan, disamping itu mereka juga cantik dalam parasnya, badannya, warna kulitnya, dan perawakannya serta segala hal yang padanya disifati dengan kecantikan, dan mereka semua berada dalam tingkat kemolekan dan kecantikan yang sangat baik dan sempurna, baik dalam hal fisik maupun akhlaknya. Di dalam al-Qur’an Allah ta’ala menyerupakan kecantikan dan keelokan para Bidadari dengan tiga hal, yaitu: - Bidadari-Bidadari Surga laksana permata Yaqut dan Marjan; Allah ta’ala berfirman: Artinya:” Seakan-akan mereka (para Bidadari) adalah permata Yaqut dan Marjan”. (ar_Rahman:58) Dalam ayat tersebut Allah menyerupakan beningnya para bidadari dengan permata yaqut yang benang di dalam permata tersebut bisa terlihat dari luarnya, karena itulah sumsum bertis para bidadari dinyatakan terlihat dari luar daging mereka , dan putihnya kulit mereka yang amat menawan diserupakan dengan putihnya permata marjan. Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “rombongan pertama yang masuk surga laksana bulan purnama, dan rombongan setelah mereka laksana bintang yang bersinar terang di langit, hati mereka terpadu pada hati satu orang, tidak ada kebencian dan kedengkian diantara mereka, setiap orang dari mereka memiliki dua istri dari kalangan Bidadari yang sumsum tulang betisnya terlihat dari luar dagingnya”. (HR.Bukhari) - Bidadari-Bidadari Surga laksana mutiara yang tersimpan baik; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Dan Bidadari-Bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik”.(al-Waaqi’ah:22-23) Dalam ayat diatas Allah ta’ala menyerupakan kebeningan, keputihan, dan kecantikan, para Bidadari dengan mutiara yang tersimpan baik, mereka berkilau dan bersinar bagaikan mutiara yang belum pernah terpengaruh oleh perubahan waktu dan belum pernah terjamah oleh tangan-tangan manusia. Dan di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”andai salah seorang dari perempuan penghuni surga muncul ke Bumi niscaya ia akan menyinari apa-apa yang ada diantara keduanya (Bumi dan langit) bahkan ia akan memenuhi keduanya dengan wangi yang semerbak, dan sungguh kerudung diatas kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya”.(HR.Bukhari) - Bidadari-Bidadari surga laksana telur yag tersimpan baik; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Dan disisi mereka ada (Bidadari- Bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangan, seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan baik”.(ash- Shaaffat:48-49) Sa’id Ibn Jubair berpendapat: putihnya para Bidadari tersebut diserupakan dengan bagian dalam telur yang ada dibalik cangkangnya yang tidak pernah tersentuh tangan manusia. Adapun Ibn Abbas berkata: (maknanya adalah) seakan-akan mereka berada dalam telur yang tersimpan . 2. Para Bidadari adalah gadis-gadis yang suci dari segala kekurangan; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan kelak akan kami masukkan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya, disana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci, dan kami tempatkan mereka pada tempat yang teduh lagi nyaman’.(QS.an-Nisa’:57) Maknanya adalah: bahwa bidadari-Bidadari surga terbebas dari haid, nifas, kencing, berak, kentut, upil, berdahak, beringus dan dari segala hal yang merupakan kekurangan yang terdapat pada wanita dunia. 3. Para Bidadari adalah gadis-gadis perawan dan sebaya umurnya; Allah ta’ala berfirman: Artinya:”kami menciptakan (Bidadari- Bidadari) secara lansung lalu kami jadikan mereka perawan-perawan yang penuh cinta dan sebaya umurnya”.( QS.al- Waaqi’ah:35-37) Maksudnya adalah bahwa mereka para Bidadari Surga adalah gadis-gadis yang sebaya dan perawan, belum pernah terjamah oleh manusia maupun jin sebelumnya (suami mereka). 4. Para Bidadari adalah wanita yang menundukkan pandangan; Allah ta’ala berfirman: Artinya:”Dan disamping mereka ada Bidadari-Bidadari yang tidak liar pandangannya”.(QS.Shad:52) Maksudnya adalah para bidadari selalu menundukkan pandangan mereka, sehingga tidak melihat kecuali kepada pasangan- pasangan mereka, dan hal ini tentu berbeda jauh dengan kondisi para wanita dunia yang terlampau mudah untuk mengumbar pandangan mereka kepada lawan jenis selain suami mereka. 5. Para Bidadari Surga bernyanyi untuk suami mereka; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh istri-istri para penghuni surga akan bernyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara terindah yang belum pernah di dengar oleh seorangpun, diantara nyayian mereka adalah “kami adalah Bidadari-Bidadari yang elok rupa menjadi istri bagi kaum mulia dan kami melihat dengan mata yang jelita “, dan diantara nyayian mereka pula adalah ‘kami adalah Bidadari-Bidadari yang kekal selama- lamanya, dan karenanya tidak ada mati baginya, Kami adalah Bidadari-Bidadari yang menentramkan, dan karenanya kami tidak akan memberikan kekhawatiran kepadanya, Kami adalah Bidadari-Bidadari yang menetap untuknya, karena itu tidak akan pergi meninggalkannya’”(HR.ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh Al-bani dalam shahiihul jaami’). Itulah sebagian sifat dan keistimewaan para Bidadari yang Disebutkan oleh Allah ta’ala dalam kitabNya serta melalui lisan RasulNya Sallallahu ‘alaihi wasallam, semoga dengan mengetahuinya akan membuat kita semakin termotivasi untuk selalu meningkatkan ketaatan kepada Allah ta’ala, dan akhirnya kita memohon kepada Allah ta’ala agar memgumpulkan kita di dalam SurgaNya yang tinggi dan dipenuhi dengan bebargai macam kenikmatan