Sabtu, 27 Juni 2015

BAHAGIA ITU SEDERHANA. BENARKAH???

BAHAGIA ITU SEDERHANA. BENARKAH???

Aku adalah perempuan yang selalu berpikir bahwa hidup ini adalah pindah dari satu ujian ke ujian yang lain, pindah dari satu masalah ke masalah yang lain, dan pindah dari satu hikmah ke hikmah yang lain, yang berarti bahwa setiap tingkatan kehidupan itu pasti ada ujiannya, untuk menjadi sabar aku harus merasakan marah, untuk menjadi ikhlas aku harus rela kehilangan apa-apa yang kucintai, untuk mencapai level tawakal aku harus dihempaskan oleh keadaan dimana semua doa ditunda untuk dikabulkan.Semua yang terjadi di kehidupan ini mengandung hikmah dan pelajaran berharga.Tidak ada yang terjadi tanpa sepengetahuan-Nya. Semua cerita memiliki kisah, semua kisah memiliki akhir, dan akhir itu bisa mengawali kebahagiaan...Kamu tahu? Terkadang sebagian orang berpikir bahwa kebahagiaan itu harus diraih dengan segala cara dan pengorbanan yang berat. Tapi sebagian dari mereka berpikir bahagia itu tidak selamanya sulit untuk diraih. Bahagia itu sederhana ketika kita bisa menganggap hal sekecil apapun dalam hidup ini merupakan secuil kebahagiaan yang diberikan Sang Pencipta. Tapi tak semudah itu juga. Mereka bahkan saya pun terkadang terlalu angkuh untuk mengakui bahwa bahagia itu sederhana.Ketika aku melintasi jalan dan melihat anak kecil yang polos, jujur dan apa adanya.. yang bisa berkata jujur tanpa beban, mengatakan semua hal yang ada dipikirannya,  tidak menutupi apapun, menangis, bahagia tanpa beban.. Kita bahagia melihat hal itu, dan kita ingin seperti mereka.. Bisakah?Ketika semua masalah yang terjadi bertubi-tubi datang menghampiri dan terselesaikan dengan baik, ya , untuk sesaat kita bisa bahagia..Ketika orang-orang yang kita sayangi bahagia, bahagia karena kita, tersenyum untuk kita.. bahagia melihat kita sukses... Itulah kebahagiaan yang paling besar yang ada dimuka bumi ini..Kebahagian orang-orang yang kita sayang adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup kita.. Bahagia melihat mereka bahagia, serasa ingin menghentikan waktu dan terlarut dalam kehangatan itu..Ketika kita menutup mata, menghirup udara secara perlahan dan melepaskan semua penat sejenak.. Dan ketika kita melihat hamparan langit biru dan percikan awan yang menyejukkan mata, menenangkan, kita merasakan kebahagiaan, kebahagiaan hidup yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.. Yang menciptakan sosok kuat dan tangguh, dan itu kita :) Dan saat itulah kita merasa lupa bersyukur, bersyukur untuk hal-hal kecil, bersyukur untuk semua nikmat yang telah diberikan-Nya, bersyukur terhadap kehidupan yang penuh liku..

Terkadang kebahagiaan itu berliku tapi
terkadang juga itu sederhana. Dibalik lika
liku kehidupan, selalu terselip bahagia Ya,
semuanya tergantung kita…

Wayang Potehi

Wayang Potehi merupakan salah satu
jenis wayang khas Tionghoa yang
berasal dari Tiongkok bagian selatan.
Kesenian ini dibawa oleh perantau
etnis Tionghoa ke berbagai wilayah
Nusantara pada masa lampau dan
telah menjadi salah satu jenis
kesenian tradisional Indonesia.
Sejarah
Potehi berasal dari kata pou 布 (kain)
, te 袋 (kantong) dan hi 戯 (wayang).
Wayang Potehi adalah wayang
boneka yang terbuat dari kain. Sang
dalang akan memasukkan tangan
mereka ke dalam kain tersebut dan
memainkannya layaknya wayang jenis
lain. Kesenian ini sudah berumur
sekitar 3.000 tahun dan berasal dari
Tiongkok .
Menurut legenda , seni wayang ini
ditemukan oleh pesakitan di sebuah
penjara. Lima orang dijatuhi hukuman
mati. Empat orang langsung bersedih,
tapi orang kelima punya ide
cemerlang. Ketimbang bersedih
menunggu ajal, lebih baik menghibur
diri. Maka, lima orang ini mengambil
perkakas yang ada di sel seperti
panci dan piring dan mulai
menabuhnya sebagai pengiring
permainan wayang mereka. Bunyi
sedap yang keluar dari tetabuhan
darurat ini terdengar juga oleh kaisar,
yang akhirnya memberi
pengampunan.
Menurut sejarah , diperkirakan jenis
kesenian ini sudah ada pada masa
Dinasti Jin 晉朝 (265-420 Masehi)
dan berkembang pada Dinasti Song
宋朝 (960-1279). Wayang Potehi
masuk ke Indonesia (dulu Nusantara )
melalui orang-orang Tionghoa yang
masuk ke Nusantara pada sekitar
abad 16 sampai 19. Data yang sahih
berupa catatan awal tentang wayang
Potehi di Indonesia, berasal dari
seorang Inggris bernama Edmund
Scott. Dia pergi ke Banten 2 kali,
antara 1602 dan 1625. Ia
menyebutkan, pertunjukan sejenis
opera , yang diselenggarakan bila
jung-jung akan berangkat ke atau
bila kembali ke Tiongkok . Ia
mengamati dengan teliti, bahwa
pertunjukan ini berhubungan dengan
penyembahan dan bahwa biarawan-
biarawan mempersembahkan kurban,
dan bersujud di tanah sebelum
persiapan. Scott menuliskan
bahwa "mereka sangat menyukai
sandiwara dan nyanyian, tapi suara
mereka adalah yang paling jelek yang
akan didengar orang. Sandiwara atau
selingan itu mereka selenggarakan
sebagai kebaktian kepada dewa-
dewa mereka: pada permulaannya,
mereka lazim membakar kurban, para
pendetanya berkali-kali berlutut, satu
demi satu. Sandiwara ini biasa
diadakan, apabila mereka melihat
jung atau kapal berangkat dari
Banten ke Tiongkok. Sandiwara ini
kadang-kadang mulai pada tengah
hari dan baru berakhir keesokan
paginya, biasanya di jalan terbuka, di
panggung yang didirikan untuk
maksud itu."
Penjelajah-penjelaja­h 1-2 abad
kemudian menggambarkan bahwa
teater ini yang asli dari Tiongkok,
sudah mapan di masyarakat-
masyarakat perantau di kota utama
pada masa itu. Sayangnya, hanya
sedikit keterangan bahasa yang
dipakai dalam pertunjukan itu. Juga
tidak terdapat teater boneka sarung
dari Fujian Selatan, yang dikenal
dengan nama po-te-hi , yang kini
masih ada di Jawa Timur dan Jawa
Tengah. Pada abad ke-18, seorang
Jerman yang bernama Ernst
Christoph Barchewitz (yang tinggal
selama 11 tahun di Jawa)
menunjukkan bahwa ketika ia
melihatnya di Batavia pertunjukan-
pertunjukan ini diselenggarakan
dalam bahasa Tionghoa .
Bukan sekadar seni pertunjukan,
Wayang Potehi bagi etnik Tionghoa
memiliki fungsi sosial serta ritual.
Tidak berbeda dengan wayang-
wayang lain di Indonesia.
Beberapa lakon yang sering
dibawakan dalam Wayang Potehi
adalah Si Jin Kui 薛仁貴 (Ceng Tang
征東 dan Ceng Se 征西), Hong Kiam
Chun Chiu 鋒劍春秋, Cu Hun Cau Kok
慈雲走國, Lo Thong Sau Pak 羅通掃北
dan Pnui Si Giok 方世玉. Setiap
wayang bisa dimainkan untuk
pelbagai karakter, kecuali Koan Kong
關公, Utti Kiong 尉遲恭, dan Thia Kau
Kim 程交金, yang warna mukanya
tidak bisa berubah.
Lakon
Dulunya Wayang Potehi hanya
memainkan lakon-lakon yang berasal
dari kisah klasik Tiongkok seperti
legenda dinasti-dinasti yang ada di
Tiongkok, terutama jika dimainkan di
kelenteng . Akan tetapi saat ini
Wayang Potehi sudah mengambil
cerita-cerita di luar kisah klasik
seperti novel Se Yu 西遊記
(Pilgrimage to the West) dengan
tokohnya Kera Sakti yang tersohor itu.
Pada masa masuknya pertama kali di
Nusantara , wayang potehi dimainkan
dalam dialek Hokkian. Seiring dengan
perkembangan zaman, wayang ini
pun kemudian juga dimainkan dalam
bahasa Indonesia . Oleh karena itu
para penduduk non-Tionghoa pun
bisa menikmati cerita yang
dimainkan.
Menariknya, ternyata lakon-lakon
yang kerap dimainkan dalam wayang
ini sudah diadaptasi menjadi tokoh-
tokoh di dalam ketoprak . Seperti
misalnya tokoh Si Jin Kui 薛仁貴
yang diadopsi menjadi tokoh Joko
Sudiro. Atau jika Anda penggemar
berat ketoprak, mestinya tidak asing
dengan tokoh Prabu Lisan Puro yang
ternyata diambil dari tokoh Li Si Bin
李世民, kaisar kedua Dinasti Tong 唐
朝 (618-907).
Alat musik Wayang Potehi terdiri atas
gembreng/lo 鑼 , kecer/simbal 鑔
cheh dan 鈸 puah, suling/phin-a 笛
仔 , ( gitar/gueh-khim 月琴 ), rebab/
hian-a 絃仔 , tambur/kou 鼓 ,
terompet/ai-a 噯仔 , dan piak-kou 逼
鼓 . Alat terakhir ini berbentuk silinder
sepanjang 5 sentimeter, mirip
kentongan kecil penjual bakmi, yang
jika salah pukul tidak akan
mengeluarkan bunyi "trok"-"trok"
seperti seharusnya.

Perkembangan
Wayang Potehi di Museum Wayang ,
Jakarta.
Tahun 1970-an sampai tahun 1990-
an bisa dikatakan masa suram bagi
Wayang Potehi. Itu dikarenakan
tindakan represif penguasa pada
masa itu terhadap budaya Tionghoa.
Padahal nilai-nilai budaya yang
dibawa serta oleh orang Tionghoa
sejak berabad-abad lalu telah
tumbuh bersama budaya lokal dan
menjadi budaya Indonesia. Dalam
masa suram itu, Wayang Potehi
seolah mengalami pengerdilan.
Sangat sulit menemukan
pementasannya saat itu. Apalagi jika
bukan karena sulitnya mendapat
perizinan. Padahal jika diamati para
penggiat Wayang Potehi sebagian
besar adalah penduduk asli
Indonesia. Bayangkan, betapa besar
apresiasi mereka terhadap budaya
yang bisa dikatakan bukan budaya
asli Indonesia . Namun setelah
reformasi berjalan, angin segar
seolah menyelamatkan kesenian ini.
Wayang Potehi bisa dipentaskan
kembali dan tentu saja tidak dengan
sembunyi-sembunyi.
KAMUS ISTILAH ASTRONOMI ILMU FALAQ.


1. ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ
Ijtima'
Adalah keadaan dimana Matahari dan
Bulan dalam satu bujur astronomi yang
sama yang dalam istilah Astronomi disebut
KONJUNGSI atau NEW MOON. Ijtima' oleh
para ahli hisab di jadikan pedoman untuk
menentukan masuknya bulan baru
Qomariyah. Dalam Ilmu Hisab di sebut juga
dengan IJTIMA'UN NAYYIROIN.
2. ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ
'Alamah
Adalah petunjuk waktu terjadinya IJTIMA'
yang di tentukan berdasarkan waktu rata -
rata untuk menjadi acuan dalam
mendapatkan waktu ijtima' yang sebenarnya
( AL ' ALAMAH ALMU'ADDALAH ), yang di
nyatakan dengan hari, jam, menit, dan detik.
3. ﺍﻟﺤﺼﺔ
Khisshoh
Yaitu busur pada falak bulan di hitung dari
UQDAH ( titik simpul ) sampai ke titik
tempat bulan berada. Atau dengan kata lain
tenggang waktu atau jarak yang harus di
perhitungkan dari kedudukan benda langit
yang satu ke kedudukan benda langit yang
lain, atau dari saat tertentu ke saat yang
lain.
4. ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ
Khosshoh
Atau KHOSSHOTUL QOMAR yaitu busur
sepanjang ekliptika yang di ukur dari Bulan
hingga titik Aries sebelum bergerak, atau
dengan kata lain gerak bulan sepanjang
lintasannya di hitung dari titik ARIES
sesudah di koreksi dengan AUJnya.
5. ﺍﻟﻤﺮﻛﺰ
Almarkaz
Adalah titik pusat suatu lingkaran atau
bola, termasuk juga benda langit. Dalam
istilah ilmu Falak adalah kedudukan titik
pusat suatu benda langit yang bergerak pada
lintasannya, lintasan ini di hitung sepanjang
ekliptika dari titik ARIES dengan arah
rektrogad atau tawali.
6. ﺃﻭﺝ
Auj
Adalah titik terjauh pada orbit benda langit
dari benda yang di orbitinya di sebut juga
APHELIUM atau APOGEE. Suatu benda langit
yang mengorbit tidak lah membentuk
lingkaran tapi ELIPS, oleh karena itu ada
kalanya pada posisi terdekat dan terkadang
pada titik terjauh yang di sebut AUJ.
7. ﺑﺮﺝ
Buruj
Adalah kelompok-kelompok bintang yang
terdapat pada lingkaran Ekliptika sebanyak
12 bagian yang masing-masing berjarak
30°.
8. ﺍﺭﺗﻔﺎﻉ
Irtifa'
Adalah busur sepanjang lingkaran vertikal
yang melalui benda langit yang di hitung
dari ufuq hingga benda langit tersebut.
Ketinggian benda langit di nyatakan positif
bila berada di atas ufuq (irtifa'), dan di
nyatakan negatif bila berada di bawah ufuq
(inkhifadl).
9. ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻻﺭﺗﻔﺎﻉ
Ghoyatul irtifa'
Adalah busur pada lingkaran Meridian
langit yang di hitung dari ufuq hingga ke titik
KULMINASI benda langit yang berada pada
lingkaran meridian itu.
10. ﺍﻟﻤﻜﺚ
Almuktsu / mukuts
Adalah jarak sepanjang lintasan harian
bulan di ukur dari titik terbenamnya sampai
bulan itu sendiri pada saat matahari
terbenam.
11. ﺣﻤﻞ
Khaml = Aries
Titik khaml adalah titik potong antara
Lingkaran Ekliptika dengan Lingkaran
Ekuator yang terjadi pada saat peredaran
Matahari dari selatan ke utara. Menurut
astronomi dinamakan titik ARIES.
12. ﻣﻘﻮﻡ ﺍﻟﺸﻤﺲ
Muqowwamus syams
Adalah busur pada lingkaran Ekliptika
yang di ukur dari titik Khaml sampai dengan
tempat kedudukan Matahari, yang dalam
ilmu Astronomi disebut TRUE LONGITUDE.
Muqowwamus syams terkadang di sebut
juga dengan THULUSY SYAMS atau
TAQWIM.
13. ﺍﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﻤﻨﻈﺮ
Ikhtilaful Mandlor
Adalah beda lihat antara dua garis yang di
tarik dari benda langit ke titik pusat bumi
dan garis yang di tarik dari benda langit ke
mata peninjau, perbedaan ini di sebut juga
dengan PARALLAX, GEOCENTRIC PARALLAX
atau DIURNAL PARALLAX.
DZURRIAH KHAMDANY di 23.00
KAMUS ISTILAH ASTRONOMI DAN ILMU
FALAK

BAHAGIA ITU SEDERHANA DAN SIMPEL.

BAHAGIA ITU SEDERHANA DAN SIMPEL.


Bahagia itu Sederhana - Sebelumnya saya
ucapkan terimakasih buat yang telah
membuat foto kebahagiaan ini yang saya
temui di google dan handphone saya.
Sungguh sebuah motivasi buat saya bahwa
memang benar Bahagia itu sangat
sederhana.
Apakah arti bahagia adalah suatu keadaan
pikiran atau perasaan yang ditandai dengan
kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan,
atau kegembiraan? Ada yang beranggapan
arti bahagia itu relatif. Ia berubah-ubah dan
berbeda antara seorang individu dengan yang
lain. Bagi yang sakit, sehat itu dirasakan
bahagia. Tetapi apabila sudah sehat,
kebahagiaan itu bukan pada kesehatan lagi.
Sudah beralih kepada perkara yang lain lagi.
Bagi golongan ini kebahagiaan itu adalah
satu “moving target” yang tidak spesifik
artinya.
Ada pula golongan pesimis. Mereka
beranggapan bahawa tidak ada bahagia di
dunia ini. Hidup adalah untuk menderita.
Manusia dilahirkan bersama tangisan, hidup
bersama tangisan dan akan dihantar ke kubur
dengan tangisan. Bahagia adalah satu utopia,
ilusi atau angan-angan. Ia tidak berwujud
dalam realiti dan kenyataan.
Sahabat.....anda dihadapkan
di kehidupan ini antara ingin bahagia atau
tidak. Mungkin juga bahagia tersebut adalah
suatu pilihan hidup yang akan kita jalani.
Pada jaman sekarang katagori bahagia
ditempatkan dimana keinginan tercapai
dengan segala sesuatu yang disebut dengan
UANG . Padahal bahagia itu bisa kita
dapatkan tanpa modal sekalipun, tergantung
dari diri anda sahabat
menanggapinya karena Bahagia itu
Sederhana. Pikiran kita tenang, bangun pagi
kita terasa sangat nyaman, ada sahabat dan
keluarga di sekitar kita.
KETIKA MAU MENIKAH
Janganlah mencari isteri tapi carilah ibu bagi
anak-anak. Jangan cari suami tetapi carilah
ayah bagi anak anak
KETIKA MAU MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang
tua Tetapi minta kepada TUHAN melalui
orang tua
KETIKA AKAD NIKAH
Anda bukan nikah di depan hukum tetapi
nikah di depan Tuhan
KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang hadir dan
mendoakan anda Dan berfikirlah untuk
meminta maaf kepada mereka apabila anda
Ingin bercerai
KETIKA Malam pertama
bersyukur dan berbahagialah bahwa anda
sepasang anak manusia bukan malaikat
KETIKA Menempuh hidup berkeluarga
sadarilah bahwa jalan yang akan anda
tempuh bukan jalan yang bertabur bunga
tetapi jalan yang penuh onak dan duri
KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM
MEMBAIK
Yakinkan bahwa pintu rizki akan terbuka
lebar
Berbanding lurus dengan tingkat ketaaatan
suami isteri
KETIKA KETIKA EKONOMI BAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang
setia Mendampingi kita disaat menderita
KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh berrmanja-manja kepada isteri Tapi
jangan lupa tanggungjawabnya
KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah
lembut Tapi selalu berhasil menyelesaikan
semua pekerjaan
KETIKA Telah nikah dan belum memiliki
anak,
cintailah isteri atau suami anda seratus
persen
KETIKA Telah memiliki anak
jangan bagi cinta anda kepada suami, istri
dan anak akan tetapi cintailah masing-
masing seratus persen
KETIKA Biduk rumah tangga sedang oleng
Jangan saling berlepas tangan tapi
sebaliknya semakin erat berpegang tangan
KETIKA Mendidik anak
jangan berfikir orang tua yang baik adalah
orang tua yang tidak pernah marah akan
tetapi orang tua yang baik adalah orang tua
yang jujur kepada anak
KETIKA Anak bermasalah
Yakinkan bahwa tidak ada anak yang tidak
mau bekerjasama dengan orang tua yang ada
adalah anak yang merasa tidak didengar oleh
orang tuanya
KETIKA Ada PIL Jangan diminum cukuplah
suami sebagai obat
KETIKA Ada WIL Jangan turuti cukuplah isteri
sebagai pelabuhan hati
Jadi sahabat  Bahagia itu
Simpel yang kita butuhkan hanya Ketaqwaan,
Kasih sayang, Kesetiaan, Komunikasi,
Keterbukaan, Kejujuran dan kesabaran.
Semoga dengan artikel ini sahabat
lebih merasa bahagia
dengan apa yang ada didepan anda. Silahkan
dishare dengan sahabat dan keluarga anda.

KONSEP BAHAGIA

KONSEP BAHAGIA
Pengertian Kebahagiaan
Secara etimologi kebahagiaan berarti
keadaan senang, tentram; terlepas dari
segala yang menyusahkan.sehingga­,
kebahagiaan adalah suatu keadaan yang
berlangsung, bukanlah suatu perasaan atau
emosi yang berlalu.
Kebahagiaan berasal dari kata Sanskerta,
yaitu bhagya yang berate jatah yang
menyenangkan. Bahagian juga diartikan
dengan keberuntungan. Dengan
demikian,kebahagiaan­ berarti suatu kondisi
sejahtera, yang ditandai dengan keadaan
yang relative tetap, dibarengi keadaan emosi
yang secara umum gembira, mulai dari
sekedar rasa suka sampai dengan
kegembiaraan menjalani kehidupan, dan
adanya keinginan alamiah untuk melanjutkan
keadaan ini. Dalam perspektif ini bahagia
pada dasarnya adalah berkaitan dengan
kondisi kejiwaan manusia.
Menurut Aristoteles, kebahagiaan itu dapat
dibagi menjadi lima bagian, yaitu :
Pertama, kebahagiaan yang terdapat pada
kondisi sehat badan dan kelembutan indrawi.
Kedua, kebahagiaan karena mempunyai
sahabat. Ketiga, kebahagiaan karena
mempunyai nama baik dan termasyhur.
Keempat, kebahagiaan karena sukses dalam
berbagai hal. Kelima, kebahagiaan karena
mempunyai pola piker yang benar dan punya
keyakinan yang mantap.
Dengan tercapainya kelima hal ini, menurut
Aristoteles barulah manusia akan mencapai
bahagia yang sempurna.
Sedangkan bagi filosof sebelum Aristoteles,
seperti Phytagoras, Sokrates dan Plato,
kebahagiaan hanya bias dicapai oleh jiwa
saja. Oleh karenanya, ketika mengklasifikasi
kan bahagia mereka hanya membatasi pada
fakultas-fakultas jiwa saja; seperti kearifan,
keberanian, kesederhanaan dan keadilan.
Kebahagiaan hanya akaan berkurang jika
manusia mempunyai pikiran yang lemah.
Dengan demikian, kemiskinan, nama baik,
wibawa ataupun kekurangan lain diluar
badan tidak akan merusak nilai kebahagiaan.
Jika diikuti konsepsi ini tentu akan menjadi
persoalan yang cukup rumit, karena
bagaimanapun juga tubuh adalah bagian dari
diri manusia, begitu juga dengan lingkungan
akan berpengaruh terhadap pola hidup
manusia. Oleh sebab itu, pada dasarnya
kesempurnaan bahagia itu akan tergantung
juga pada kesempurnaan badan dan hal-hal
yang berada diluarnya, sebagai factor
pendukung.
Dari uraiana diatas, terlihat bahwa pada
prinsipnya kebahagiaan tidak berada diluar
badan, tapi berada di dalam diri manusia,
yaitu dengan memungsikan potensi yang
dimilikinya, melalui sarana-sarana yang
menjadi objek pikiran. Artinya, untuk
tercapainya bahgia sangat tergantung kepada
cara manusia itu menyikapi hidup ini, bukan
bagaimana hidup memberlakukan manusia.
Namun, kebahagiaan di atas baru sebatas
kebahagiaan duniawi dan defeniasi bahagia
itu sendiri sukar untuk dirumuskan secara
utuh karena ia terkait dengan orang atau
subjek yang menjelaskannya.
KEBAHAGIAAN MENURUT PEMIKIR ISLAM
1. Ibn Maskawaih
Terlebih dahulu membuat perbedaan antara
kebaikan dengan kebahagiaan. Menurutnya,
kebaikan itu sifatnya umum, dan merupakan
tujuan dari sesuatu sedangkan kebahagiaan
merupakan akhir dari kebaikan, dalam
kaitannya dengan pemiliknya dan merupakan
kesmepurnaan bagi pemiliknya. Sehingga ia
bersifat relative berbeda menuut orang yang
mengupayakannya dan esensinya tidak pasti.
Dengan demikian, menurut Ibn maskawaih,
kebahagiaan adalah kebaikan yang paling
utama dan sempurna diantara seluruh
kebaiakn serta menjadi tujuan akhir dari
kebaikan.mengenai kebahagiaan sempurna,
Ibn Maskawaih berpendapat bahwa bahagia
sempurna atau tertinggi dapat diraih ketika
manusia dapat menyatukan antara kebutuhan
jasmani dan ruhaniyah—yang dia istilahkan
dengan alam rendah dan alam tinggi.
Namun jika tidak mencapai dari dua
tingkatan itu makan manusia berada pada
derajat binatang, karena kebaikan itu tidak
ada pada binatang dan ia tidak diberikan
kemampuan mencapai tingkatan-tingkatan
itu, sedangkan manusia diseur dan diberi
bekal untuk itu, tetapi manusia lebih suka
kepada hala-hal yang lebih rendah. Oleh
karena itu, kebahagiaan manusia itu ada
yang sempurna dan ada yang tidak.
Menurutnya, seseorang dapat mencapai
kebahagiaan di dunia ini apabila mempunyai
sifat sebagai berikut : tidak keberatan
berpisah dengan yang dicintainya di dunia;
tidak bersedih hati karena tidak mendapat
kesenangan duniawi; memandang tubuh,
harta dan semua kenikmatan duniawi tidak
lebih dari sekedar bebab duniawi , kecuali
jika dibutuhkan untuk menjaga badannya;
rindu berkumpul dengan ruh-ruh yang baik
dan para malaikat terpilih; tidak melalkukan
sesuatu kecuali jika dikehendaki Allah;
memilih sesuatu yang akan mendekatkannya
dengan Allah; tidak terjerat dengan tipu daya
hawa nafsu; tidak berduka lara atas
kegagalannya memenuhi keinginannya.
Menurut Mulyadi Kartanegara—salah seorang
doctor di bidang filsafat lulusan Universitas
Chicago—berdasarkan anilisisnya terhadap
karya-karya Ibn Maskawaih, menyimpulkan
bahwa terdapat lima macam jenjang
kebahagiaan yang diperoleh dan dirasakan
manusia. Pertama, jenjang kebahagiaan fisik
atau sensual, yang biasa disebut dengan
kesenangan, kebahagiian jenis ini sering
dipandang sebagai satu-satunya
kebahagiaan. Oleh karena itu sering keluar
ungkapan “kalau sudah kaya she pati kita
bahgia”, dan yang dimaksud kaya disini
adalah kaya harta atau materi. Kedua,
jenjang kedua adalah kebahagiaan mental,
kebahagiaan yang mungkin barangkali tidak
bisa dilepaskan dari indra lahir, tetapi
uamanya tentu indra batin. Ketiga, jenjang
kebahagiaan intelektual, yaitu kebahagiaan
manusia yang diperoleh dari ilmu
pengetahuan. Oleh karena itu, selama kita
memiliki ilmu, selama itu pula kita
merasakan kebahagiaan. Keempat, jenjang
kebahagian moral, yaitu kebahagiaan yang
diperoleh dari mengamalkan ilmu
pengetahuan. Dari sudut moral, orang baik
adalah orang yang telah memiliki perilaku
baik, dan bukan hanya mengetahui perilaku
baik itu terpuji. Artinya, pada manusia yang
berbahagia itu bukan saja manusia yang
mengetahui jalan kebaian; jalan hidup yang
baik melainkan juga menjlankann hidup yang
baik itu. Kelima, kebahagiaan spiritual,
merupakan kenahagiaan yang akan tercapai
bila manusia telah berhasil mengadakan
kontak dengan Ilahi.
2. Al-Ghazali
Dalam mewujudkan kebahagiaan, Al-Ghazali
menekankan pentingnya arti cinta kepada
Allah. Pengetahuan tentang Tuhan
merupakan kunci untuk mencintai Allah
kareana tidak mungkin lahir cinta kalau tidak
merasakan indahnya berhubungan dengan
sesuatu yang menyenangkan.
Dalam hal ini dapat diilustrasikan bahwa
orang akan bernahagia apabila dapat
beekenalan dengan raja. Hal itu, karena raja
mempunyai kekuasaan ynang besar dalam
masyarakat dan dirinya sendiri sehingga
timbullah rasa simpatik terhadapa raja.
Tetapi ia akan lebih merasa bahagia apabila
dapat berkenalan dengan rajanya segala
remaja, maka tentu saja perkenalan itu
berbeda bagi orang yang selalu dekat denga
raja dengan orang yang berjauhan dengan
raja.bagi yang dekat dengan raja tentu akan
lebih mencintau rajanaya daripada yang
berjauhan, sekalipun raja itu berpengaruh
padanaya.
Begiru juga dengan cinta kepada Tuhan, bila
manusia telah berkenalan dengan-Nya dan
berpengaruh dalam batin, maka inilah yang
dikatakan Al-Ghazali bahwa “ia sendiri
sajalah yang pantas untuk dicintai, tetapi bila
seseorang tidak mencintai-Nya, maka hal itu
disebabkan karena ia tak mengenali-Nya”.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa
bahagia menurut Al-Ghazali akan dapat
dicapai apabila manusia sudah bisa
menundukkan nafsu kebinatangan dan setan
dalam dirinya, dan menggantinya dengan
sifat malaikat. Sedangkan kebahagiaan
tertinggi menurut Al-Ghazali adalah ketika
manusia telah terbuka hijabnya dengan Allah,
ia bisa melihat Allah dengan mata hatinya,
atau dalam bahasa Al-ghazali telah sampai
kepada tahap ma’rifatullah.
Sedangkan menurut Yusuf Musa
sebagaimana yang dikutip oleh SY Datuk
Perpatih, kebahagiaan menurut Al-Ghazali
dapat dikelompokkan kepada empat
tingkatan, yaitu :
1. Kebaikan atau keutamaan jiwa yaitu: ilmu,
hikmah, iffah (dapat menjaga kehormatan
diri), berani dan adil.
2. Kebaikan atau keutamaan tubuh ada
empat, yaitu : sehat, kuat, jamal (indah), dan
panjang umur.
3. Kebaikan yang dating dari luar ada empat
pula, yaitu : harta, keluarga, terhormat dan
mulia keturunan.
4. Kebaikan atau keutamaan taufik ada
empat, yaitu : hidayah Allah, Pimpinan Allah,
bimbingan Allah, dan bantuan Allah.
Adapun jalan untuk mencapai kebahagiaan
hakiki menurut Al-Ghazali melalui ilmu dan
amal. Ilmu ialah untuk menentukan apa-apa
yang harus diersiapkan dalam mencapai
bahagia hakiki yang dimaksud, sedangkan
amal adalah berguna untuk membersihkan
jiwa dari keinginan-keinginan duniawi yang
dapat memalingkan manusia dari
kebahagiaan tersebut.
Kedudukan manusia di tengan-tengah
masyarakat dinilai dari tingkat ilmu yang
dimilikinya; orang-orang yang berilmu akan
lebih terhormat dan dihargai dibandingkan
orang-orang yang kurang atau tidak berilmu
sama sekali. Ayat-ayat Al-qur’qn sendiri
memberikan penghargaan dengan
memandang mulia orang yang berilmu
dibandingkan dengan orang yang kurang
berilmu, seperti yang terdapat dalam Surat
al-Mujadillah : 11
…… …….
Artinya : “… niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat…..” (QS. Al-Mujadillah : 11)
Jalan kedua untuk memperoleh bahagia
adalah dengan amala; amal merupakan buah
dari ilmu itu sendiri. Hal itu tentu saja sesuai
dengan pandangan al-Qur’an sendiri bahwa
amal shaleh merupakan mata rantai dari
keimanan dan bagi yang melaksanakannya
akan memperoleh kebahagiaan, baik itu pria
maupun wanita. Sebagaimana firman allah :
• •
Artinya : “Barang siapa yang mengerjakan
amal shaleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan
Kami beri balasan kepada mereka dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)

Rabu, 17 Juni 2015

PANCASILA DAN KELUWESAN ISLAM.

PANCASILA DAN KELUWESAN ISLAM. 


'Demam' Pancasila biasanya muncul saat momen-momen seperti; Hari Lahir Pancasila, Hari Kesaktian Pancasila atau pelbagai seminar kebangsaan yang bernuansa kebangsaan. Kalau mau dihitung, mungkin sudah ratusan -bahkan lebih- tulisan atau artikel yang berkeliaran membahas Pancasila baik yang bersinggungan dengan sisi sosial, agama, agama dan lain sebagainya. Nah, tulisan ini pun, meski sekedar estafet dari kebanyakan artikel yang beredar, tak pelak 'ikut-ikutan' mencoba meng-ketengahkan Pancasila versi ke-penulisan dan gaya penyampaian penulis sendiri. Seperti kita ketahui, Pancasila sebagaimana ditetapkan dan tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Ia merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia yang seolah-olah merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia. Namun menjadi ironis saat belakangan ini banyak bermunculan oknum-oknum atau gerakan-gerakan yang kembali berusaha menjungkalkan Pancasila dan meruntuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Mereka berjuang untuk merubah tatanan negara menjadi Khilafah Islamiyah, pendirian negara Islam, pelaksanaan syariat Islam dan sebagainya. Salah satu alasan mereka adalah pandangan dan keyakinan bahwa Islam bukan hanya agama, tetapi juga sebuah sistem hukum yang lengkap, sebuah ideologi universal dan sistem yang paling sempurna yang mampu memecahkan seluruh permasalahan kehidupan umat manusia. Lantas, apakah Pancasila sendiri tidak mencerminkan nilai-nilai Islam? Sehingga - menurut mereka- perlu dikubur dan dilenyapkan dari permukaan Indonesia. Jika kita perhatikan sejarah, Pancasila tidak hanya dirumuskan oleh pemimpin nasional. Namun ada juga tokoh-tokoh bangsa yang berstatus ulama yang urun rembug dalam perumusannya termasuk yang dari kalangan Nahdlatul Ulama kaliber KH Wahid Hasyim dan kalangan lainnya semisal Muhammadiyah. Dengan keberadaan ulama-ulama tersebut tentu berdampak pada wujud rumusan Pancasila yang islami, pancasila yang secara praktis menampilkan ke-rahmatan lil'alamin ajaran Islam. Bukan Pancasila yang sepi dari nilai-nilai keislaman. Selain itu, Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, sebenarnya memiliki keselarasan dengan ajaran Islam sebagai agama mayoritas penduduk bangsa Indonesia. Pancasila telah mampu menopang dan mengakomodir berbagai suku, ras, dan agama yang ada di Indonesia. Keselarasan pancasila dengan ajaran Islam bisa dibuktikan denga klop-nya sila-sila Pancasila dengan apa yang telah tergaris dalam al- Qur’an. Sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa misalkan, secara luas mencerminkan nilai ketauhidan dan kebebasan dalam berkeyakinan. Warga negara Indonesia diberikan kebebasan untuk memilih satu kepercayaan, dari beberapa kepercayaan yang diakui oleh negara. Dalam Islam, Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyebutkan dan selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengesakan Tuhan. Semisal QS. Al-Baqarah ayat 163 yang memiliki arti; "Dan Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa . Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Murah, lagi Maha Penyayang". Dalam kacamata Islam, Tuhan adalah Allah semata, tidak ada tuhan selain Dia. Akan tetapi jika ada keyakinan yang menyatakan Tuhan mereka bukanlah Tuhan sebagaimana yang diyakini umat islam, maka ajaran Islam tidak menentang keyakinan tersebut sebab tidak ada paksaan bagi mereka untuk beragama Islam. Hal ini tentu sesuai dengan rumusan universal Al Qur'an yang berbunyi; “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 256). Mayoritas kitab tafsir Al Qur'an menyebutkan akan adanya suatu riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, yaitu seorang lelaki bernama Abu Al-Husain dari keluarga Bani Salim, Ibnu Auf, mempunyai dua orang anak lelaki yang telah memeluk agama Nasrani sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Tuhan sebagai nabi. Kemudian kedua anak itu datang ke Madinah (setelah datangnya agama Islam), maka ayah mereka selalu meminta agar mereka masuk agama Islam dan ia berkata kepada mereka, “Saya tidak akan membiarkan kamu berdua, hingga kamu masuk Islam.” Mereka lalu mengadukan perkaranva itu kepada Rasulullah saw. dan ayah mereka berkata, “Apakah sebagian dari tubuhku akan masuk neraka?” Maka turunlah ayat ini, lalu ayah mereka membiarkan mereka itu tetap dalam agama semula. Sila kedua yang berbunyi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab bisa bermakna bahwa melalui misi bangunan karakter keadilan dan keberadaban manusia, bangsa Indonesia telah meletakkan penghargaan dan penghormatan hak-hak yang melekat pada tiap-tiap pribadi manusia. Al Qur'an sendiri dengan ayat-ayatnya yang bersifat universal, mencakup segala aspek tanpa kenal zaman wal makan, relevan sampai kapanpun dan dimanapun, telah banyak mengajarkan umatnya untuk bersikap adil, berakhlak mulia, saling menghormati dan menghargai antar sesama. Hal ini salah satunya tercermin dalam surat Al Maidah ayat 8 yang memiliki makna; "Hai orang- orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Sila ketiga berbunyi Persatuan Indonesia bermakna bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa bermisikan menyatukan seluruh elemen di Indonesia, bangsa yang satu dan bangsa yang menegara. Dan telah ma'lum dalam konsep Islam akan wujud ajaran untuk selalu menjaga persatuan. Baik persatuan antar umat islam sendiri dengan bingkai "mu'min ikhwah" nya maupun dengan non- islam dalam bingkai kemanusiaannya. (baca missal: QS. Ali Imran: 103 dan QS. Al- Hujuraat: 10). Begitu juga dengan sila ke empat yang mengedepankan asas musyawarah dengan didasari hikmat kebijaksanaan, pun selaras dengan tatanan islam yang mengajarkan untuk bersikap bijaksana dalam mengatasi permasalahan kehidupan dan bermusyawarah dalam suasana yang demokratis. Dalam surat Ali Imran ayat 159 Allah menegaskan yang maknanya; "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." Cerminan nilai-nilai keislaman juga melekat pada sila kelima yang menekankan adanya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam islam teramat banyak konsep-konsep yang bermuatan keadilan. Baik adil terhadap diri sendiri, adil terhadap orang lain, kepada alam ataupun lingkungan. Misi besar Islam yang menyejahterakan umatnya baik di dunia maupun di akhirat tentu belum bisa optimal tanpa diterapkannya nilai-nilai keadilan. Inilah yang menjadikan islam memerintahkan umatnya untuk berlaku adil dalam segala hal. (lihat QS. an-Nahl ayat 90). Walhasil, Pancasila merupakan bangunan dasar atau ideologi negara yang sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Islam yang luwes dengan rumusan-rumasan globalnya, dengan sifat rahmat bagi penghuni alamnya (rahmatan lil 'alamin) membuat Pancasila bisa 'nyempil' di dalamnya. Dengan begitu, patutlah kita sebagai bagian dari warga negara Indonesia senantiasa berusaha melestarikan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semoga dengan hal tersebut kita menjadi manusia yang secara tidak langsung mengamalkan nilai-nilai universal ajaran islam. Menjadi umat yang berislam secara praktis.

KECANTIKAN BIDADARI.

KECANTIKAN BIDADARI.



 Bidadari adalah salah satu nikmat terindah yang di sediakan Allah ta’ala bagi hamba-hambaNya yang beriman dan bertaqwa, mereka adalah gadis-gadis belia yang sebaya dan penuh pesona, hati-hati mereka dipenuhi rasa cinta yang mendalam kepada pasangan-pasangan mereka, mereka laksana mutiara yang terpelihara dan terjaga baik, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya, kecantikan dan keelokan mereka tidak akan berkurang sepanjang masa, rasa cinta dan kesetiaan yang tertanam di dalam hati mereka akan tetap abadi selamanya, dan mereka adalah harta terbaik yang di anugerahkan Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya. Didalam al-qur’an Allah menyebutkan berbagai macam keindahan dan keistimewaan para Bidadari Surga, yang membuat siapa saja membacanya akan berharap untuk segera berjumpa dan memadu kasih dengan mereka, dan diantara keistimewaan para Bidadari surga adalah: 1. Bidadari surga Adalah gadis-gadis yang yang baik dan cantik jelita; Allah ta’ala berfirman di dalam surat ar- Rahman: Artinya:“Di dalam Surga itu terdapat Bidadari-Bidadari yang baik-baik lagi jelita”. (ar-Rahman:70) Makna dari ayat di atas adalah: Bahwa Bidadari-bidadari Surga adalah para gadis yang baik akhlaknya, sifatnya, dan perangainya serta segala hal yang padaya disifati dengan kebaikan, disamping itu mereka juga cantik dalam parasnya, badannya, warna kulitnya, dan perawakannya serta segala hal yang padanya disifati dengan kecantikan, dan mereka semua berada dalam tingkat kemolekan dan kecantikan yang sangat baik dan sempurna, baik dalam hal fisik maupun akhlaknya. Di dalam al-Qur’an Allah ta’ala menyerupakan kecantikan dan keelokan para Bidadari dengan tiga hal, yaitu: - Bidadari-Bidadari Surga laksana permata Yaqut dan Marjan; Allah ta’ala berfirman: Artinya:” Seakan-akan mereka (para Bidadari) adalah permata Yaqut dan Marjan”. (ar_Rahman:58) Dalam ayat tersebut Allah menyerupakan beningnya para bidadari dengan permata yaqut yang benang di dalam permata tersebut bisa terlihat dari luarnya, karena itulah sumsum bertis para bidadari dinyatakan terlihat dari luar daging mereka , dan putihnya kulit mereka yang amat menawan diserupakan dengan putihnya permata marjan. Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “rombongan pertama yang masuk surga laksana bulan purnama, dan rombongan setelah mereka laksana bintang yang bersinar terang di langit, hati mereka terpadu pada hati satu orang, tidak ada kebencian dan kedengkian diantara mereka, setiap orang dari mereka memiliki dua istri dari kalangan Bidadari yang sumsum tulang betisnya terlihat dari luar dagingnya”. (HR.Bukhari) - Bidadari-Bidadari Surga laksana mutiara yang tersimpan baik; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Dan Bidadari-Bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik”.(al-Waaqi’ah:22-23) Dalam ayat diatas Allah ta’ala menyerupakan kebeningan, keputihan, dan kecantikan, para Bidadari dengan mutiara yang tersimpan baik, mereka berkilau dan bersinar bagaikan mutiara yang belum pernah terpengaruh oleh perubahan waktu dan belum pernah terjamah oleh tangan-tangan manusia. Dan di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”andai salah seorang dari perempuan penghuni surga muncul ke Bumi niscaya ia akan menyinari apa-apa yang ada diantara keduanya (Bumi dan langit) bahkan ia akan memenuhi keduanya dengan wangi yang semerbak, dan sungguh kerudung diatas kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya”.(HR.Bukhari) - Bidadari-Bidadari surga laksana telur yag tersimpan baik; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Dan disisi mereka ada (Bidadari- Bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangan, seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan baik”.(ash- Shaaffat:48-49) Sa’id Ibn Jubair berpendapat: putihnya para Bidadari tersebut diserupakan dengan bagian dalam telur yang ada dibalik cangkangnya yang tidak pernah tersentuh tangan manusia. Adapun Ibn Abbas berkata: (maknanya adalah) seakan-akan mereka berada dalam telur yang tersimpan . 2. Para Bidadari adalah gadis-gadis yang suci dari segala kekurangan; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan kelak akan kami masukkan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya, disana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci, dan kami tempatkan mereka pada tempat yang teduh lagi nyaman’.(QS.an-Nisa’:57) Maknanya adalah: bahwa bidadari-Bidadari surga terbebas dari haid, nifas, kencing, berak, kentut, upil, berdahak, beringus dan dari segala hal yang merupakan kekurangan yang terdapat pada wanita dunia. 3. Para Bidadari adalah gadis-gadis perawan dan sebaya umurnya; Allah ta’ala berfirman: Artinya:”kami menciptakan (Bidadari- Bidadari) secara lansung lalu kami jadikan mereka perawan-perawan yang penuh cinta dan sebaya umurnya”.( QS.al- Waaqi’ah:35-37) Maksudnya adalah bahwa mereka para Bidadari Surga adalah gadis-gadis yang sebaya dan perawan, belum pernah terjamah oleh manusia maupun jin sebelumnya (suami mereka). 4. Para Bidadari adalah wanita yang menundukkan pandangan; Allah ta’ala berfirman: Artinya:”Dan disamping mereka ada Bidadari-Bidadari yang tidak liar pandangannya”.(QS.Shad:52) Maksudnya adalah para bidadari selalu menundukkan pandangan mereka, sehingga tidak melihat kecuali kepada pasangan- pasangan mereka, dan hal ini tentu berbeda jauh dengan kondisi para wanita dunia yang terlampau mudah untuk mengumbar pandangan mereka kepada lawan jenis selain suami mereka. 5. Para Bidadari Surga bernyanyi untuk suami mereka; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh istri-istri para penghuni surga akan bernyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara terindah yang belum pernah di dengar oleh seorangpun, diantara nyayian mereka adalah “kami adalah Bidadari-Bidadari yang elok rupa menjadi istri bagi kaum mulia dan kami melihat dengan mata yang jelita “, dan diantara nyayian mereka pula adalah ‘kami adalah Bidadari-Bidadari yang kekal selama- lamanya, dan karenanya tidak ada mati baginya, Kami adalah Bidadari-Bidadari yang menentramkan, dan karenanya kami tidak akan memberikan kekhawatiran kepadanya, Kami adalah Bidadari-Bidadari yang menetap untuknya, karena itu tidak akan pergi meninggalkannya’”(HR.ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh Al-bani dalam shahiihul jaami’). Itulah sebagian sifat dan keistimewaan para Bidadari yang Disebutkan oleh Allah ta’ala dalam kitabNya serta melalui lisan RasulNya Sallallahu ‘alaihi wasallam, semoga dengan mengetahuinya akan membuat kita semakin termotivasi untuk selalu meningkatkan ketaatan kepada Allah ta’ala, dan akhirnya kita memohon kepada Allah ta’ala agar memgumpulkan kita di dalam SurgaNya yang tinggi dan dipenuhi dengan bebargai macam kenikmatan.

KECANTIKAN BIDADARI.

KECANTIKAN BIDADARI. 


Bidadari adalah salah satu nikmat terindah yang di sediakan Allah ta’ala bagi hamba-hambaNya yang beriman dan bertaqwa, mereka adalah gadis-gadis belia yang sebaya dan penuh pesona, hati-hati mereka dipenuhi rasa cinta yang mendalam kepada pasangan-pasangan mereka, mereka laksana mutiara yang terpelihara dan terjaga baik, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya, kecantikan dan keelokan mereka tidak akan berkurang sepanjang masa, rasa cinta dan kesetiaan yang tertanam di dalam hati mereka akan tetap abadi selamanya, dan mereka adalah harta terbaik yang di anugerahkan Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya. Didalam al-qur’an Allah menyebutkan berbagai macam keindahan dan keistimewaan para Bidadari Surga, yang membuat siapa saja membacanya akan berharap untuk segera berjumpa dan memadu kasih dengan mereka, dan diantara keistimewaan para Bidadari surga adalah: 1. Bidadari surga Adalah gadis-gadis yang yang baik dan cantik jelita; Allah ta’ala berfirman di dalam surat ar- Rahman: Artinya:“Di dalam Surga itu terdapat Bidadari-Bidadari yang baik-baik lagi jelita”. (ar-Rahman:70) Makna dari ayat di atas adalah: Bahwa Bidadari-bidadari Surga adalah para gadis yang baik akhlaknya, sifatnya, dan perangainya serta segala hal yang padaya disifati dengan kebaikan, disamping itu mereka juga cantik dalam parasnya, badannya, warna kulitnya, dan perawakannya serta segala hal yang padanya disifati dengan kecantikan, dan mereka semua berada dalam tingkat kemolekan dan kecantikan yang sangat baik dan sempurna, baik dalam hal fisik maupun akhlaknya. Di dalam al-Qur’an Allah ta’ala menyerupakan kecantikan dan keelokan para Bidadari dengan tiga hal, yaitu: - Bidadari-Bidadari Surga laksana permata Yaqut dan Marjan; Allah ta’ala berfirman: Artinya:” Seakan-akan mereka (para Bidadari) adalah permata Yaqut dan Marjan”. (ar_Rahman:58) Dalam ayat tersebut Allah menyerupakan beningnya para bidadari dengan permata yaqut yang benang di dalam permata tersebut bisa terlihat dari luarnya, karena itulah sumsum bertis para bidadari dinyatakan terlihat dari luar daging mereka , dan putihnya kulit mereka yang amat menawan diserupakan dengan putihnya permata marjan. Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “rombongan pertama yang masuk surga laksana bulan purnama, dan rombongan setelah mereka laksana bintang yang bersinar terang di langit, hati mereka terpadu pada hati satu orang, tidak ada kebencian dan kedengkian diantara mereka, setiap orang dari mereka memiliki dua istri dari kalangan Bidadari yang sumsum tulang betisnya terlihat dari luar dagingnya”. (HR.Bukhari) - Bidadari-Bidadari Surga laksana mutiara yang tersimpan baik; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Dan Bidadari-Bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik”.(al-Waaqi’ah:22-23) Dalam ayat diatas Allah ta’ala menyerupakan kebeningan, keputihan, dan kecantikan, para Bidadari dengan mutiara yang tersimpan baik, mereka berkilau dan bersinar bagaikan mutiara yang belum pernah terpengaruh oleh perubahan waktu dan belum pernah terjamah oleh tangan-tangan manusia. Dan di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”andai salah seorang dari perempuan penghuni surga muncul ke Bumi niscaya ia akan menyinari apa-apa yang ada diantara keduanya (Bumi dan langit) bahkan ia akan memenuhi keduanya dengan wangi yang semerbak, dan sungguh kerudung diatas kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya”.(HR.Bukhari) - Bidadari-Bidadari surga laksana telur yag tersimpan baik; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Dan disisi mereka ada (Bidadari- Bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangan, seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan baik”.(ash- Shaaffat:48-49) Sa’id Ibn Jubair berpendapat: putihnya para Bidadari tersebut diserupakan dengan bagian dalam telur yang ada dibalik cangkangnya yang tidak pernah tersentuh tangan manusia. Adapun Ibn Abbas berkata: (maknanya adalah) seakan-akan mereka berada dalam telur yang tersimpan . 2. Para Bidadari adalah gadis-gadis yang suci dari segala kekurangan; Allah ta’ala berfirman: Artinya: ”Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan kelak akan kami masukkan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya, disana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci, dan kami tempatkan mereka pada tempat yang teduh lagi nyaman’.(QS.an-Nisa’:57) Maknanya adalah: bahwa bidadari-Bidadari surga terbebas dari haid, nifas, kencing, berak, kentut, upil, berdahak, beringus dan dari segala hal yang merupakan kekurangan yang terdapat pada wanita dunia. 3. Para Bidadari adalah gadis-gadis perawan dan sebaya umurnya; Allah ta’ala berfirman: Artinya:”kami menciptakan (Bidadari- Bidadari) secara lansung lalu kami jadikan mereka perawan-perawan yang penuh cinta dan sebaya umurnya”.( QS.al- Waaqi’ah:35-37) Maksudnya adalah bahwa mereka para Bidadari Surga adalah gadis-gadis yang sebaya dan perawan, belum pernah terjamah oleh manusia maupun jin sebelumnya (suami mereka). 4. Para Bidadari adalah wanita yang menundukkan pandangan; Allah ta’ala berfirman: Artinya:”Dan disamping mereka ada Bidadari-Bidadari yang tidak liar pandangannya”.(QS.Shad:52) Maksudnya adalah para bidadari selalu menundukkan pandangan mereka, sehingga tidak melihat kecuali kepada pasangan- pasangan mereka, dan hal ini tentu berbeda jauh dengan kondisi para wanita dunia yang terlampau mudah untuk mengumbar pandangan mereka kepada lawan jenis selain suami mereka. 5. Para Bidadari Surga bernyanyi untuk suami mereka; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh istri-istri para penghuni surga akan bernyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara terindah yang belum pernah di dengar oleh seorangpun, diantara nyayian mereka adalah “kami adalah Bidadari-Bidadari yang elok rupa menjadi istri bagi kaum mulia dan kami melihat dengan mata yang jelita “, dan diantara nyayian mereka pula adalah ‘kami adalah Bidadari-Bidadari yang kekal selama- lamanya, dan karenanya tidak ada mati baginya, Kami adalah Bidadari-Bidadari yang menentramkan, dan karenanya kami tidak akan memberikan kekhawatiran kepadanya, Kami adalah Bidadari-Bidadari yang menetap untuknya, karena itu tidak akan pergi meninggalkannya’”(HR.ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh Al-bani dalam shahiihul jaami’). Itulah sebagian sifat dan keistimewaan para Bidadari yang Disebutkan oleh Allah ta’ala dalam kitabNya serta melalui lisan RasulNya Sallallahu ‘alaihi wasallam, semoga dengan mengetahuinya akan membuat kita semakin termotivasi untuk selalu meningkatkan ketaatan kepada Allah ta’ala, dan akhirnya kita memohon kepada Allah ta’ala agar memgumpulkan kita di dalam SurgaNya yang tinggi dan dipenuhi dengan bebargai macam kenikmatan
5 ANJURAN SUNNAH BAGI LAKI-LAKI YANG MAU MENIKAH.


 Pernikahan adalah impian setiap manusia, karena di dalam pernikahan terdapat banyak kelebihan yang tidak mungkin diperoleh oleh orang yang membujang, diantaranya adalah: syahwat bisa tersalurkan secara halal, lebih mudah menundukkan pandangan, mendapatkan keturunan, dan lain sebagainya. Maka agar sebuah pernikahan lebih bermakna, perhatikanlah 5 anjuran sebelum menikah dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini: 1. Memperbaiki niat Hendaklah bagi siapa saja yang mau menikah untuk meperbaiki niat atau tujuan dari pernikahnnya, bahwa tidaklah ia menikah kecuali karena ingin mendapatkan ridha Allah dan menjaga kesuciaan diri. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Seorang mujahid yang memperjuangkan agama Allah, seorang mukatab yang ingin menembus dirinya, dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatannya.” (HR. Tirmidzi Dan An- Nasa’i) 2. Bersegera menikah di waktu muda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng)”. (HR. Bukhari dan Muslim) 3. Menikahi perawan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: Hendaklah kalian memilih yg masih perawan. Sungguh, mulut mereka lebih segar, rahimnya lebih luas (banyak anak), & lebih menerima dengan yang sedikit. (HR.Ibnu Majah) 4. Menikah dengan wanita subur Hendaknya bagi laki-laki yang mau menikah untuk mencari wanita yang subur dan banyak anaknya, hal itu bisa diketahui dengan melihat keluarganya, seperti ibu, kakak perempaunnya, atau keluar dekatnya yang lain, karena biasanya kesuburan antara seorang wanita dan anggota keluarganya tidak jauh berbeda. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menikahlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak”. (HR. Abu Dawud) 5. Menikahi wanita shalihah Mencari wanita yang shalihah adalah hal yang paling penting yang mesti diperhatikan oleh setiap laki-laki yang ingin menikah, karena keberlangsungan sebuah rumah tangga sakinah, sangat bergantung kepada sosok istri yang shalihah. Rasulullaha sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.”(HR.Bukhari dan Muslim) Itulah lima anjuran sunnah bagi setiap laki- laki yang mau menikah, Insya Allah dengan melaksanakan kelima anjuran tersebut pernikahan kita akan lebih berkah dan bermakna, karena tidaklah kita mengikuti satu anjuran Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah pasti akan tambahkan keberkahan bagi kita di dalamnya. 5 Anjuran Sunnah Bagi Laki- Laki Yang Mau Menikah

ZIARAH KUBUR MENJELANG RAMADHAN: ANTARA TRADISI DAN DALIL SY

ZIARAH KUBUR MENJELANG RAMADHAN: ANTARA TRADISI DAN DALIL SY 

Menjelang Ramadhan, sebagian kaum muslimin di Nusantara mempunyai tradisi ziarah kubur, baik ke makam kerabat maupun auliya. Ada yang menyebutnya dengan Nyekar, Munggah dan lain-lain. Mengenai bagaimana hukumnya, tradisi ini telah lama menjadi perselisihan. Tentang Ziarah Kubur Sebelum secara khusus membahas ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan, sebaiknya persoalan ziarah kubur dibahas terlebih dahulu. Mulanya, Nabi Saw melarang ziarah kubur sebagaimana hadits berikut: ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ ﺣَﺴَّﺎﻥَ ﺑْﻦِ ﺛَﺎﺑِﺖٍ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : «ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺯَﻭَّﺍﺭَﺍﺕِ ﺍﻟْﻘُﺒُﻮﺭِ » Arti matan: “Rasulullah Saw melaknat para peziarah kubur.” [Al-Hakim (w. 405 H), Al- Mustadrak ‘alash Shahihain] Al-Hakim kemudian menjelaskan bahwa hukum haram dalam hadits di atas dihapus oleh hadits berikut: ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : « ﻗَﺪْ ﻛُﻨْﺖُ ﻗَﺪْ ﻧَﻬَﻴْﺘُﻜُﻢْ، ﻋَﻦْ ﺯِﻳَﺎﺭَﺓِ ﺍﻟْﻘُﺒُﻮﺭِ ﺃَﻟَﺎ ﻓَﺰُﻭﺭُﻭﻫَﺎ » Dari Nabi Saw: “Sungguh aku telah pernah melarang kalian untuk melakukan ziarah kubur, kemudian berziarahlah.” [Al-Hakim (w. 405 H), Al-Mustadrak ‘alash Shahihain. Dalam kitab Shahih-nya, Imam Muslim (w. 261 H) mencantumkan hadits tentang penghapusan hukum haram ziarah kubur dalam bab ‘Minta Izinnya Nabi Saw untuk Ziarah Kubur Ibunya’] Dari hadits di atas, mayoritas ulama menetapkan hukum asal ziarah kubur sebagai boleh. Bahkan kalangan Syafi’iyyah menghukuminya dengan sunnah atau mustahabb [lihat misalnya Abul Hasan Al- Mawardi (w. 450 H), Al-Hawi Al-Kabir]. Adapun perihal teknis tata-cara dan keutamaan pelaksanaannya, ulama berbeda pendapat. Imam Syafi’i menganjurkan agar ketika ziarah kubur yang dilakukan adalah memintakan ampunan bagi mayit, melembutkan hati dan mengingat-ingat segala hal yang terkait dengan kehidupan akhirat [Imam Syafi’i (w. 204 H), Al-Umm]. Dalam hal ini, hal paling prinsip yang disepakati ulama adalah jangan sampai jatuh dalam kemusyrikan seperti meminta kepada mayit. Selebihnya, manfaatnya sangat besar. Di antaranya adalah adalah dapat mengingatkan manusia kepada kematian sebagai mana hadits berikut: ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : « ﻧَﻬَﻴْﺘُﻜُﻢْ ﻋَﻦْ ﺯِﻳَﺎﺭَﺓِ ﺍﻟْﻘُﺒُﻮﺭِ ﻓَﺰُﻭﺭُﻭﻫَﺎ، ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﺗُﺬَﻛِّﺮُﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ » Rasulullah Saw bersabda: “Aku pernah melarang kalian melakukan ziarah kubur, kemudian ziarah kuburlah kalian karena ia dapat mengingatkan kalian akan kematian.” [Al-Hakim (w. 405 H), Al- Mustadrak ‘alash Shahihain] Melalui ziarah kubur, sebagaimana dikemukakan Imam Al-Ghazali, peziarah bisa mengambil pelajaran (al-i’tibar) dari mayit, yaitu dengan membayangkan keadaan mayit, mulai bagaimana nyawanya keluar dari jasadnya sampai bagaimana kelak ia dibangkitkan lagi di hari pembalasan kemudian peziarah membayangkan dirinya semakin dekat dengan keadaan itu. Hal ini bisa mendekatkan diri kepada Allah [Imam Al-Ghazali (w. 505 H), Ihya` ‘Ulumiddin] Sebegitu pentingnya pelajaran yang bisa diambil (al-i’tibar) dari ziarah kubur, sampai-sampai para pelaku ‘uzlah (orang yang menyendiri dan menjauhi hiruk-pikuk kehidupan bersama manusia demi menghindari fitnah dalam pergaulan dan demi menuju Allah) tidak pernah keluar rumah kecuali di antaranya adalah untuk shalat Jum’at dan ziarah kubur. [Imam Ghazali (w. 505 H, Ihya` ‘Ulumiddin, bab ‘Uzlah] Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan Memang hampir tidak ditemukan dalil khusus yang bisa dijadikan rujukan tentang pelaksanaan ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan. Belum ditemukan keterangan yang secara khusus membolehkan, pun juga yang melarang. Maka, wajar jika kemudian ini menjadi perdebatan. Sementara fenomena ziarah kubur menjelang Ramadhan sudah menjadi tradisi bagi sebagian kaum muslimin di Nusantara, maka alangkah bijaknya jika fenomena itu dimaknai sebagai aktivitas budaya yang sarat akan nilai reliji. Di tengah gempuran arus gaya hidup materialis dan hedonis, agaknya ziarah kubur bisa menjadi sarana pengerem dan peredamnya. Terlebih, memasuki bulan suci Ramadhan, ziarah kubur bisa menjadi sarana persiapan batin. Inipun sebaiknya tidak dimaknai sebagai ubudiyyah an sich karena menetapkan hal-hal yang terkait dengan peribadatan tanpa sumber yang jelas adalah tidak boleh, tetapi sebagai bentuk kreativitas budaya yang harmonis dengan nilai-nilai reliji. Wallahu a’lam.

JEJAK PEREMPUAN PEJUANG

JEJAK PEREMPUAN PEJUANG

 Selama ini yang banyak diajarkan dan lebih populer adalah dominasi para pejuang kemerdekaan pria. Corak sejarah yang androsentris seperti ini menempatkan perempuan hanya sebagai figuran. Keadaan ini memang tidak adil karena sesungguhnya perempuan dapat dipandang sebagai pribadi yang mandiri, yang bisa menggerakkan sejarah. Sejarah adalah mengingat yang lupa, dan bangsa Indonesia yang besar ini tak pantas untuk melupakan jejak langkah perjuangan kaum perempuan sebagai Ibu Pertiwi. Perempuan adalah salah satu agent of change yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Keberadaannya sangat menentukan peradaban suatu bangsa. Baik buruknya perempuan menjadi cerminan baik buruknya suatu bangsa. Sejarah pun telah mencatat nama-nama agung perempuan yang pernah dilahirkan di dunia ini. Hampir setiap negara memiliki perempuan-perempuan agung yang mampu menjadi pionir perubahan bagi masyarakatnya, tidak terkecuali negara Indonesia. Tampilnya perempuan Indonesia menjadi pionir disebabkan karena keresahannya melihat kondisi sosial disekitarnya yang tidak adil. Ketidakadilan dan kezaliman ini terlihat jelas ketika Indonesia berada dibawah cengkeraman penjajah, baik Portugis, Belanda, maupun Jepang. Banyak contoh peran perempuan dalam sejarah perjuangan Indonesia, yang tersebar di seluruh Nusantara berkiprah untuk satu tujuan menjadi pengawal negeri, menjadi “Ibu Pertiwi”. Mereka adalah Ratu Kalinyamat, Malahayati, Safiatudin, Nyi Ageng Serang, Siti Aisyah We Tenriolle, Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Pocut Baren, Cut Nyak Meutia, Pocut Meurah Intan, Siti Walidah, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Rahmah El- Yunusiyah, H.R. Rusana Said, dan Solichah A. Wahid Hasyim, dan ai- lain. Tahun 1511 adalah catatan awal invasi bangsa Eropa pertama ke wilayah Nusantara. Inilah perang Sabil pertama dalam sejarah Islam Nusantara, yang ditandai dengan agresi tentara Kerajaan Protestan Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque yang berpusat di Goa, India, terhadap Kerajaan Islam Malaka, yang ketika itu di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Syah I (memerintah tahun 1488 – 1511). Di ujung pulau Sumatera, Kesultanan Aceh belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada paruh pertama abad ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku keras di pasaran Tiongkok dan Eropa. Hubungan dengan pedagang dari pesisir laut merah pun segera terjalin. Ini membawa keuntungan bagi Kesultanan Aceh. Portugis melihat itu sebagai ancaman, sementara sultan-sultan Aceh menilai Portugis sebagai lawan. Perang pun tak terelakkan. Aceh menyerang Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574, dan 1629. Dalam peperangan itu, Aceh menyertakan armada perempuan. Orang Portugis agak canggung dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan: mereka harus berperang melawan para perempuan. Inilah tilas mula keperkasaan perempuan Aceh. Kesertaan perempuan Aceh ditemukan dalam perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Jennifer Dudley, mahasiswi doktoral Universitas Murdoch, menyebut perempuan- perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. “Mereka menemani suaminya berperang, sementara sisanya adalah janda atau tunangan dari prajurit yang gugur dalam perang sebelumnya,” tulis Dudley dalam “Of Warrior Women, Emancipiest Princesses, ‘Hidden Queens’, and Managerial Mothers.” Dari sinilah sejarah perempuan pejuang bermula, darah Syahidah Keumalahayati mengalir dari Selat Malaka mewarnai lautan yang menghubungkan antar Nusa yang bernama Nusa-Antara (Nusantara). Nama Malahayati dari Kesultanan Aceh yang berhasil meluluh lantakan armada-armada penjajah. Reputasinya sebagai penjaga Selat Malaka yang handal sangat ditakuti oleh armada-armada Portugis, Belanda dan Inggris. Nama Malahayati mampu membuat bergidik kapal-kapal asing. Sebelum Malahayati, sosok yang ditakuti tentara Portugis, mereka menyebutnya Rainha da Japara, senhora poderosa e rica, yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa. Dia adalah Ratu Kalinyamat dari Jepara yang bersekutu dengan Kesultanan Aceh menggempur Portugis di Selat Malaka. Kehebatan dan kekayaan Ratu Kalinyamat digunakan untuk menegakan agama Allah. Dia tidak rela bumi Nusantara dijadikan perpanjangan tangan perang salib. Ratu Kalinyamat dan Malahayati adalah “Ibu Pertiwi”, ibu dari para penjaga negeri, semangat mereka melahirkan para perempuan pejuang di bumi Nusantara dari masa ke masa.

SEJARAH HADROH

SEJARAH HADROH


 Hadrah atau lebih populer dengan sebutan terbangan perkembangannya tak lepas dari sejarah dakwah Islam. Seni ini memiliki semangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada yang tahu secara persis, kapan datangnya musik hadrah di Indomesia. Namun hadrah atau yang lebih populer dengan musik terbangan (rebana bahasa jawa) tersebut tak lepas dari sejarah perkembangan dakwah Islam para Wali Songo. Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa pada setiap tahun di serambi Masjid Agung Demak, Jawa Tengah diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan rebana. Para Wali songo menggadopsi rebana dari Hadrolmaut sebagai kebiasaan seni musik untuk dijadikan media berdakwah di Indonesia. Menurut keterangan ulama besar Palembang Al Habib Umar Bin Thoha Bin Shahab, adalah Al Imam Ahmad Al Muhajir (kakek dari Wali Songo kecuali Sunan Kalijaga), ketika hijrah ke Yaman ( Hadrolmaut ) bertemu dengan salah satu pengikut tariqah sufi (darwisy) yang sedang asyik memainkan hadrah (rebana) serta mengucapkan syair pujian kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan pertemuan itu mereka bersahabat. Setiap Imam Muhajir mengadakan majelis maka disertakan darwisy tersebut, hingga keturunan dari Imam Muhajir tetap menggunakan hadrah disaat mengadakan suatu majelis. Hadrah selalu menyemarakkan acara- acara Islam seperti peringatan Maulid Nabi, tabligh akbar, perayaan tahun baru hijriyah, dan peringatan hari-hari besar Islam lainnya. Sampai saat ini hadrah telah berkembang pesat di masyarakat Indonesia sebagai musik yang mengiringi pesta pernikahan, sunatan, kelahiran bayi, acara festival seni musik Islami dan dalam kegiatan ekstrakulikuler di sekolahan, pesantren, remaja masjid dan majelis taklim. Makna hadrah dari segi bahasa diambil dari kalimat bahasa Arab yakni hadhoro atau yuhdhiru atau hadhron atau hadhrotan yang berarti kehadiran. Namun kebanyakan hadrah diartikan sebagai irama yang dihasilkan oleh bunyi rebana. Dari segi istilah atau definisi, hadrah menurut tasawuf adalah suatu metode yang bermanfaat untuk membuka jalan masuk ke ‘hati’, karena orang yang melakukan hadrah dengan benar terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah dan Rasul-Nya. Syair-syair Islami yang dibawakan saat bermain hardah mengandung ungkapan pujian dan keteladanan sifat Allah dan Rasulullah SAW yang agung. Dengan demikian akan membawa dampak kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Para sufi yang biasanya melibatkan seruan atas sifat – sifat Allah yang Maha Hidup (Al- Hayyu), melakukannya sambil berdiri, berirama dan melantunkan bait-bait pujian atas baginda Nabi Muhammad SAW. Kekuatan Mahabbatur Rasul Pujian terhadap Rasulullah baik dalam bentuk prosa maupun syair, telah ada sejak zaman Rasululah SAW lewat bait-bait gubahan tiga penyair terkenal yaitu Hasan ibn Tsabit, Abdullah ibn Rawahah dan Ka’ab ibn Malik. Nabi justru sangat terkesan dengan keindahan syair (qasidah) yang disampaikan oleh Ka’ab ibn Zuhayr ibn Abi Salma. Karena rasa sukanya, Nabi Muhammad pernah menghadiahkan selendang (burdah) untuk Ka’ab. Sanjungan yang sering disampaikan para shahabat ini bersifat metaforik dan gaya simbolik sehingga mengilhami syair dan prosa dalam kitab-kitab Malid semisal al-Barzanji, ad-Diba’i, atau qasidah al-Burdah. Adalah Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad ibn Zaid as- Shanhaji al-Bushiri (1213-1296 M/610-695 H) ahli hadis, penulis, sekaligus sastrawan kondang asal Mesir yang menulis 162 syair burdah. Semasa hidupnya al-Bushiri pernah berguru kepada Imam as- Syadzili (pendiri Tarikat Sadziliyah) dsn penerusnya Abdul Abbas al- Mursi. Sajak-sajak Burdah yang 162 bait itu terdiri dari 10 bait tentang cinta, 16 tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Rasulullah SAW, 19 tentang kelahirannya, 10 tentang pujian terhadap al-Qur’an, 3 tentang Isra’ Mi’raj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan munajad. Al-Bushairi memulai karyanya dengan membuka pertanda mabuk asmara dengan bercucuran air mata dan kegalauan hati. Tetapi ia mengingatkan bahwa tetesan air mata dan kegalauan itu tak selamanya menandakan cinta, karena didepan telah ada hawa nafsu yang siap membelokkan arah. “Nasfu ibarat anak kecil yang jika dibiarkan akan terus menyusu hingga masa mudanya, tapi jika dihentikan sedikit demi sedikit, ia akan berhenti dengan sendirinya.” (Bait ke-19). Bagi al-Bushiri nafsu seolah binatang gembala yang harus terus dijaga setiap saat. Sekalipun ia terlihat tenang ketika menikmati makanan rumput yang hijau, tetap jangan lengah.” (Bait ke-21). Setelah menyadari bahwa nafsu selalu dinahkodai setan, maka al-Bushiri memperkenalkan sosok yang seluruh tenaga, pikiran, hati dan waktunya dihabiskan untuk kebenaran yaitu Nabi Muhammad SAW. Segala hinaan, permusuhan, lemparan batu dan kotoran, hingga usaha pembunuhan diterimanya dengan penuh ketabahan. Al-Bushairi menyadari bahwa betapapun besar pujinya untuk Nabi SAW, namun semua tidak menambah kemuliaan dan kedudukan Nabi. Di puji dan tidak pun Nabi Muhammad akan tetap mulia karena kemuliaan itu telah melekat dalam dirinya. Sementara dalam kitab al-Barzanji karya Syekh Jafar Al Barzanji ibn Husin ibn Abdul Karim (1690-1766 M), sebagian syairnya mengungkapkan adanya rasa kerinduan akan hadirnya seorang pemimpin seperti Nabi Muhammad SAW yang tegas, jujur dan bijaksana. Karya sastra yang begitu masyhur di Tanah Air ini bahkan pernah disyarah (dijabarkan) oleh Syekh Nawawi al- Bantani dengan judul Madarijus Shu`ud ila Iktisa` al-Burud. Penulisan Kitab Barzanji juga tidak terlepas dari sejarah panjang konflik militer dan politik antara umat Islam dan umat Kristen Barat dalam Perang Salib. Selama Perang Salib berlangsung, Sultan Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M) mengobarkan semangat perjuangan dengan meneladani perjuangan Nabi Muhammad dalam peringatan Maulid Nabi. Segenap ulama seperti Imam Syafi’i, Hasan Basri dan Ibnu Taimiyah sepakat bahwa pujian terhadap Nabi Muhammad SAW adalah hal yang wajar asal tak sampai mengangkat derajad kemanusiaan (Nabi Muhammad) ketingkat ketuhanan (deity). Syair Burdah dan Barzanji secara tidak langsung memiliki kekuatan yang akan membawa hati dan pikiran manusia terbawa hanyut dalam pesona cinta (mahabbatur Rasul). Budaya di Indonesia Pasca kemerdekaan, perkembangan musik hadrah di Indonesia tak terlepas dari peranan Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari). Ishari adalah salah satu badan otonom yang berada di bawah organisasi Nahdlatul Ulama (NU), disahkan pada tahun 1959. Pengorganisasian dan nama ISHARI diusulkan oleh salah seorang pendiri NU yakni KH Wahab Chasbullah. Menurut Gus Hasib, putra KH Wahab Hasbullah, semasa hidup, Kiai Wahab sangat senang hadrah. Bahkan kalau sedang diam tangannya suka memukul-mukul sebagai isyarat memukul terbang (hadroh: red) sambil melagukan bacaan sholawat. Karena ia juga senang berorganisasi akhirnya kelompok hadrah dibuatkan wadah perkumpulan dibawah organisasi NU dengan nama ISHARI atau Ikatan Seni Hadroh Republik Indonesia. Terbentuknya ISHARI di NU menjadi salah satu organisasi yang memelopori tradisi keagamaan warga pesantren dengan menghidupkan pembacaan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hampir seluruh pesantren di Jawa Timur memiliki kegiatan ekstra setiap malam jum’at menggelar kegiatan shalawatan. Sebut misalnya Pondok Pesantren Langitan Tuban, Jawa Timur. Selain mendalami ilmu agama, di pesantren yang diasuh KH Abdullah Faqih ini juga terdapat kegiatan seni hadrah untuk para santri. Hadrah menjadi media apresiasi seni bagi para santri untuk menyalurkan bakat dan minat santrinya. Walhasil, beberapa group pun terbentuk antara lain Annabawiyyah, Arraudhah dan Al-Muqtasida. Kemahiran para santri dalam bidang seni suara (qiraat) dan seni musik (hadrah) berpadu sehingga tiga grup tersebut dikenal khalayak umum di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, hingga sekarang. Di era 80-an, musik hadrah yang dikenal dengan nama rebana qasidah menjadi salah satu musik favorit pada saat itu. Group musik yang menyemarakkan acara-acara tabligh akbar atau perayaan hari-hari besar Islam adalah Nasida Ria, Semarang. Kepiawaian para personil yang terdiri dari kaum perempuan ini mampu membumikan nama Nasida Ria ke seluruh nusantara sebagai salah satu musik Islami modern. Lirik dan warna musik yang ditawarkan Nasida Ria mendapatkan sambutan luas dari masyarakat Muslim Indonesia. Bahkan, salah satu lagunya yang berjudul ”Perdamaian” dipopulerkan kembali oleh Gigi. Pada tahun 1990-an, muncul kelompok-kelompok kasidah rebana beraliran pop yang dipopularkan oleh Hadad Alawi dan Sulis. Haddad Alwi tidak hanya membawakan lagu-lagu berlirik Arab namun juga menerjemahkannya kedalam bahasa Indonesia. Salah satu syair fenomenal yang dibawakan Hadad Alwi adalah do’a I’tiraf (pengakuan), gubahan penyair Irak terkenal, al- Hasan ibn Hani al-Hakami atau Abu Nawas (136 – 196 H). Dalam syair I’tiraf (pengakuan) Abu Nawas sangat menyadari bahwa dirinya bukanlah orang ideal untuk masuk surga. Namun ia pun tak akan sanggup menahan siksa api neraka. Satu kesadaran bahwa dia benar- benar orang yang banyak dosa. Dosa yang telah ia perbuat bagaikan pasir di pantai. Oleh karena itu ia kembali kepada Allah momohon ampunan karena tak ada yang sanggup memberi ampunan kecuali Rahmat- Nya

JEJAK PANGERAN DIPONEGORO DI PESANTREN TUA


 JEJAK PANGERAN DIPONEGORO DI PESANTREN TUA


 25 tahun sejak penangkapan Pangeran Diponegoro oleh De Kock, pahlawan Goa Selarong ini menghembuskan nafas dalam kesunyian benteng . Jauh dari kerumunan sanak dan para pengikutnya. Ia wafat pada hari Senin 8 Januari 1855, dalam usia 73 tahun (versi lain usia 69 tahun). Jenazahnya di kuburkan di luar benteng Rotterdam, di kampung Melayu sebelah utara Ujungpandang (sekarang Makasar). De Kock menjauhkannya dari peradaban pasca perang Jawa. Perang yang menaikkan citranya, dari sekedar bangsawan Mataram, menjadi messiah tanah Jawa. Memimpin perlawanan terbesar sepanjang sejarah kolonialisme Hindia Belanda di tanah Jawa, Sekaligus perang yang menghabiskan pundi-pundi kerajaan Belanda. Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Sedangkan hampir separuh masyarakat Yogya berkurang dalam kurun 5 tahun peperangan. Pangeran Diponegoro bernama asli pangeran Ontowiryo. Bangsawan kraton sekaligus berdarah ulama. Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati, keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram. Meskipun ditawari menjadi raja oleh ayahnya, Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo , tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng, daripada di keraton. Disanalah Ontowiryo muda dibesarkan dalam kesederhanaan tradisi pesantren yang sarat dengan nilai budi dan kemanusiaan. Kini telah 158 tahun meninggalnya Diponegoro. Nama yang pernah menggetarkan tanah Jawa sepanjang 350 tahun kolonialisme Belanda ini hampir tak pernah terusik namanya. Makamnya yang jauh dari tanah lahirnya memungkinkan orang cepat melupakannya. Dia pernah diusik oleh puisi Chairil Anwar dan film yang diangkat di era ORBA. Setelah itu hanya sayup-sayup terdengar diantara lintasan buku sejarah atau nama jalan. Diponegoro sunyi. Pahlawan, sering sendiri. Mereka bertahta kemenangan, tapi sepi dalam kesendirian peran. Mereka di puncak tanpa teman. Tersisih dari peran kebanyakan. Sedikit sekali tulisan yang menggambarkaan saat-saat terakhir pangeran Goa Selarong ini. Orang hanya tahu pengkhianatan De kock mengakhiri kebebasan Diponegoro. Namun di beberapa pesantren tua, namanya masih sering disebut. Setidaknya setiap pergantian tahun, dimana buku kelas akhir memuat sejarah pesantren, maka nama Diponegoro melekat kuat begitu saktinya. Dari pesantren kembali ke pesantren, demikian semangat historis sang messiah ini. Tak banyak diketahui bagaimana para ulama dan kyai menjadi elemen penting pengikut Diponegoro. Padahal masa sebelumnya ulama dan keraton berbatas garis demarkasi gara-gara kedekatan keraton dengan kolonial yang dicap kafir. Dari penemuan Carey, diketahui pengikut Diponegoro terdiri dari berbagai elemen. Di samping prajurit yang dilatih militer, pasukan juga terdiri dari kyai dan ulama yang notabene mempunyai kemampuan ilmu kanuragan. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu yogyakarta dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro. Yang menarik diungkap adalah perjuangan para ulama pasca perang Jawa tersebut. Beberapa pondok pesantren tua di Jawa, terutama Jawa Timur menyimpan kronik-kronik sejarah ini. Di Magetan, terdapat masjid kuno peninggalan pengikut Diponegoro yakni masjid KH Abdurrahman yang berada di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi. Seperti namanya, masjid KH Abdurahman didirikan oleh KH Abdurrahman pada tahun 1835 Masehi. “Waktu itu setelah kalah perang melawan penjajah Belanda, para pengikut Pangeran Diponegoro ini menyebar dan mendirikan masjid yang dijadikan sebagai tempat pendidikan dan perjuangan termasuk di masjid ini,” jelas keturunan kelima KH Abdurrahman, KH Gunawan Hanafi. Halnya sejarah pondok Tambakberas Jombang, juga tak bisa dilepaskan dari keterkaitan historis dengan perang Diponegoro. Sebab pendiri dan pembabat alas desa dan Pondok Tambakberas, kyai Abdus Salam atau lebih dikenal dengan sebutan mbah Soikhah adalah pengikut setia Pangeran Diponegoro. Pada akhir perang, para kyai pengikut Pangeran Diponegoro berkumpul dan bersepakat untuk merubah arah perjuangan mereka. Dari perang fisik menjadi perjuangan di bidang pendidikan. Mereka berpencar untuk menyebarkan pendidikan Islam di berbagai penjuru mata angin. Satu komitmen mereka adalah adanya penanda di lokasi masing-masing sebagai perwujudan semangat persatuan dan perlawanan terhadap kemungkaran. Penanda itu adalah adanya 2 pohon sawo di depan tinggal masing-masing. Pohon sawo ini adalah filosofi dari kalimat “sawwu sufufakum” yang artinya” rapatkan barisanmu”. Dari beberapa padepokan kecil, berkembang pesantren-pesantren tua di Jawa seperti pondok Pabelan Magelang, pondok Sabilil Muttaqin, Takeran, Magetan, pondok Hidayatuth Thullab Trenggalek, dan tentu saja pondok Tambakberas Jombang. Tak terhitung ribuan santri yang menjadi alumni dan kelak seharusnya meneruskan perjuangan Diponegoro, melawan penindasan dan kemungkaran. Karena begitulah semangat seharusnya diwariskan. dari berbagai sumber.

MENJAGA KHAZANAH KLASIK NUSANTARA.

MENJAGA KHAZANAH KLASIK NUSANTARA. 

Kitab sebagai ruh kebudayaan sudah semakin dilupakan orang. Kitab dianggap sebagai sebuah dokumen statis yang karena ketuaannya dan tidak bisa diakses lagi maka disimpanlah di museum yang akhirnya terlepas dengan pemangkunya yaitu umat sebagai pembaca. Di sisi lain, ada orang yang terlalu hormat pada naskah tetapi tidak dibaca melainkan hanya dikeramatkan sehingga menjadi pusaka (jimat), tidak lagi menjadi pustaka (sumber pengetahuan) bahkan sumber kehidupan. Sebuah kitab agama, maka pemuseuman itu sedikit sekali terjadi, tidak seperti karya sastra, karena agama ada pemangku abadinya yaitu ulama dan ada pengamal massalnya yaitu ummat. Melihat kenyataan itu, maka pada zaman penjajahan Inggris yakni Raffles banyak melakukan perampasan naskah penting baik yang bersifat sastra maupun agama, kemudian perdagangan gelap naskah mulai marak, yang semuanya mengalir ke benua Eropa dan Amerika. Belanda meniru strategi Inggris tersebut, lalu mulai ikut melacak keberadaan naskah. Di tangan mereka, naskah tidak hanya dianggap benda klasik, tetapi dipercaya sebagai pembawa petunjuk dan sekaligus spirit hidup dan perjuangan. Dengan pemahaman politik kebudayaan itu, maka perampasan naskah kitab dan serat-serat itu sebagai sebuah strategi kebudayaan untuk melumpuhkan bangsa ini, tidak hanya bidang pemikiran, tetapi juga dalam bidang perjuangan politik. Zaman itu muncul para indolog (ahli tentang pribumi) seperti Kern, Drewes, NJ. Kroom, Pigeaud dan sebagainya. Mereka melakukan pembelokan isi naskah atas nama standarisasi. Kehadiran Pangeran Diponegaro yang berangkat dari berbagai naskah klasik baik yang Hindu dan terutama kitab para Wali dan ulama pesisiran, mampu membangkitkan harga diri Masyarakat Nusantara dan selanjutnya mampu mendinamisir mereka sebagai kelompok perlawanan, sehingga mampu mengobrak-abrik pertahanan Belanda. Maka, Perang Diponegoro merupakan perang semesta terbesar yang pernah terjadi di negeri ini. Melihat kenyataan itu, berbagai naskah Islam yang menjadi spirit perjuangan mulai dikaji dan diedit agar berbahasa dan beralur standar. Sejak itu, penyimpangan mulai terjadi, bahkan kemudian secara pelahan disisihkan dan disingkirkan dan dilenyapkan. Tidak sedikit pula yang ditenggelamkan di lautan. Karya zaman Islam dianggap tidak penting karena dianggap hanya kelanjutan dari naskah zaman sebelumnya, yakni zaman Hindu. Pemisahan umat Islam dengan sumber spirit dan ilmu pengetahuan itu dilakukan untuk meruntuhkan harga diri umat Islam dan semangat perjuangan mereka agar tidak lagi bangkit melawan Belanda. Dari situ, kita ditaklukkan selama beberapa abad. Selama ini, kita dirisaukan oleh pencurian naskah-naskah Nusantara, pertama hanya terjadi di Melayu dan kawasan Sumatera pada umumnya, tetapi belakangan pencurian oleh Negara asing telah merambah ke kitab-kitab ulama yang ada di Kalimantan, Jawa dan Sulawesi, yang kemudian dibawa dan disimpan di Malaysia, tidak sedikit yang kemudian diklaim sebagai karya bangsa mereka. Langkah itu sebagai upaya Malaysia untuk menjadi pusat Islam dan pusat kebudayaan Melayu, sehingga mereka akan menjadikan dirinya sebagai pemimpin bangsa Melayu. Itulah tujuan politik jangka panjang pencurian naskah dan kitab- kitab tersebut. Kalau selama ini masyarakat tahunya penyerobotan dilakukan oleh Malaysia, ternyata kalangan masyarakat Timur Tengah juga melakukan hal yang sama. Pembajakan kitab Sirajut Tholibin oleh sebuah penerbit di Beirut dengan mengubah nama pengarangnya adalah sebuah strategi kebudayaan untuk melumpuhkan spirit bangsa ini. Kalau selama ini Islam Nusantara dianggap sebagai bentuk lain dari Islam Arab yang lebih formalis, maka dengan mengklaim berbagai kitab Nusantara oleh penerbit Arab, maka gerakan kebudayaan Islam Nusantara akan kehilangan referensi. Apalagi ada yang mensinyalir, tumbuhnya generasi baru di dunia Arab yang fanatik, sehingga merasa risi menerima kehadiran pemikiran ulama non-Arab terutama Nusantara yang dianggap lebih rendah. Dengan demikian, pembajakan ini tidak bisa diartikan sebatas soal ekonomi atau pengetahuan, tetapi telah menyangkut persoalan politik kebudayaan. Maka sangat ironis sebuah penerbit besar seperti Darul Fikr yang secara resmi menerbitkan Karya Kiai Ihsan itu tidak memberikan penghargaan sedikitpun pada penulis dan keluarganya. Apalagi penerbit Darul Kutubul Ilmiyah, selain tidak memberikan royalti , nama pengarangnya juga diganti dengan pengarang Timur Tengah, seolah ulama Nusantara tidak mampu melahirkan karya Monumental seperti Kitab kiai Ichsan dan ulama yang lain seperti Kiai Machfud, Kiai Nawawi, Al- Banjari, Hamzah Fansuri dan sebagainya. Kita perlu memahami duduk persoalan ini, sehingga mampu memperjuangkan secara lebih proporsional. Dan yang lebih penting lagi kita bisa melihat persoalan ini secara lebih luas, bukan sekadar hak cipta, tetapi merupakan sebuah strategi kebudayaan yang utuh. Karena itu, kita mesti menempatkan persoalan ini dalam tataran kebudayaan, masalah imperialisme kebudayaan, maka yang perlu dipikirkan adalah strategi pembebasan kebudayaan.

Sejarah Kabupaten Cilacap

Sejarah Kabupaten Cilacap

1. Zaman Kerajaan Jawa

Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari timur ke arah barat :
- Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
- Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur
- Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh kerjaan Islam Banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap di sebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopatipada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram .

Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon.

Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur dan Limbangan.

2. Zaman Penjajahan Belanda

Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy bertugas) dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli 1839 Nomor 1, memutuskan :
"Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pelabuhan Cilacap, maka sambil menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang akan menjadi bagiannya, satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan ini akan berkedudukan di Cilacap".

Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal 27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang menjadi tempat kedudukan Kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent. Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder Regentschap setaraf dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur.

Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.

Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut:
Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung Prenteng. Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat). dari sana ke arah selatan mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut. Dari sana ke arah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu.
Dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks Kawedanan Kroya, karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub-bagian Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas. Sehingga luas kawasan Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap sekarang.

Pada masa Residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86, dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220 per tahun yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda,setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten Cilacap).

Daftar Nama Bupati Cilacap :

  1. R. Tumenggung Tjakra Werdana II (1858-1873)

  2. R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)

  3. R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)

  4. R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)

  5. R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)

  6. Raden Mas Soetedjo (1950-1952)

  7. R. Witono (1952-1954)

  8. Raden Mas Kodri (1954-1958)

  9. D.A Santoso (1958-1965)

10. Hadi Soetomo (1965-1968)

11. HS. Kartabrata (1968-1974)

12. H. RYK. Moekmin (1974-1979)

13. Poedjono Pranyoto (1979-1987)

14. H. Mohamad Supardi (1987-1997)

15. H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)

16. H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002-2009)

17. H. Tatto Suwarto Pamuji (2011-sekarang).


 Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cilacap
Jalan MT. Haryono Nomor 29 Cilacap 53213
Telp.(0282)534725 Fax.(0282)521881


Kerajaan Nusatembini Legenda Cilacap

Kerajaan Nusatembini Legenda Cilacap

Cerita sejarah tentang Kerajaan Nusatembini mengambil setting di wilayah sekitar Pulau Nusakambangan. Nusatembini diceritakan sebagai sebuah Kerajaan Siluman yang cukup besar. Kerajaan ini memiliki wilayah di sekitar pantai Cilacap hingga pulau Nusakambangan. Keraaan ini memiliki benteng alamiah berupa tanamana bambu hingga tujuh lapis (Baluwarti pring ori pitung sap). Penggambaran benteng alamiah dari pagar bambu lapis tujuh itu dapat ditafsirkan bahwa si pembuat cerita hendak mengatakan bahwa pertahanan kerajaan Nusatembini terebut cukup kuat. Selain itu juga menunjukkan bahwa tanaman Bambu Ori merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai pagar atau pengamanan bagi masyarakat Cilacap terhadap gangguan keamanan.

Kerajaan Nusatembini dipimpin oleh seorang penguasa wanita (raja putri) berparas cantik bernama Brantarara. Kecantikan sang putri menarik perhatian para penguasa dari kerajaan lain untuk menjalin kerjasama hingga mempersuntingnya sebagai permaisuri. Akan tetapi untuk mempersunting sang putri tidaklah mudah, karena begitu ketatnya penjagaan dan pertahanan. Banyak raja yang gagal hanya sekadar untuk dapat memasuki wilayah istana kerajaan Nusatembini.

Cerita tentang keberadaan penguasa Kerajaan dari kaum hawa ini sesungguhnya dapat dipandang sebagai simbol tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam hak-hak politik. Dengan demikian pandangan yang mengangap bahwa dalam budaya Jawa kaum wanita dipandang lebih rendah dibandingkan dengan kaum pria tidak terbukti dalam alam pikiran si pembuat cerita sejarah Kerajaan Nusatembini tersebut. Dalam kebudayaan Cilacap ada nilai yang menganggap bahwa wanita juga memiliki kekuatan memerintah, bahkan dalam cerita itu melampaui kemampuan laki-laki.

Persoalannya adalah kapan sesungguhnya asal cerita Kerajaan Nusatembini ini berasal. Penulis sejarah dan hari jadi Cilacap versi Pemerintah Cilacap mengatakan bahwa Kerajaan Nusatembini berasal dari zaman pra sejarah. Hal itu katanya dibuktikan dengan adanya peninggalan dua rumpun bambu ori yang merupakan peninggalan benteng Kerajaan Nusatembini. Pada tahun 1970 peninggalan peninggalan yang dipercaya berasal dari masa pra sejarah itu masih ada yang berlokasi di kompleks dermaga Pelabuhan pasir Besi, akan tetapi pada sat ini peninggalan itu sudah hilang.

Menurut hemat kami, cerita tentang Kerajaan Nusatembini memang bukan mengambil zaman Islam, tetapi juga bukan pada masa pra sejarah. Zaman pra sejarah tidak dikenal konsep kerajaan, yang ada hanya Primus Interpares, dan umumnya laki-laki tertua. Konsep kerajaan baru muncul pada masuknya kebudayaan Hindu dan Budha di Indonesia. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa latar belakang sejarah Kerajaan Nusatembini sesungguhnya adalah masa Hindu dan Budha di wilayah Cilacap.

Tafsir bahwa latar belakang cerita tentang Kerajaan Nusatembini Nusatembini adalah Hindu Budha didukung dengan cerita lain yang terkait dengan kerajaan tersebut. Cerita rakyat dalam masyarakat Cilacap menceritakan bahwa di sebelah barat dari Kerajaan Nusatembini adalah Kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran. Dalam catatan sejarah, kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Hindu yang amat berkuasa di wilayah tatar Sunda. Oleh karena Kerajaan Nusatembini sezaman dengan Kerajaan Galuh, maka dapat dipastikan bahwa cerita tentnag adanya Kerajaan Nusatembini berasal dari zaman perkembangan Hindu dan Budha.

Kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran merupakan kerajaan besar. Berbeda dengan Nusatembini, penguasa Pakuan Pajajaran adalah seorang pria yang gagah berani. Pada masa pemerintahannya ia dicobai Tuhan dengan berkembangnya wabah penyakit yang menyerang rakyatnya. Akan tetapi rakyatnya menjadi sangat menderita karena banyak di antara mereka yang harus kehilangan anggota keluarga akibat ganasnya wabah penyakit tersebut. Raja Pajajaran ini berusaha mencari cara untuk memecahkan masalah yang sedang melanda negerinya. Segala usaha telah dilakukan untuk mengatasi wabah tersebut, tetapi sia-sia. Raja Merasa sedih melihat penderitaan yang menimpa rakyat di seluruh negerinya, dan semakin sedih lagi ketika putra dan putrinya juga terserang penyakit.

Ketika raja sudah hampir putus asa dalam mengatasi wabah penyakit yang melanda negerinya, datanglah seorang pendeta (wiku). Pendeta tersebut menyampaikan maksud kedatangannya hingga terjadi dialog seperti kutipan berikut :

Pendeta : ”Gusti Prabu junjungan hamba, ampunilah hamba ini akan segala kelancangan hamba menghadap Gusti tanpa panggilan dan dengan segala kemurahan Gusti Prabu, kami mohonkan maaf atas segala kesalahan ini”.

Raja : ”Teramat gembira rasanya aku melihat kedatangan wiku saat ini sebab memang ada sesuatu yang kini tengah merisaukan pikiranku sebagai pimpinan pemerintahan di Kerajaan Pajajaran ini”.

Pendeta : ”Gusti Prabu Junjungan hamba, rasanya hamba memaklumi apa yang tengah Gusti hadapi pada saat ini karena adanya wabah penyakit yang menimpa para kawula Pajajaran. Sampai pula Tuanku Putri saat ini terserang wabah penyakit itu”.

Raja : ”Rasanya memang demikian wikut, bahwa kerisauanku dan kecemasanku masih amat mencekam. Tetapi apakah kiranya bapa wiku dapat memberikan jalan keluar untuk mengatasi kesemuanya ini?”

Pendeta : ””Gusti Prabu Junjungan hamba, kedatangan hamba ini bermaksud untuk menyampaikan adanya ”wisik” atau ilham yang telah hamba terima. Bahwasanya apa yang terjadi saat ini di lingkungan Kerajaan Pajajaran serta penyakit yang diderita oleh Tuanku Putri junjungan hamba, masih dapat disembuhkan dengan obat apa yang disebut ”Air Mata Kuda Sembrani”. Adapun obat itu hanya dapat diusahakan dari bagian timur Kerajaan Pajajaran ini. Di arah timur sanalah ada sebuah keratorn yang disebut Nusatembini dan disitulah obat obat tersebut akan didapatkan. Tetapi untuk mencapai daerah itu serta mendapatkannya tidak mudah, sebab lingkungan Kraton Nusatembini adalah sangat gawat. Maka seyogyanya Gusti Prabu Junjungan hamba mengutus para abdi dalem Pajajaran yang terpilih untuk menghadapi ratu putri yang memimpin keraton tersebut.

Haturkanlah segala maksud Gusti untuk memohon apa yang disebut ”Air Mata Kuda Sembrani” yang menjadi peliharaan sang ratu. Apabila usaha mendapatkan airmata Kuda Sembrani itu berhasil, maka hal itu akan menjadi obat serta tumbalnya (Penolak) Kerajaan Galuh Pajajaran dari segala mara bahaya yang bakal datang.

Raja Pajajaran merspon positif saran-saran dari sang wiku tersebut. Raja tersebut kemudian mempersiapkan diri untu kmenuju Nusatembini. Beberapa orang adipati yang berada di bawah kekuasan Pajajaran yang dianggap mampu ditugasi menuju kerajaan siluman diutus sang raja menuju Nusatembini. Petinggi utusan jatuh pada Patih Harya Tilandanu yang dibantu oleh Adipati Gobog dan Adipati Sendang. Mereka mengerahkan prajurit pilihan agar segala rintangan di perjalanan dapat diatasi.

Setelah persiapan untuk berangkat menuju Kerajaan Nusatembini selesai, maka rombongan prajurit dari Pajajaran tersebut berangkat menuju kerajaan siluman di pantai selatan Cilacap tersebut. Meskipun berasal dari prajurit pilihan, perjalanan menuju Nusatembini ternyata tidak mudah. Mereka harus melewati alam yang masih ganas berupa hutan belantara dan rawa-rawa yang membentang luas. Dalam situasi alam yang demikian pra prajurit Pajajaran dengan semnagat yang membara menuju Kerajaan Nusatembini agar memperoleh obat penyakit putri raja ” air mata kuda sembrani”.

Para prajurit utusan Pajajran tersebut akirnya sampai di wilayah Cilacap. Ketika sampai di wilayah Nusatembini mereka melihat adanya kekeuatan yan mengelilingi kerajaan tersebut yang amat kuat. Para prajurit berusaha memasuki istana kerajaan itu dengan berbagai cara. Akan tetapi kali ini usaha itu gagal karena adanya benteng rumpun bambu yang berlapis-lapis rapat yang mengellingi Kerajaan Nusatembini ibarat seperti pagar berlapis. Usaha untuk memasuki istana Nusatembini berkali-kali dicobanya, dan ternyata selalu gagal.

Kegagalan berkali-kali untuk memasuki Istana Nusatembini tidak membuat para prajurit Pajajaran putus asa. Dengan semangat membela sang Raja dan negaranya mereka selalu mencari cara untuk dapat memasuki Istana Nusatembini. Adipati Gobong, Adipati Sendang dan Patih Harya Tilandanu jalan lain diluar jalan perang. Mereka bersemedi untuk mendapatkan ilham dan jalan keluar agar dapat memasuki Istana Nusatembini. Setelah beberapa hari bersemedai akhirnya mereka memperoleh petunjuk gaib. Dalam petunjuk gaib itu dikatakan bahwa benteng bambu yang mengelilingi Nusatembini akan dapat dihancurkan denganmenggunakan peluru emas.

Setelah mendapatkan ilham tersebut para prajurit tata sunda utusan raja Pajajaran tersebut mengubah taktik dalam memasuki Istana Nusatembini. Mereka membuat peluru emas yang berasal dari uang emas untuk menghancurkan bambu yang mengelilingi keraton dengan raja perempuan tersebut.

Pembuatan peluru emas dilakukan oleh rombongan prajurit Pajajaran di lokasi yang tidak jauh dari Istana Nusatembini. Mereka singgah di suatu daerah di dekat istana tersebut selama berhari-hari. Selain memproduksi peluru emas, mereka juga mengatur siasat untuk melakukan penyerangan. Di daerah tempat persiapan penyerangan ini dikenal dalam cerita rakyat Cilacap sebagai daerah Donan. Satu daerah tempat Andon (bersinggah).

Setelh rencana penyerangan diatur secara matang, maka pada hari yang telah ditentukan rombongan prajurit Pajajaran melakukan serangan ke Istana Nusatembini. Serangan dilakukan oleh prajurit tangguh dengan menggunakan peluru emas yang telah dipersiapkan sebelumnya. Peluru-peluru itu ditembakkan dan berjatuhan dekat atau di bawah rumpun bambu yang membentengi Istana Nusatembini. Para penduduk Nusatembini yang melihat peluru emas berjatuhan di bawah pepohonan bambu berusaha mengambil peluru-peluru yang bernilai ekonomi tinggi pada masa itu. Untuk dapat mengambil peluru tersebut mereka harus menebangi pohon bambu yang berlapis-lapis tersebut.

Prajurit Pajajaran menyadari makna peluru emas ternyata sebagai alat memancing penduduk dalam kerajaan untuk membuka isolasi kerajaan dengan menebang pohon bambu yang menjadi benteng kerajaan. Sedikit demi sedikit akhirnya Prajurit Pajajaran semakin dapat bergerak maju setelah dapat melewati rumpun-rumpun bambu ori yang ditebangi oleh penduduk setempat. Prajurit Pajajaran akhirnya berhasil memasuki dalam istana setelah berhasil melampaui tujuh lapis pagar bambu yang telah habis ditebangi penduduk yang tergiur pada peluru emas yang berjatuhan di bawah pohon bambu.

Certia tentang adanya peluru emas ini dapat ditafsirkan dua hal yang menyangkut fakta-fakta historis dibalik cerita itu. Pertama, konsep senjata api dalam kisah tersebut menunjukkan bahwa latar belakang cerita itu adalah pada masa Kerajaan Pajajaran akhir menjelang berkembangnya agana Islam di Nusantara, kemungkinan abad ke-15 dan ke-16. Hal itu dapat dijelaskan karena senjata api diperkenalkan oleh orang-orang Portugis dan kemudian Belanda pada abad-abad tersebut. Kedua, kelemahan suatu negara sehebat apapun akan dapat dipatahkan dengan kekayaan. Emas yang merupakan simbol kekayaan yang bernilai ekoomi tinggi telah menggoda rakyat Nusatembini sehingga dengan mudah dapat disusupi oleh pasukan asing.

Para prajurit Pajajaran akhirnya dapat memasuki Istana Kerajaan Nusatembini. Mereka bermaksud untuk menangkap sang ratu. Akan tetapi mereka mengalami kesulitan, sebab sang ratu memberikan perlawanan. Melihat bahaya yang mengancam, Raja Putri Nusatembini ini kemudian naik kuda sembrani terbang ke angkasa. Dengan suara lantang sang putri menantang para prajurit pendatang terebut, sembari berucap ”Hai prajurit Pajajaran, tunjukkan kesaktian dan kejantananmu, tangkaplah aku. Kalau dapat menangkap diriku, aku akan tunduk, Kerajaan Nusatembini aku serahkan kepadamu.” Melihat keperkasaan sang ratu, pra prajurit Pajajaran menjadi tercengang dan tidak segera melakukan perlawanan.

Di bagian lain diceritakan bahwa Patih Harya Tilandanu memasuki ruang dalam istana Nusatembini . Ketika sedang menjelajahi ruang-ruang tersebut, ia menemukan seorang wanita yang snagat cantik. Menurut keyakinan masyarakat setempat, putri terebut adalah Ratu Brantarara, Raja Putri Nusatembini. Sang Patih berusaha untuk mendekati wanita tersebut, tetapi belum sampai berhasil mendekat wanita itu lenyap dari pandangan matanya dan berubah menjadi ”golek kencana” (boneka emas). Sang Patih menjadi gemas dan berusaha untuk memegang golek tersebut, tetapi benda itu melejit dan mengenai tubuh sang patih hingga terjatuh. Boneka itu mengeluarkan warna berkilau yang menyebabkan sang patih mengalami kebutaan. Dengan adanya peristiwa itu, maka usaha utusan Pajajaran untuk mendapatkan air mata kud asembrani sebagai obat penyembuh putri raja mengalami kegagalan. Akan tetapi paa prajurit Pajajaran juga tidak berani kembali pulang ke Pajajaran dengan tangan hampa karena takut ancaman hukuman yang berat akibat kegagalannya.

Para prajurit Pajajaran kemudian menetap di daerah Nusatembini, termasuk Patih Harya Tilandanu. Bahkan Patih Harya Tilandanu ini meninggal dunia di Cilacap dan dimakamkan di Gunung Batur. Cerita Rakyat Cilacap mengatakan bahwa makamnya di desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, Cilacap. Adipati Gobog juga menjadi penghuni menetap di wilayah Nusatembini. Mereka meninggal di wilayah ini dan dimakamkan di sebuah tempat yang terkenal dengan sebutan makam Adipati Gobog. Lokasi makam itu sebelah selatan jalan Jenderal Sudirman, tidak jauh dengan pasar seleko. Nama Adipati Gobog sempat diabadikan menjadi nama jalan, sebelum berubah menjadi jalan Sudirman. Sementara itu Adipati Sendang, makamnya di Desa Donan.

Kadipaten Donan
Jika cerita tentang Kerajaan Nusatembini berasal dari masa Hindu Budha, maka cerita tentang Kadipaten Donan diperkirakan pada periode awal perkembangan Islam di Tanah Jawa. Donan tidak berlokasi di dekat pantai selatan Cilacap, tetapi di daratan bagian utara, sekarang masuk sekitar Kota Cilacap.

Dalam cerita itu dikatakan bahwa Donan pada mulanya merupakan daerah hutan. Daerah itu mulai dibuka menjadi daerah pemukiman migrasi orang-orang Banyumas. Salah satu kelompok pendatang adalah rombongan Raden Ronggosengoro utusan dari Adipati Mrapat, seorang menantu dari Adipati Wirasaba. Raden Songgosengoro beserta rombongannya akhirnya menetap di wilayah itu. Ia pandai memimpin rakyat dengan mengubah daerah Donan yang semula sepi menjadi pemukiman yang ramai. Ronggosengoro kemudian diangkat menjadi Adipati di Donan oleh Adipati Wirasaba.

Di bawah kepemimpinan Adipati Ronggosengoro daerah Donan secara berangsur-angsur berubah menjadi daerah yang ramai dan makmur. Penduduknya hidup dalam kecukupan, tidak kekurangan sandang maupun pangan. Keamanan terjamin sehingga penduduk tidak merasa cemas tinggal di wilayah Donan.

Kondisi Donan yang aman dan tenteram menjadi terusik ketika ada gangguan makhluk aneh ke wilayah Donan. Gangguan itu berupa seekor burung raksasa yang oleh orang setempat disebutnya sebagai ”Garuda Beri”. Burung raksasa ini konon sering menerkam hewan-hewan milik penduduk Donan. Bahkan juga menerkam manusia yang berusaha mempertahankan binatang kesayangannya yang hendak diterkam oleh si burung raksasa tersebut. Burung raksasa itu bersarang di Pulau Nusakambangan. Untuk mengatasi persoalan itu sang adipati berusaha mengerahkan segala kekuatan rakyatnya untuk membunuh binatang tersebut, tetapi selalu gagal.

Kegagalan menangkap binatang yang meresahkan masyarakat Donan tersebut mengusik sang adipati untuk mencari cara lain. Berkat petunjuk dari ahli nujumnya yang mengatakan bahwa burung tersebut dapat dimusnahkan dengan pusaka Kesultanan Demak, maka ia menghadap ke Kesultanan Demak untuk meminjam pusaka Demak yang bernama Kyai Tilam Upih. Permintaan sang adipati meminjam pusaka Demak tersebut ternyata dikabulkan oleh Sultan Demak. Sayang sekali setelah pusaka itu berhasil dipinjam, namun tidak seorang pun yang mampu menggunakannya dengan baik untuk membunuh Garuda Beri.

Oleh karena selalu gagal dalam memusnahkan binatang berbahaya itu, diceritakan bahwa Adipati Donan menggelar sayembara. Dalam sayembara tersebut sang Adipati menjanjikan hadiah putrinya bagi siapapun yang berhasil menangkap dan membunuh Garuda Beri tersebut.

Sayembara itu ternyata menarik perhatian para Adipati Anom di daerah lain. Mereka berdatangan untuk menunjukkan kesaktiannya dalam menangkap binatang berbahaya tersebut. Mereka berharap sekali dapat menangkap binantang itu karena hadiahnya yang cukup menggiurkan, seorang putri yang cantik jelita. Akan tetapi ternyata para adipati tersebut tak satupun yang berhasil menaklukan garuda Beri. Para petarung menjadi takut dan lari terbirit-birit akibat serangan ganas dari binatang siluman tersebut. Sebagian dari mereka mengalami cedera, dan sebagian lagi mengurungkan niatnya mengikuti sayembara.

Dengan kegagalan para Adipati Anom dalam mengikuti sayembara menangkap Garuda Beri, maka sang Adipati Donan menjadi putus harapan. Sang Adipati selalu merenung untuk mencari cara bagaimana mengalahkan binatang yang meresahkan rakyat Donan tersebut. Dalam suasana kesedihan tersebut datanglah seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan halus perangainya. Pemuda itu adalah seorang perjaka ”Santri Undig” yang disebut pula sebagai Bagus Santri. Di hadapan Sang Adipati Donan, ia menyampaikan niatnya untuk mengabdikan diri di Kadipaten Donan, ia akan bekerja apa saja demi Donan dan akan melaksanakan titah baginda dengan penuh kepatuhan. Sang Adipati yang mendengar permohonan Bagus Snatri tersebut menyatakan tidak keberatan, bahkan menerimanya dengan senang hati dengan syarat ia sanggup membunuh binatang Garuda Beri yang telah meresahkan rakyatnya. Meskipun Bagus Santri mengetahui bahwa syaratnya cukup berat, namun tekadnya yang bulat membuat menerima tawaran Sang Adipati Donan tersebut.

Sesungguhnya Bagus Santri adalah seorang utusan dari Demak. Ia diutus Sultan demak untuk mengambil kembali pusaka Demak yang cukup ampuh, ”Cis Tilam upih” yang sudah lama tidak ada di istana. Dengan diterima menjadi hamba Adipati Donan dan berhasil menangkap Garuda Beri, maka ia berharap pusaka Demak tersebut dapat diambil kembali.

Santri Undig tidak serta merta menangkap Garuda Beri. Untuk sementara waktu ia harus tinggal di Kadipaten Donan untuk mempelajari situasi dan kondisi bahaya tersebut. Setelah beberapa waktu tinggal di Donan, ia menghadap sang Adipati untuk menyampaikan uneg-unegnya. Pertama, sebelum membunuh Garuda Beri, ia terlebih dahulu meminta dibuatkan ”lubang yang dalamnya setinggi manusia”. Kedua, ia meminta agar disediakan kain kain putih selebar hasta. Ketiga, ia diperkenankan meminjam pusaka Cis Tilam Upih. Kecuali permintaan ketiga, permintaan Bagus Snatri segera dikabulkan oleh sang adipati. Sementara itu permintaan ketiga baru bisa dikabulkan setelah ia berkali-kali meyakinkan sang adipati bahawa burung tersebut baru dapat dibunuh dengan Cis Tilam Upih.

Dengan dikabulkannya semua permintaan, Bagus Santri kemudian mempersiapkan untuk menangkap Garuda Beri. Setelah perlengkapan yang diperlukan tersedia, Bagus Santri mengambil air wudhu dan sholat sembari berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT dalam melaksanakan tugas berat tersebut. Dengan diniati memberantas kejahatan dan kekejaman, maka Bagus Santri memiliki motivasi yang kuat untuk membunuh Garuda Beri. Setelah bersembahyang dan membaca doa selamat, santri Undig mengenakan kain putih pemberian Adipati Donan. Kain putih itu digunakan untuk membungkus dirinya hingga tidak kelihatan badannya dan membentuk gumpalan putih. Dengan mengenakanpakaian itu, maka tidak tampak manusian jika dipandang dari jarak jauh. Dari kejauhan lebih mirip sapi dengan kulit putih. Berpakain seperti itu merupakan taktik Bagus Santri agar Garuda Beri yang melihat dari angkasa mengira benda putih yang terlihat adalah sapi dengan begitu garuda Beri akan segera menerkamnya. Dalam posisi seperti itu ia menuju ke tempat terbuka tempat dibangunnya sebuah pondok bertiang tinggi. Tidak jauh dari lokasi itu juga terdapat sebuah lubang setinggi manusia yang digunakan sebagai tempat untuk melawan Garuda Beri.

Peristiwa akan adanya pertarungan antara Bagus Santri dengan burung raksasa mengundang khalayak untuk melihatnya. Mereka melihat akan adanya pertarungan antara Garuda Beri dengan Bagus Santri. Para warga Donan dengan penuh ketegangan menantikan detik-detik terjadinya pertarungan tersebut.

Menunggu kedatangan makhluk aneh, Bgaus Santri bersila di panggok sambil bersemedi seraya memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat berhasil menjalankan misi sucinya, menumpas Garuda Beri. Tidak lama kemudian, dari arah selatan (P. Nusakambangan) terlihat bayangan hitam yang terlihat di angkasa. Bayangan itu makin mendekati posisi Bagus Santri. Penduduk yang melihatnya menjadi ketakutan dan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi. Garuda Beri kemungkinan menganggap bahwa gumpalan warna putih itu adalah seekor sapi atau kambing besar yang bisa dimangsa. Garuda Beri beberapa kali mengitari dan mengamati benda putih itu, hingga rupanya ia berkeyakinan bahwa yang dihadapi adalah magsa yang lezat. Dengan sigap Garuda Beri itu kemudian menyambar mangsanya., Bagus Santri yang berbalut kain putih. Sementara itu Bagus Santri sudah siap untuk memberikan perlawanan. Ketika Garuda Beri menukik ke bawah, Bagus Snatri masuk ke dalam lubang tanah yang telah dipersiapkan itu. Ketika cakar Garuda Beri berdiri di atas lubang, Bagus Santri dengan sigap menancapkan pusaka Cis Tilam Upih pada bagian paha dari burung raksasa itu. Burung itu meraung kesakitan dan terbang kembali ke angkasa.

Garuda Beri yang telah mengalami luka di bagian pahanya itu sudah tidak memiliki keseimbangan dalam mengayunkan tubuhnya di angkasa. Binatang itu kemudian hinggap di pohon ketapang yang amat besar di tepian sebuah pantai Cilacap. Pohon raksasa itu tidak mampu menahan beban berat dari tubuh burung raksasa itu hingga rantingnya bengkok hampir menyentuh tanah. Garuda beri hendak terbang kembali, dan kerena tubuhnya telah terluka parah maka ia hanya dapat melayang-layang pada ketinggian yang rendah. Goresan luka akibat tusukan pusaka Demak iyu menyebabkan daya tahan tubuh Garuda Beri menurun tajam dan akhirnya jatuh ke tepian anak sungai yang tidak jauh dari Sungai Donan bagian timur.

Orang percaya bahwa cerita tentang matinya Burung Garuda Beri ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa suatu tempat di Cilacap yang dikenal dengan nama ”Grumbul Ketapang Dengklok”. Artinya pemukiman tempat pohon ketapang yang begkok akibat tidak ampu menahan beratnya Burung Garuda Beri yang sedang sakit menjelang ajalnya.

Keberhasilan Bagus Santri membunuh Garuda Beri disambut sukacita di seluruh Kadipaten Donan. Sukacita terlihat sekali diraut wajah sang Adipati yang kemudian menekati Bagus Santri dan memluknya erat-erat. Sementara itu rakyat bersorak-sorai mengelu-elukan kepahlawanan Bagus Santri. Kegembiraan rakyat Donan bisa dipahami karena dengan terbunuhnya garuda Beri, maka rasa mencekam yang mereka rasakan tiap hari telah hilang. Sementara itu Sang Adipati juga merasa telah berhasil menyelamatkan penduduknya dari marabahaya.

Adipati Donan tidak ingkat janji, ia segera menyerahkan putrinya nan cantik jelita kepada Bagus Santri, akan tetapi Bagus Santri tidak segera menerima hadiah putri tersebut. Bagus Santri justru menyerahkan putri tersebut untuk menjadi istri Adipati Bagong, seorang Adipati di Limbangan. Alasan Bagus Santri tidak menerima sang putri karena Bagus Snatri belum berkeinginan menikah dan masih senang berkelana menyebarkan agama Islam.

Bagus Santri yang cukup cerdik tersebut ternyata adalah Sunan Kalijaga. Ia mendapat tugas dari Sultan Demak untuk mencari dan mengambil kembali pusaka Demak Cis Tilam Upih. dengan demikian, cerita tentang peristiwa di Kadipaten Donan tersebut adalah dapat dianggap sebagai masa awal penyebaran Islam di telatah Cilacap.

(Sumber: Buku Pengkajian dan Penulisan Upacara Tradisional di Kabupaten Cilacap, oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006.)
http://pariwisata.cilacapkab.go.id