Teks Translit Pidato KH. As'ad Syamsul
Arifin
(KH As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku
sejarah berdirinya NU, beliaulah yang
menjadi media penghubung dari KH. Kholil
Bangkalan yang memberi isyarat agar KH.
Hasyim Asyari mendirikan Jam’iyah Ulama
yang akhirnya bernama Nahdlatul Ulama.
Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan
berikut adalah translit selengkapnya).
Assalamu’alaikum Wr. Wb. yang akan saya
sampaikan pada Anda tidak bersifat nasehat
atau pengarahan, tapi saya mau bercerita
kepada Anda semua. ANDA suka
mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab:
Ya).
Kalau suka saya mau bercerita. Begini
saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini
kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin
menjawab: Ya).
Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa
ikut mendengarkan. Cuma yang saya
sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama.
Karena saya ini orang NU, tidak boleh
berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau
bercerita kepada anda mengapa ada NU?
Tentunya muballigh-muballigh yang lain
menceritakan isinya kitab. Kalau saya tidak.
Sekarang saya ingin bercerita tentang
kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya?
Tolong didengarkan ya, terutama para
pengurus, Pengurus Cabang, MWC, Ranting,
kenapa ada NU di Indonesia.
Begini, umat Islam di Indonesia ini mulai
kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang
lebih, para auliya', pelopor-pelopor
Rasulullah Saw. ini yang masuk ke
Indonesia membawa syariat Islam menurut
aliran salah satu empat madzhab, yang
empat. Jadi, ulama, para auliya', para
pelopor Rasulullah Saw. masuk ke Indonesia
pertama kali yang dibawa adalah Islam.
Menurut orang sekarang Islam Ahlussunah
wal Jama’ah, syariat Islam dari Rasulullah
Saw. yang beraliran salah satu empat
madzhab khususnya madzhab Syafi'i. Ini
yang terbesar yang ada di Indonesia.
Madzhab-madzhab yang lain juga ada. Ini
termasuk Islam Ahlussunah wal Jama’ah.
Termasuk yang dibawa Walisongo, yang
dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden
Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk
Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung
Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor
yang masuk ke Indonesia, yang membawa
syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah.
Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di
Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil.
Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha
Jengkebuan menantu Kyai Kholil,
mengundang tamu para ulama dari seluruh
Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan
berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66
ulama dari seluruh Indonesia.
Masing-masing ulama melaporkan:
“Bagaimana Kyai Muntaha, tolong
sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak
berani menyampaikannya. ini semua sudah
berniat untuk sowan kepada Hadhratus
Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau
bukan Anda yang menyampaikannya.”
Kyai Muntaha berkata: “Apa keperluannya?”
“Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-
kelompok yang sangat tidak senang dengan
ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-
kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya al-
Quran dan Hadits saja. Yang lain tidak perlu
diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor
Walisongo karena ini yang sudah berjalan di
Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini
melalui kekuasaan pemerintah Jajahan,
Hindia Belanda. Tolong disampaikan pada
Kyai Kholil.”
Sebelum para tamu sampai ke kediaman
Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban,
Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: “Nasib, ke
sini! Bilang kepada Muntaha, di al-Quran
sudah ada, sudah cukup:
ﻳُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺃَﻥ ﻳُﻄْﻔِﺆُﻭﺍْ ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺑِﺄَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺄْﺑَﻰ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥ ﻳُﺘِﻢَّ ﻧُﻮﺭَﻩُ
ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ﴿٣٢ ﴾
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya
(agama) Allah dengan mulut (ucapan-
ucapan) mereka, dan Allah tidak
menghendaki selain menyempurnakan
cahayaNya, walaupun orang-orang yang
kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubat ayat
32)
Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah
Ta'ala, maka kehendakNya yang akan
terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada
Muntaha.”
Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab
oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara,
belum datang sudah dijawab keperluannya.
Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-
apa, Cuma bersalaman. “Saya puas
sekarang” kata Kyai Muntaha. Jadi saya
belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.
Tahun 1921-1922 ada musyawarah di
Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas
Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46,
bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa,
bermusyawarah termasuk Abah saya (KH.
Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri,
termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong,
membahas masalah ini.
Seperti apa, seperti apa? Dari Barat Kyai
Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang
semua, Kyai Thohir. para Kyai berkata:
“Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan.”
Sampai tahun 1923, kata Kyai satu:
“Mendirikan Jamiyah (organisasi)”, kata
yang lain: “Syarikat Islam ini saja
diperkuat.” Kata yang lain: “Organisasi yang
sudah ada saja.”
Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah
merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak
boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah
tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang
sudah tidak boleh. Ini sudah tidak
dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh
kelompok-kelompok tadi. Seperti apa
bawaan ini.
Kemudian ada satu ulama yang matur
(menghadap) sama Kyai: “Kyai, saya
menemukan satu sejarah tulisan Sunan
Ampel. Beliau menulis seperti ini (Kyai
As'ad berkata: “Kalau tidak salah ini kertas
tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum
dewasa hanya mendengarkan saja”): “Waktu
saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah)
mengaji ke paman saya di Madinah, saya
pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah,
seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat)
: “Islam Ahlussunah wal Jama’ah ini bawa
hijrah ke Indonesia. Karena di tempat
kelahirannya ini sudah tidak mampu
melaksanakan Syariat Islam Ahlussunah wal
Jama’ah. Bawa ke Indonesia.”
Jadi di Arab sudah tidak mampu
melaksanakan syariat Islam Ahlussunah wal
Jama’ah. Pada zaman Maulana Ahmad,
belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah
apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi
melakukan wasiat ini.
Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama
berempat ini melakukannya. Ada yang ke
Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan
ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40
hari. Ada 4 orang yang ditugasi ke Madinah.
Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul,
sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini
tidak tahu siapa yang memegang. Apa Kyai
Wahab, apa Kyai Bisri. Insya Allah ada
laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta
sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf
supaya dicari.
Sesudah tidak menemukan kesimpulan,
tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya.
Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain.
Saya sendiri. Saya dipanggil: “As'ad, ke sini
kamu!”
Asalnya saya ini mengaji di pagi hari,
dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa
mengucapkan huruf Ra'. Saya ini pelat
(cadal). “Arrahman Arrahim…”
Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca
al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa
tidak?!”
“Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”
Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil
melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya
pelat saya ini hilang. Ini salah satu
kekeramatan Kyai yang diberikan kepada
saya.
Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang
cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”
“Sudah Kyai.”
“Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim
Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”
“Tahu.”
“Kok tahu? Pernah mondok di sana?”
“Tidak. Pernah sowan.”
“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim.
Ini tongkat kasihkan.”
“Ya, kyai.”
“Kamu punya uang?”
“Tidak punya, kyai.”
“Ini.”
Saya diberikan uang Ringgit, uang perak
yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak
saya pakai. Sampai sekarang masih ada.
Tidak beranak, tapi berbuah (berkah).
Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya
banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini
buahnya.
Setelah keesokan harinya saya mau
berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini
kamu! Ada ongkosnya?”
“Ada kyai.”
“Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu?
Kamu kan suka merokok?”
Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya
simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah.
Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada
sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat)
kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS.
Thaha ayat 17-21):
ﻭَﻣَﺎ ﺗِﻠْﻚَ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻚَ ﻳَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﴿١٧﴾ ﻗَﺎﻝَ ﻫِﻲَ ﻋَﺼَﺎﻱَ ﺃَﺗَﻮَﻛَّﺄُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ
ﻭَﺃَﻫُﺶُّ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻨَﻤِﻲ ﻭَﻟِﻲَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺂﺭِﺏُ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﴿١٨﴾ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻟْﻘِﻬَﺎ ﻳَﺎ
ﻣُﻮﺳَﻰ ﴿١٩﴾ ﻓَﺄَﻟْﻘَﺎﻫَﺎ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫِﻲَ ﺣَﻴَّﺔٌ ﺗَﺴْﻌَﻰ ﴿٢٠﴾ ﻗَﺎﻝَ ﺧُﺬْﻫَﺎ ﻭَﻟَﺎ
ﺗَﺨَﻒْ ﺳَﻨُﻌِﻴﺪُﻫَﺎ ﺳِﻴﺮَﺗَﻬَﺎ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﴿٢١ ﴾
“Apakah itu yang di tangan kananmu hai
Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku,
aku berpegangan padanya, dan aku pukul
(daun) dengannya untuk kambingku, dan
bagiku ada lagi keperluan yang lain
padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah
ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah
tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor
ular yang merayap dengan cepat. Allah
berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut,
Kami akan mengembalikannya kepada
keadaannya semula.”
Karena saya ini namanya masih muda.
Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput.
Gagah pakai tongkat dilihat terus sama
orang-orang. Kata orang Arab Ampel:
“Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”
Ada yang lain bilang: “Ini wali.”
Wah macam-macam perkataan orang. Ada
yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya
tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai.
Wali atau tidak, gila atau tidak terserah
kamu.
Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok,
gila. Karena masih muda pakai tongkat.
Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti.
Rusak semua, yang menghina terlalu parah.
Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok
tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai.
Saya terus jalan.
Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim
bertanya): “Siapa ini?”
“Saya, Kyai.”
“Anak mana?”
“Dari Madura, Kyai.”
“Siapa namanya?”
“As'ad.”
“Anaknya siapa?”
“Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”
“Anaknya Maimunah kamu?”
“Ya, Kyai”
“Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”
“Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil)
untuk mengantar tongkat.”
“Tongkat apa?”
“Ini, Kyai.”
“Sebentar, sebentar…”
Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar,
hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”
Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi
ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat.
Saya menyampaikan ayat:
ﻭَﻣَﺎ ﺗِﻠْﻚَ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻚَ ﻳَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﴿١٧﴾ ﻗَﺎﻝَ ﻫِﻲَ ﻋَﺼَﺎﻱَ ﺃَﺗَﻮَﻛَّﺄُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ
ﻭَﺃَﻫُﺶُّ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻨَﻤِﻲ ﻭَﻟِﻲَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺂﺭِﺏُ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﴿١٨﴾ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻟْﻘِﻬَﺎ ﻳَﺎ
ﻣُﻮﺳَﻰ ﴿١٩﴾ ﻓَﺄَﻟْﻘَﺎﻫَﺎ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫِﻲَ ﺣَﻴَّﺔٌ ﺗَﺴْﻌَﻰ ﴿٢٠﴾ ﻗَﺎﻝَ ﺧُﺬْﻫَﺎ ﻭَﻟَﺎ
ﺗَﺨَﻒْ ﺳَﻨُﻌِﻴﺪُﻫَﺎ ﺳِﻴﺮَﺗَﻬَﺎ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﴿٢١ ﴾
“Apakah itu yang di tangan kananmu hai
Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku,
aku berpegangan padanya, dan aku pukul
(daun) dengannya untuk kambingku, dan
bagiku ada lagi keperluan yang lain
padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah
ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah
tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor
ular yang merayap dengan cepat. Allah
berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut,
Kami akan mengembalikannya kepada
keadaannya semula.”
"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan
Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau
begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang
diberikan Kyai Kholil kepada saya.”
Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama.
Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya?
Saya belum pernah mendengar kabar
berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak
mengerti.
Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang
kamu?”
“Ya, Kyai.”
“Cukup uang sakunya?”
“Cukup, Kyai.”
“Saya cukup didoakan saja, Kyai.”
“Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa
rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah
Ulama akan diteruskan.”
Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.
Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh
Kyai Kholil: “As'ad, ke sini! Kamu tidak lupa
rumahnya Hasyim?”
“Tidak, Kyai.”
“Hasyim Asy'ari?”
“Ya, Kyai.”
“Di mana rumahnya.”
“Tebuireng.”
“Dari mana asalnya?”
“Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai
Asy’ari Keras.”
“Ya, benar. Di mana Keras?”
“Di baratnya Seblak.”
“Ya, kok tahu kamu?”
“Ya, Kyai.”
“Ini tasbih antarkan.”
“Ya, Kyai.”
Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok.
Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3
Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang
saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.
Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar:
“Ke sini, makan dulu!”
“Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan
jajan,”
“Dari mana kamu dapat?”
“Saya beli di jalan, Kyai”
“Jangan membeli di jalan! Jangan makan di
jalan! Santri kok makan di jalan?”
“Ya, Kyai.”
Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok
menjual harga dirinya? Akhirnya saya
ditanya: “Cukup itu?”
“Cukup, Kyai.”
“Tidak!”
Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit.
Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu
dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar,
Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya
Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran
tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih.
Saya disuruh dzikir.
“Ini.”
Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher
saya. “Kok leher?”
“Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya
supaya tidak terjatuh.”
“Ya, kalau begitu.”
Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda
berkalung tasbih. Saya berjalan lagi,
bertemu kembali dengan yang
membicarakan saya dulu: “Ini orang yang
megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.”
Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi
saya tidak menjawab. Saya tidak bicara
kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa.
Saya tidak bicara, tidak makan, tidak
merokok, karena amanatnya Kyai. Saya
tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana
kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya
tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak
makan, tidak minum tidak merokok. Tidak
terpakai uang saya.
Ada yang narik: “Karcis! karcis!”
Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena
tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur
karena tidak punya karcis. Jadi selama
perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli
karcis. Mungkin karena tidak melihat saya.
Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi
Auliya' itu punya karomah. Saya semakin
yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.
Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai
(Hasyim) tanya: “Apa itu?”
“Saya mengantarkan tasbih.”
“Masya Allah, Masya Allah. Saya
diperhatikan betul oleh guru saya. Mana
tasbihnya?”
“Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).
“Lho?”
“Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai
ke leher saya, sampai sekarang saya tidak
memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak
sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk
Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa
terhadap barang milik Anda.”
Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata
Kyai?”
“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya
Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”
“Siapa yang berani pada NU akan hancur.
Siapa yang berani pada ulama akan hancur.”
Ini dawuhnya.
Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal
29 Ramadhan. Banyak orang berserakan.
Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab
diresmikan Jam’iyatul Ulama. Ini sudah
dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk
yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari
Nganjuk, yang membuat anggaran dasar.
Kemudian para ulama sidang lagi untuk
mengutus kepada Gubernur Jenderal. Ya,
seperti itulah yang dapat saya ceritakan.
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 18 Februari
2013
Nahdatul Ulama disingkat NU (Kebangkitan Ulama') Nahdatul Ulama disingkat NU, yang merupakan suatu jam’iyah Diniyah Islamiyah yang berarti Organisasi Keagamaan Islam. Didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H. Organisasi ini merupakan salah satu organisasi terbesar di Indonesia dewasa ini. NU mempersatukan solidaritas ulama tradisional dan para pengikut mereka yang berfaham salah satu dari empat mazhab Fikih Islam Sunni terutama Mazhab Syafi’i. Basis sosial Nu dahulu dan kini terutama masih berada di pesantren. Sebagai latar belakang terbentuknya organisasi NU ini adalah: gerakan pembaruan di Mesir dan sebagian Timur Tengah lainnya dengan munculnya gagasan Pan-Islamisme yang dipelopori Jamaluddin al-Afghani untuk mempersatukan seluruh dunia Islam. Sementara di Turki bangkit gerakan nasionalisme yang kemudian meruntuhkan Khalifah Usmaniyah. Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya Nahdhatul Ulama (NU) Jika di Mesir dan Turki gerakan pembaruan muncul akibat kesadaran politik atas ketertinggalan mereka dari Barat, di Arab Saudi tampil gerakan Wahabi yang bergulat dengan persoalan internal umat Islam sendiri, yaitu reformasi faham tauhid dan konservasi dalam bidang hukum yang menurut mereka telah dirusak oleh khurafat dan kemusyrikan yang melanda umat Islam. Sementara di Indonesia tumbuh organisasi sosial kebangsaan dan keagamaan yang bertujuan untuk memajukan kehidupan umat, seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Syarekat Islam (11 November 1912), dan kemudian disusul Muhammadiyah (18 Nopember 1912). Hal-hal tersebut telah membangkitkan semangat beberapa pemuda Islam Indonesia untuk membentuk organisasi pendidikan dan dakwah, seperti Nahdatul Wathan (Kebangkitan tanah air), dan Taswirul Afkar (potret pemikiran). Kedua organisasi dirintis bersama oleh Abdul Wahab Hasbullah dan Mas Mansur organisasi inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya NU. Pada saat yang sama, tantangan pembaruan yang dibawah oleh Muhammad Abduh di Mesir mempengaruhi ulama Indonesia dalam bentuk Muhammadiyah, yakni organisasi Islam terbesar kedua pada abad ke-20 di Indonesia. Penghapusan kekhalifahan di Turki dan kejatuhan Hijaz ke tangan Ibn Sa’ud yang menganut Wahabiyah pada tahun 1924 memicu konflik terbuka dalam masyarakat Muslim Indonesia. Perubahan- perubahan ini mengganggu sebagian besar ulama Jawa, termasuk Hasbullah. Dia dan ulama sefaham menyadari serta melakukan usaha-usaha untuk melawan ancaman bid’ah tersebut serta merupakan kebutuhan yang mendesak. Hasyim As’ari (1871-1947) Kiai dari pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang merupakan ulama Jawa paling disegani-menyetujui permintaan mereka untuk membentuk NU pada tahun 1926 dan dia menjadi ketua pertamanya atau ro’is akbar. Khittah NU 1926 menyatakan tujuan NU sebagai berikut: Meningkatkan hubungan antar ulama dari berbagai mazhab sunni Meneliti kitab-kitab pesantren untuk menentukan kesesuaian dengan ajaranahlusunnah wal-jama’ah Meneliti kitab-kitab di pesantren untuk menentukan kesesuaiannya dengan ajaranahlusunnah wal-jama’ah Mendakwahkan Islam berdasarkan ajaran empat mazhab Mendirikan Madrasah, mengurus masjid, tempat-tempat ibadah, dan pondok pesantren, mengurus yatim piatu dan fakir miskin Dan membentuk organisasi untuk memajukan pertanian, perdagangan, dan industri yang halal menurut hukum Islam Dari keenam usaha tersebut, hanya satu butir saja yaitu usaha pertanian, perdagangan dan industri yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kaum ulama secara khusus. Hasil Muktamar XXVII NU di Situbondo pada tahun 1984, melalui sebuah keputusan yang disebut “Khittah Nahdatul Ulama”, menegaskan kembali usaha-usaha tersebut dalam empat butir. Pertama, peningkatan silaturrahmi antar ulama. Kedua, peningkatan kegiatan di bidang keilmuan/ pengkajian/pendidikan. Ketiga, peningkatan penyiaran Islam, pembangunan sarana- sarana peribadatan dan pelayanan sosial. Keempat, peningkatan taraf dan kualitas hidup masyarakat melalui kegiatan yang terarah, mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan-urusan pertanian, perniagaan dan perusahaan yang tidak dilarang oleh syara’. Dengan demikian pengaruh ulama sangat besar dalam NU, dan telah mendapat konfirmasi dari Khittah NU. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya NU adalah Jam’iyyah Diniyyahyang membawakan faham keagamaan, sehingga yang menjadi mata rantai pembawa faham Islam Ahlussunnah wal-jama’ah, selalu ditempatkan sebagai pengelola, pengendali, pengawas dan pembimbing utama jalannya organisasi. Selanjutnya akan dijelaskan sekilas tentang lambang NU, lambang NU ini dibuat pada tahun 1927. Mempunyai lambang sebuah bintang besar di atas bumi menyimbolkan Nabi Muhammad, empat bintang kecil, masing-masing dua disebelah kanan dan kiri bintang besar, melambangkan empat khulafa’al-Rasyidin; dan empat bintang kecil di bawah melambangkan empat Imam Mazhab sunni; kesembilan bintang tadi secara bersama-sama juga bermakna sembailan wali (Wali Songo) yang pertama kali menyebarkan agama Islam di jawa. Bola dunia yang berwarna hijau melambangkan asal-usul kemanusiaan, yaitu bumi, yang kepadanya manusia akan kembali dan dirinya manusia akan kembali dan manusia akan dibangkitkan pada hari pembalasan. Tali kekemasan yang melingkari bumi dengan 99 ikatan melambangkan 99 nama-nama indah Tuhan, yang dengannya seluruh muslim di dunia disatukan.
Nahdatul Ulama disingkat NU (Kebangkitan Ulama') Nahdatul Ulama disingkat NU, yang merupakan suatu jam’iyah Diniyah Islamiyah yang berarti Organisasi Keagamaan Islam. Didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H. Organisasi ini merupakan salah satu organisasi terbesar di Indonesia dewasa ini. NU mempersatukan solidaritas ulama tradisional dan para pengikut mereka yang berfaham salah satu dari empat mazhab Fikih Islam Sunni terutama Mazhab Syafi’i. Basis sosial Nu dahulu dan kini terutama masih berada di pesantren. Sebagai latar belakang terbentuknya organisasi NU ini adalah: gerakan pembaruan di Mesir dan sebagian Timur Tengah lainnya dengan munculnya gagasan Pan-Islamisme yang dipelopori Jamaluddin al-Afghani untuk mempersatukan seluruh dunia Islam. Sementara di Turki bangkit gerakan nasionalisme yang kemudian meruntuhkan Khalifah Usmaniyah. Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya Nahdhatul Ulama (NU) Jika di Mesir dan Turki gerakan pembaruan muncul akibat kesadaran politik atas ketertinggalan mereka dari Barat, di Arab Saudi tampil gerakan Wahabi yang bergulat dengan persoalan internal umat Islam sendiri, yaitu reformasi faham tauhid dan konservasi dalam bidang hukum yang menurut mereka telah dirusak oleh khurafat dan kemusyrikan yang melanda umat Islam. Sementara di Indonesia tumbuh organisasi sosial kebangsaan dan keagamaan yang bertujuan untuk memajukan kehidupan umat, seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Syarekat Islam (11 November 1912), dan kemudian disusul Muhammadiyah (18 Nopember 1912). Hal-hal tersebut telah membangkitkan semangat beberapa pemuda Islam Indonesia untuk membentuk organisasi pendidikan dan dakwah, seperti Nahdatul Wathan (Kebangkitan tanah air), dan Taswirul Afkar (potret pemikiran). Kedua organisasi dirintis bersama oleh Abdul Wahab Hasbullah dan Mas Mansur organisasi inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya NU. Pada saat yang sama, tantangan pembaruan yang dibawah oleh Muhammad Abduh di Mesir mempengaruhi ulama Indonesia dalam bentuk Muhammadiyah, yakni organisasi Islam terbesar kedua pada abad ke-20 di Indonesia. Penghapusan kekhalifahan di Turki dan kejatuhan Hijaz ke tangan Ibn Sa’ud yang menganut Wahabiyah pada tahun 1924 memicu konflik terbuka dalam masyarakat Muslim Indonesia. Perubahan- perubahan ini mengganggu sebagian besar ulama Jawa, termasuk Hasbullah. Dia dan ulama sefaham menyadari serta melakukan usaha-usaha untuk melawan ancaman bid’ah tersebut serta merupakan kebutuhan yang mendesak. Hasyim As’ari (1871-1947) Kiai dari pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang merupakan ulama Jawa paling disegani-menyetujui permintaan mereka untuk membentuk NU pada tahun 1926 dan dia menjadi ketua pertamanya atau ro’is akbar. Khittah NU 1926 menyatakan tujuan NU sebagai berikut: Meningkatkan hubungan antar ulama dari berbagai mazhab sunni Meneliti kitab-kitab pesantren untuk menentukan kesesuaian dengan ajaranahlusunnah wal-jama’ah Meneliti kitab-kitab di pesantren untuk menentukan kesesuaiannya dengan ajaranahlusunnah wal-jama’ah Mendakwahkan Islam berdasarkan ajaran empat mazhab Mendirikan Madrasah, mengurus masjid, tempat-tempat ibadah, dan pondok pesantren, mengurus yatim piatu dan fakir miskin Dan membentuk organisasi untuk memajukan pertanian, perdagangan, dan industri yang halal menurut hukum Islam Dari keenam usaha tersebut, hanya satu butir saja yaitu usaha pertanian, perdagangan dan industri yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kaum ulama secara khusus. Hasil Muktamar XXVII NU di Situbondo pada tahun 1984, melalui sebuah keputusan yang disebut “Khittah Nahdatul Ulama”, menegaskan kembali usaha-usaha tersebut dalam empat butir. Pertama, peningkatan silaturrahmi antar ulama. Kedua, peningkatan kegiatan di bidang keilmuan/ pengkajian/pendidikan. Ketiga, peningkatan penyiaran Islam, pembangunan sarana- sarana peribadatan dan pelayanan sosial. Keempat, peningkatan taraf dan kualitas hidup masyarakat melalui kegiatan yang terarah, mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan-urusan pertanian, perniagaan dan perusahaan yang tidak dilarang oleh syara’. Dengan demikian pengaruh ulama sangat besar dalam NU, dan telah mendapat konfirmasi dari Khittah NU. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya NU adalah Jam’iyyah Diniyyahyang membawakan faham keagamaan, sehingga yang menjadi mata rantai pembawa faham Islam Ahlussunnah wal-jama’ah, selalu ditempatkan sebagai pengelola, pengendali, pengawas dan pembimbing utama jalannya organisasi. Selanjutnya akan dijelaskan sekilas tentang lambang NU, lambang NU ini dibuat pada tahun 1927. Mempunyai lambang sebuah bintang besar di atas bumi menyimbolkan Nabi Muhammad, empat bintang kecil, masing-masing dua disebelah kanan dan kiri bintang besar, melambangkan empat khulafa’al-Rasyidin; dan empat bintang kecil di bawah melambangkan empat Imam Mazhab sunni; kesembilan bintang tadi secara bersama-sama juga bermakna sembailan wali (Wali Songo) yang pertama kali menyebarkan agama Islam di jawa. Bola dunia yang berwarna hijau melambangkan asal-usul kemanusiaan, yaitu bumi, yang kepadanya manusia akan kembali dan dirinya manusia akan kembali dan manusia akan dibangkitkan pada hari pembalasan. Tali kekemasan yang melingkari bumi dengan 99 ikatan melambangkan 99 nama-nama indah Tuhan, yang dengannya seluruh muslim di dunia disatukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar