JEJAK PEREMPUAN PEJUANG
Selama ini yang banyak diajarkan
dan lebih populer adalah dominasi
para pejuang kemerdekaan pria.
Corak sejarah yang androsentris
seperti ini menempatkan perempuan
hanya sebagai figuran. Keadaan ini
memang tidak adil karena
sesungguhnya perempuan dapat
dipandang sebagai pribadi yang
mandiri, yang bisa menggerakkan
sejarah.
Sejarah adalah mengingat yang lupa,
dan bangsa Indonesia yang besar ini
tak pantas untuk melupakan jejak
langkah perjuangan kaum perempuan
sebagai Ibu Pertiwi. Perempuan
adalah salah satu agent of change
yang tidak bisa dipandang sebelah
mata. Keberadaannya sangat
menentukan peradaban suatu
bangsa. Baik buruknya perempuan
menjadi cerminan baik buruknya
suatu bangsa. Sejarah pun telah
mencatat nama-nama agung
perempuan yang pernah dilahirkan di
dunia ini. Hampir setiap negara
memiliki perempuan-perempuan
agung yang mampu menjadi pionir
perubahan bagi masyarakatnya, tidak
terkecuali negara Indonesia.
Tampilnya perempuan Indonesia
menjadi pionir disebabkan karena
keresahannya melihat kondisi sosial
disekitarnya yang tidak adil.
Ketidakadilan dan kezaliman ini
terlihat jelas ketika Indonesia berada
dibawah cengkeraman penjajah, baik
Portugis, Belanda, maupun Jepang.
Banyak contoh peran perempuan
dalam sejarah perjuangan Indonesia,
yang tersebar di seluruh Nusantara
berkiprah untuk satu tujuan menjadi
pengawal negeri, menjadi “Ibu
Pertiwi”. Mereka adalah Ratu
Kalinyamat, Malahayati, Safiatudin,
Nyi Ageng Serang, Siti Aisyah We
Tenriolle, Cut Nyak Dien, Tengku
Fakinah, Pocut Baren, Cut Nyak
Meutia, Pocut Meurah Intan, Siti
Walidah, R.A. Kartini, Dewi Sartika,
Rohana Kudus, Rahmah El-
Yunusiyah, H.R. Rusana Said, dan
Solichah A. Wahid Hasyim, dan ai-
lain.
Tahun 1511 adalah catatan awal
invasi bangsa Eropa pertama ke
wilayah Nusantara. Inilah perang
Sabil pertama dalam sejarah Islam
Nusantara, yang ditandai dengan
agresi tentara Kerajaan Protestan
Portugis yang dipimpin oleh Alfonso
de Albuquerque yang berpusat di
Goa, India, terhadap Kerajaan Islam
Malaka, yang ketika itu di bawah
kekuasaan Sultan Mahmud Syah I
(memerintah tahun 1488 – 1511).
Di ujung pulau Sumatera, Kesultanan
Aceh belum lama berdiri ketika
Portugis menaklukkan Malaka pada
1511. Kesultanan ini secara bertahap
menjadi kuat di semenanjung
Sumatra pada paruh pertama abad
ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku
keras di pasaran Tiongkok dan Eropa.
Hubungan dengan pedagang dari
pesisir laut merah pun segera
terjalin. Ini membawa keuntungan
bagi Kesultanan Aceh. Portugis
melihat itu sebagai ancaman,
sementara sultan-sultan Aceh menilai
Portugis sebagai lawan. Perang pun
tak terelakkan. Aceh menyerang
Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574,
dan 1629.
Dalam peperangan itu, Aceh
menyertakan armada perempuan.
Orang Portugis agak canggung
dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan:
mereka harus berperang melawan
para perempuan. Inilah tilas mula
keperkasaan perempuan Aceh.
Kesertaan perempuan Aceh
ditemukan dalam perang tahun 1567
walau belum berhimpun dalam
kesatuan khusus. Jennifer Dudley,
mahasiswi doktoral Universitas
Murdoch, menyebut perempuan-
perempuan itu bergabung ke dalam
pasukan Sultan Alauddin Riayat Syah
al-Kahar. “Mereka menemani
suaminya berperang, sementara
sisanya adalah janda atau tunangan
dari prajurit yang gugur dalam
perang sebelumnya,” tulis Dudley
dalam “Of Warrior Women, Emancipiest
Princesses, ‘Hidden Queens’, and
Managerial Mothers.”
Dari sinilah sejarah perempuan
pejuang bermula, darah Syahidah
Keumalahayati mengalir dari Selat
Malaka mewarnai lautan yang
menghubungkan antar Nusa yang
bernama Nusa-Antara (Nusantara).
Nama Malahayati dari Kesultanan
Aceh yang berhasil meluluh lantakan
armada-armada penjajah.
Reputasinya sebagai penjaga Selat
Malaka yang handal sangat ditakuti
oleh armada-armada Portugis,
Belanda dan Inggris. Nama
Malahayati mampu membuat bergidik
kapal-kapal asing.
Sebelum Malahayati, sosok yang
ditakuti tentara Portugis, mereka
menyebutnya Rainha da Japara,
senhora poderosa e rica, yang berarti
Ratu Jepara, seorang wanita yang
kaya dan berkuasa. Dia adalah Ratu
Kalinyamat dari Jepara yang
bersekutu dengan Kesultanan Aceh
menggempur Portugis di Selat
Malaka. Kehebatan dan kekayaan
Ratu Kalinyamat digunakan untuk
menegakan agama Allah. Dia tidak
rela bumi Nusantara dijadikan
perpanjangan tangan perang salib.
Ratu Kalinyamat dan Malahayati
adalah “Ibu Pertiwi”, ibu dari para
penjaga negeri, semangat mereka
melahirkan para perempuan pejuang
di bumi Nusantara dari masa ke
masa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar