Rabu, 17 Juni 2015

JEJAK PEREMPUAN PEJUANG

JEJAK PEREMPUAN PEJUANG

 Selama ini yang banyak diajarkan dan lebih populer adalah dominasi para pejuang kemerdekaan pria. Corak sejarah yang androsentris seperti ini menempatkan perempuan hanya sebagai figuran. Keadaan ini memang tidak adil karena sesungguhnya perempuan dapat dipandang sebagai pribadi yang mandiri, yang bisa menggerakkan sejarah. Sejarah adalah mengingat yang lupa, dan bangsa Indonesia yang besar ini tak pantas untuk melupakan jejak langkah perjuangan kaum perempuan sebagai Ibu Pertiwi. Perempuan adalah salah satu agent of change yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Keberadaannya sangat menentukan peradaban suatu bangsa. Baik buruknya perempuan menjadi cerminan baik buruknya suatu bangsa. Sejarah pun telah mencatat nama-nama agung perempuan yang pernah dilahirkan di dunia ini. Hampir setiap negara memiliki perempuan-perempuan agung yang mampu menjadi pionir perubahan bagi masyarakatnya, tidak terkecuali negara Indonesia. Tampilnya perempuan Indonesia menjadi pionir disebabkan karena keresahannya melihat kondisi sosial disekitarnya yang tidak adil. Ketidakadilan dan kezaliman ini terlihat jelas ketika Indonesia berada dibawah cengkeraman penjajah, baik Portugis, Belanda, maupun Jepang. Banyak contoh peran perempuan dalam sejarah perjuangan Indonesia, yang tersebar di seluruh Nusantara berkiprah untuk satu tujuan menjadi pengawal negeri, menjadi “Ibu Pertiwi”. Mereka adalah Ratu Kalinyamat, Malahayati, Safiatudin, Nyi Ageng Serang, Siti Aisyah We Tenriolle, Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Pocut Baren, Cut Nyak Meutia, Pocut Meurah Intan, Siti Walidah, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Rahmah El- Yunusiyah, H.R. Rusana Said, dan Solichah A. Wahid Hasyim, dan ai- lain. Tahun 1511 adalah catatan awal invasi bangsa Eropa pertama ke wilayah Nusantara. Inilah perang Sabil pertama dalam sejarah Islam Nusantara, yang ditandai dengan agresi tentara Kerajaan Protestan Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque yang berpusat di Goa, India, terhadap Kerajaan Islam Malaka, yang ketika itu di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Syah I (memerintah tahun 1488 – 1511). Di ujung pulau Sumatera, Kesultanan Aceh belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada paruh pertama abad ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku keras di pasaran Tiongkok dan Eropa. Hubungan dengan pedagang dari pesisir laut merah pun segera terjalin. Ini membawa keuntungan bagi Kesultanan Aceh. Portugis melihat itu sebagai ancaman, sementara sultan-sultan Aceh menilai Portugis sebagai lawan. Perang pun tak terelakkan. Aceh menyerang Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574, dan 1629. Dalam peperangan itu, Aceh menyertakan armada perempuan. Orang Portugis agak canggung dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan: mereka harus berperang melawan para perempuan. Inilah tilas mula keperkasaan perempuan Aceh. Kesertaan perempuan Aceh ditemukan dalam perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Jennifer Dudley, mahasiswi doktoral Universitas Murdoch, menyebut perempuan- perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. “Mereka menemani suaminya berperang, sementara sisanya adalah janda atau tunangan dari prajurit yang gugur dalam perang sebelumnya,” tulis Dudley dalam “Of Warrior Women, Emancipiest Princesses, ‘Hidden Queens’, and Managerial Mothers.” Dari sinilah sejarah perempuan pejuang bermula, darah Syahidah Keumalahayati mengalir dari Selat Malaka mewarnai lautan yang menghubungkan antar Nusa yang bernama Nusa-Antara (Nusantara). Nama Malahayati dari Kesultanan Aceh yang berhasil meluluh lantakan armada-armada penjajah. Reputasinya sebagai penjaga Selat Malaka yang handal sangat ditakuti oleh armada-armada Portugis, Belanda dan Inggris. Nama Malahayati mampu membuat bergidik kapal-kapal asing. Sebelum Malahayati, sosok yang ditakuti tentara Portugis, mereka menyebutnya Rainha da Japara, senhora poderosa e rica, yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa. Dia adalah Ratu Kalinyamat dari Jepara yang bersekutu dengan Kesultanan Aceh menggempur Portugis di Selat Malaka. Kehebatan dan kekayaan Ratu Kalinyamat digunakan untuk menegakan agama Allah. Dia tidak rela bumi Nusantara dijadikan perpanjangan tangan perang salib. Ratu Kalinyamat dan Malahayati adalah “Ibu Pertiwi”, ibu dari para penjaga negeri, semangat mereka melahirkan para perempuan pejuang di bumi Nusantara dari masa ke masa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar