Rabu, 17 Juni 2015

Ki Jaga Desa dan Andil Sejarah Cilacap

Ki Jaga Desa dan Andil Sejarah Cilacap

19 September 2011 - Artikel

YES RADIO, Cilacap - Sahabat Yes  mengenal dan memahami sejarah di tempat kita tinggal adalah sebuah kepuasan tersendiri.
Begitupun dengan Kabupaten Cilacap  tempat tinggal kita tercinta yang usianya sudah lebih dari 1,5 abad lamanya.
Maka ketika ada suatu kesempatan untuk melakukan perbincangan dengan tokoh atau sesepuh yang sangat memahami sejarah Cilacap, tim Sketsa tak mau menyia-nyiakan peluang itu.
Dan inilah cerita yang kami dapatkan,  dari sebuah acara Silaturrahmi paguyuban Keluarga Besar Ki Jaga Desa di Kelurahan Tritih Kulon – Cilacap Utara  sepekan yang lalu.
Bagi sebagian kita  nama Ki Jaga Desa mungkin terdengar asing. Padahal, beliaulah salah satu tokoh penting yang ikut trukah atau merintis dalam sejarah berdirinya Tlatjap atau sekarang kita sebut Cilacap.
Segera saja kita buka lembaran sejarah ratusan tahun silam bersama Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro –warga Tritih Wetan, yang merupakan canggah atau keturunan ke-4 dari Ki Jaga Desa.
Ratusan warga yang semuanya merupakan keturunan dari Ki Jaga Desa berkumpul dalam Silaturrahmi dan Halal bi Halal di rumah Rsumiyati --salah satu keluarga trah Jaga Desa di Jalan Ismoyo Baru RT 7 RW 3 Kelurahan Tritih  Kulon – Cilacap Utara Ahad pekan lalu (11/9).  
Ini merupakan agenda rutin di setiap Lebaran, selain arisan setiap bulan  sebagai media pengikat silaturrahmi antar keturunan Ki Jaga Desa agar terus saling mengenal atau sering disebut orang tua kita  agar tidak kehabisan nyala obor.
Paguyuban Ki Jaga Desa sendiri sudah berdiri sejak 15 tahun silam dan kini terus meretas  dengan memperluas jalinan silaturrahmi termasuk melalui dunia maya di situs jejaring social facebook melalui alamat jagadesa trah.
Subada Warso Miharjo adalah sesepuh sekaligus Ketua dari Paguyuban Ki Jaga Desa dari awal berdiri sampai saat ini.
Nama Subada Warso Miharjo kini sudah bergelar Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro.
Gelar Raden Tumenggung ini secara resmi diberikan dalam sebuah acara wisuda langsung oleh Keraton Surakarta bersama 8 orang  lain keturunan Ki Jaga Desa, bulan Juni lalu.
Sejarah Tlatjap atau Cilacap  seperti dituturkan Subada  terbagi dalam 3 tahap.
Tahap pertama adalah masa Keraton Nusatembini yang dipimpin oleh Ratu siluman bernama Brantarara.
Ratu Brantarara memiliki sebuah tumpakan atau kendaraan bernama Kuda Sembrani yang bisa terbang.
Syahdan di sebuah tempat lain yakni di Kerajaan Pajajaran  tengah dilanda Pageblug atau serangan wabah.
Pageblug ini hanya bisa diobati dengan luh atau air mata Kuda Sembrani di Keraton Nusatembini, maka Pajajaran kemudian mengutus Patih Tilamdanu, Dipati Gobog,  Dipati Wiling,  Dipati Sendang  dan beberapa lain demi mendapatkan luh Kuda Sembrani milik Ratu Brantara  di Keraton Nusatembini.
Namun  misi mendapatkan luh Kuda Sembrani bukan perkara gampang.
Para utusan Pajajaran ini terhalng Pring Ori Sapitu atau bambu berduri  ketika tiba di pagar Keraton Nusatembini.
Selanjutnya  mereka mendapat petunjuk untuk membedah Pring Ori Sapitu, dengan peluru kencana atau emas  dan merekapun kemudian membuatnya.
Peluru emas kemudian ditembakkan kea rah Nusatembini  maka bedahlah Pring Ori Sapitu.
Pring Ori Sapitu kemudian ditebangi sendiri oleh rakyat Nusatembini  seperti mengambil emas.
Nah Sahabat  menurut Subada, tempat  para utusan Pajajaran yang andon atau numpang membuat peluru emas ini kemudian disebut Donan  diambil dari kata andon yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia adalah numpang.
Para utusan Pajajaran ini tinggal di Donan sampai satu-persatu meninggal dunia dan rakyat pontang-panting tanpa pemimpin.
Subada melanjutkan, babad Cilacap kemudian memasuki tahap 2  ditandai pada abad XIV ketika Raden Ronggosengoro –menantu Adipati Wirasaba, diutus oleh Adipati Mrapat untuk pindah ke Donan  dan diangkat sebagai Adipati Donan, maka rakyatpun aman dan tentram.
Namun di kemudian hari, Donan terancam marabahaya berupa terror burung raksasa Garuda Beri yang siap memangsa hewan dan manusia.
Adipati Donan kemudian mendapat petunjuk, Garuda Beri hanya bisa dibunuh dengan senjata bernama Cis Tilam Upih  yang keberadaannya hanya ada di Kerajaan Demak.
Raden Ronggosengoro atau Adipati Donan kemudian berangkat menuju Demak untuk meminjam Cis Tilam Upih. Cis sendiri merupakan senjata semacam keris dengan ukuran yang lebih kecil.
Demak kemudian meminjamkan Cis Tilam Upih dengan syarat harus segera dikembalikan  usai digunakan. Namun  belum juga menggunakan Cis Tilam Upih  Raden Ronggosengoro lebih dulu panic melihat ukuran raksasa Garuda Beri.
Maka gagallah upaya melumpuhkan Garuda Beri  dan Cis Tilam masih ada di tangan Raden Ronggosengoro.
Sementara itu di Kerajaan Demak digelarlah sebuah sidang khusus, demi mendengar Garuda Beri yang masih berkeliaran  mengancam wilayah Donan.
Maka Demak kemudian mengutus Ki Bagus Santri atau juga disebut Santri Undig yang konon merupakan penyamaran dari Sunan Kalijaga untuk menumpas Garuda Beri di Donan, maka dimulailah perjalanan Ki Bagus Santri menuju Donan.
Dalam setiap tempat yang disinggahi selalu meninggalkan tilas yang kemudian menjadi nama dari daerah tersebut.
Sahabat,  perjalanan Ki Bagus Santri alias Santri Undig menuju Donan untuk menumpas Garuda Beri menjadi catatan penting penamaan setiap tempat yang disinggahi.
Kembali menurut Subada, saat Ki Bagus Santri mau menunaikan sholat  tiba di sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat pohon mbulu berbentuk seperti payung  maka jadilah daerah itu dinamakan Bulu Payung  yang kini masuk Kecamatan Kesugihan.
Perjalanan berlanjut di suatu wilayah yang para penghuninya belum bisa mengaji. Oleh Ki Bagus Santri kemudian diberi pemahaman beragam ilmu sehingga merekapun menjadi warga yang kaya atau sugih dengan ilmu, jadilah tempat itu Kesugihan.
Masih di wilayah Timur,  Santri Undig kemudian singgah di suatu tempat yang diserang pageblug atau wabah aneh,jika ada warga yang pagi hari sakit  maka sore harinya meninggal dunia  lalu jika sakit sore hari  maka pagi keesokan harinya juga meninggal dunia.
Maka Santri Undig turun tangan dengan memberikan air sebagai sarana kesembuhan  dan sirnalah penyakit aneh itu  maka daerah ini dinamakan Kuripan atau Kehidupan.
Santri Undig kemudian tiba di Donan  daerah yang ia tuju  setelah lebih dulu transit di Kadipaten Limbangan dan oleh Adipati yang berkuasa  maka Santri Undig berangkat mengikuti sayembara sebagai utusan Limbangan.
Santri Undigpun kemudian meminta persyaratan untuk membunuh Garuda Beri,  diantaranya kain kafan atau mori seukuran badan, dibuatkan panggok atau rumah panggung,  lobang sededeg sepengawe  dan tentu  gaman cis Tilam Upih.
Tibalah hari yang dinanti  di sebuah tanah lapang  disaksikan seluruh prajurit dan masyarakat.
Usai menunaikan sholat, Santri Undig masuk panggok dengan dibalut mori  dan saat itulah Garuda Beri terbang dari Nusakambangan.
Santri Undig yang sudah siap dengan Cis Tilam Upih berkelebat menuju lobang sededeg sepengawe yang sudah disiapkan.
Garuda yang melihat sosok putihpun segera menukik turun  namun karena lobang yang terlalu sempit  tubuhnya tak menjangkau dan saat itulah  Cis Tilam Upih ditusukkan di bagian paha oleh Santri Undig.
Seketika Garuda meradang dan terbang kocar-kacir karena sakit yang teramat sangat. Beberapa tempat menjadi persinggahan Garuda yang terluka  seperti pohon Tapang di wilayah pesisir hingga dengklok atau membengkok tak kuat menahan besarnya ukuran Garuda  maka disebutlah wilayah itu Tapang Dengklok di wilayah pesisir Cilacap.
Kemudian bulu-bulunya mbrodoli dengan tubuh seperti terpanggang  maka daerah itu disebut grumbul Panggang.
Setelahnya,  Santri Undig kemudian pulang menuju Demak  dan lagi-lagi di setiap perjalanan  membekaslah nama tempat yang ia singgahi  seperti perairan Sapu Regel  Kedung Salam  hingga di sebuah tempat yang dipenuhi dengan pohon jeruk yang selanjutnya dinamakan Jeruklegi.
Adapun Raden Ronggosengoro  sepeninggal Santri Undig ke Demak  baru menyadari kalau ia bukan priyayi sembarangan. Maka iapun bergegas mencari dan terus mencari  sampai kemudian meninggalkan Donan  dan berujung pada situasi Donan yang kembali krisis karena tidak ada pemerintahan  kali ini datanglah ancaman gerombolan Bajak Laut.
Subada yang kini sudah berusia 68 tahun kembali menceritakan,  sejarah Cilacap memasuki tahap 3  yakni 1737 tahun saka atau 1801 masehi  Sinuwun Paku Buwono IV Surakarta  mengutus 3 Tumenggung untuk pindah paprentahan di Donan beserta prajurit dan keluarganya. Meraka adalah Raden Tumeneggung Kertanegara 3 yang ditugaskan di Ayah – Kebumen,  Raden Tumenggung Ronggo Kertarana di Donan,  dan Raden Tumenggung Perdana Jaga Praja yang kemudian ditarik untuk membantu Pangeran Diponegoro di Gua Slarong. Raden Tumenggung Ronggo Kertarana memiliki keturunan seperti Demang Wirayuda,  Demang Candrayuda,  Demang Wangsasengrana,  dan Demang Jaga Desa.  
Sedangkan dalam tata pemerintahannya kemudiian dibagi 3 wilayah –masing-masing Ki Jaga Desa bertugas di belahan Timur,  Ki Jaga Laut di belahan tengah, dan Ki Jaga Resmi di belahan Barat.
Untuk diketahui,  Ki Jaga Laut dan Ki Jaga Resmi merupakan keturunan dari Raden Tumenggung Perdana Jaga Praja sebagai adik dari Ronggo Kertarana.
Raden Tumenggung Ronggo Kertarana sendiri dikisahkan dibunuh oleh gerombolan bajak laut saat sedang berkumpul dengan warga.
Mengerucut pada kiprah Ki Jaga Desa,  Subada menuturkan  sebagai pungga yang diberi tugas  menjaga keamanan di saat gangguan bajak laut.
Tanggung jawab besar menjaga keamanan membuat Ki Jaga Desa jarang berada di rumah  dan lebih banyak berkeliling menjaga keamanan.
Naas  di saat itulah  gerombolan bajak laut kemudian dengan keji membunuh istri Ki Jaga Desa.
Ki Jaga Desa kemudian berupaya menuntut balas atas kematian istrinya  berlari mengejar keberadaan bajak laut. Perjalanannya terhambat ketika rambutnya yang panjang kecantel tlawungan atau jemuran padi .
Dengan peristiwa itu, Ki Jaga Desa kemudian memberikan ipat-ipat atau peringatan keras agar keturunannya  nanti  jangan sampai berambut gondrong untuk yang laki-laki.
Dari garis silsilah yang diakui oleh Keraton Surakarta  Ki Jaga Desa memiliki 4 keturunan anak  antara lain Ki Jaga Desa 2,  Ki Surarana berjuluk Raden Ngabehi Panglacak Margi,  Ni Lasih,  dan Ki Perna.
Dari Ki Surarana kemudian memiliki 3 anak –antara lain Trawirana, Suratirta  dan Suradikrama.
Selanjutnya Suradikrama dianugerahi 3 keturunan    yakni Ni Tritawigena,  Ni Arsadinala  dan Ki Purwawitana.
Nah dari Ki Purwawitana inilah menurunkan 10 keturunan  dan 1 diantaranya adalah Subada Warso Miharjo, yang kini bergelar Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro.
Kembali pada sejarah Cilacap,  Sinuwun Pakubuwono pada tahun 1839 mengutus  Raden Ngabehi Cakradimeja, untuk membuka hutan Donan menjadi kota Tlatjap.
Kemudian  ia mendirikan Pendopo Kabupaten Cilacap tahun 1775 tahun saka  dengan mengurug dari tanah Kuripan .
Akhirnya Raden Ngabehi Cakradimeja diangkat menjadi Bupati Tlacap berjuluk Raden Adipati Tjakrewerdana . dari tahun 1839 sampai 1873.
Sedangkan mengenai hari Jadi Kabupaten Cilacap  hasil sarasehaan  disepakati tanggal 21 Maret 1856, sesuai SK yang ditandatangani gubernur Jenderal Belanda pada pengangkatan Bupati yang pertama.
Namun  Subada menegaskan  Cilacap bukan warisan Belanda  melainkan jasa perjuangan para leluhur .
Sedangkan mengenai nama Tlatjap atau Cilacap, ada 2 versi yang diyakini Subada berdasarkan keterangan turun temurun.
Versi pertama dari tembung Ci yang artinya air dan cacap adalah sebuah daratan yang basah di wilayah Payau .
Versi lainnya adalah dari asal kata Cacab  yang artinya adalah di ujung  pantai Teluk Penyu terdapat sebuah lekukan yang mirip wluku atau alat pembajak sawah yang juga disebut Cacab.
Sahabat Yes  itulah sepenggal dari kisah panjang sejarah Ki Jaga Desa dan Andilnya dalam Sejarah Cilacap.
Semoga semakin menambah kecintaan kita dengan kota yang kita huni saat ini.
Karena adanya kita sekarang adalah buah dari sejarah masa lalu. (san/190911)
*Keterangan foto : Bupati Anom Raden Tumenggung Subada Warsodipuro (ke-3 dari kanan) bersama 8 wisudawan lain yang diwisuda di Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai pengakuan atas silsilah keturunan trah Ki Jaga Desa Cilacap.

WISATA KABUPATEN CILACAP (Sesi Ketiga) Kamis, 04 Juli 20130 komentar Geososiografi Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah. Terletak diantara 10804-300 - 1090300300 garis Bujur Timur dan 70300 - 70450200 garis Lintang Selatan, mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan. Wilayah tertinggi adalah Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198 M dari permukaan laut dan wilayah terendah adalah Kecamatan Cilacap Tengah dengan ketinggian 6 M dari permukaan laut. Jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Kecamatan Dayeuhluhur ke Kecamatan Nusawungu dan dari utara ke selatan sepanjang 35 km yaitu dari Kecamatan Cilacap Selatan ke Kecamatan Sampang. Batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen-Kabupaten Banjarnegara-Kabupaten Purbalingga, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar, Propinsi Jawa Barat. Karenanya Cilacap merupakan daerah pertemuan Budaya Jawa Banyumasan dengan Budaya Sunda, sehingga sebagian penduduk Kabupaten Cilacap bertutur dalam dua bahasa yaitu Jawa mBanyumasan dan Sunda. Jumlah penduduk Kab. Cilacap sebanyak 1.860.240 jiwa. Sejarah Kabupaten Cilacap 1. Zaman Kerajaan Jawa Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari timur ke arah barat : - Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. - Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur - Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran. Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh kerjaan Islam Banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap di sebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopati pada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram. Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon. Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama tempat yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur dan Limbangan. 2. Zaman Penjajahan Belanda Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy bertugas) dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli 1839 Nomor 1, memutuskan : "Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pelabuhan Cilacap, maka sambil menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang akan menjadi bagiannya, satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan ini akan berkedudukan di Cilacap". Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal 27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang menjadi tempat kedudukan Kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent. Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder Regentschap setaraf dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur. Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja. Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut: Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung Prenteng. Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat), dari sana ke arah selatan mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut. Dari sana ke arah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu. Dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks Kawedanan Kroya, karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub-bagian Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas. Sehingga luas kawasan Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap sekarang. Pada masa Residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86, dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220 per tahun yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda, setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten Cilacap).

Sumber: http://lingkunganbersama.blogspot.com/2013/07/wisata-kabupaten-cilacap-sesi-ketiga.html
Silahkan dicopy dan jangan lupa cantumkan sumbernya...!
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template Copyright © 2011. LINGKUNGAN BERSAMA KITA - All Rights Reserved

Sumber: http://lingkunganbersama.blogspot.com/2013/07/wisata-kabupaten-cilacap-sesi-ketiga.html
Silahkan dicopy dan jangan lupa cantumkan sumbernya...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar