Ki Jaga Desa dan Andil Sejarah Cilacap
19 September 2011 - Artikel
YES RADIO, Cilacap - Sahabat Yes mengenal dan memahami sejarah di tempat kita tinggal adalah sebuah kepuasan tersendiri.
Begitupun dengan Kabupaten Cilacap tempat tinggal kita tercinta yang usianya sudah lebih dari 1,5 abad lamanya.
Maka ketika ada suatu kesempatan untuk melakukan perbincangan dengan tokoh atau sesepuh yang sangat memahami sejarah Cilacap, tim Sketsa tak mau menyia-nyiakan peluang itu.
Dan inilah cerita yang kami dapatkan, dari sebuah acara Silaturrahmi paguyuban Keluarga Besar Ki Jaga Desa di Kelurahan Tritih Kulon – Cilacap Utara sepekan yang lalu.
Bagi sebagian kita nama Ki Jaga Desa mungkin terdengar asing. Padahal, beliaulah salah satu tokoh penting yang ikut trukah atau merintis dalam sejarah berdirinya Tlatjap atau sekarang kita sebut Cilacap.
Segera saja kita buka lembaran sejarah ratusan tahun silam bersama Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro –warga Tritih Wetan, yang merupakan canggah atau keturunan ke-4 dari Ki Jaga Desa.
Ratusan warga yang semuanya merupakan keturunan dari Ki Jaga Desa berkumpul dalam Silaturrahmi dan Halal bi Halal di rumah Rsumiyati --salah satu keluarga trah Jaga Desa di Jalan Ismoyo Baru RT 7 RW 3 Kelurahan Tritih Kulon – Cilacap Utara Ahad pekan lalu (11/9).
Ini merupakan agenda rutin di setiap Lebaran, selain arisan setiap bulan sebagai media pengikat silaturrahmi antar keturunan Ki Jaga Desa agar terus saling mengenal atau sering disebut orang tua kita agar tidak kehabisan nyala obor.
Paguyuban Ki Jaga Desa sendiri sudah berdiri sejak 15 tahun silam dan kini terus meretas dengan memperluas jalinan silaturrahmi termasuk melalui dunia maya di situs jejaring social facebook melalui alamat jagadesa trah.
Subada Warso Miharjo adalah sesepuh sekaligus Ketua dari Paguyuban Ki Jaga Desa dari awal berdiri sampai saat ini.
Nama Subada Warso Miharjo kini sudah bergelar Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro.
Gelar Raden Tumenggung ini secara resmi diberikan dalam sebuah acara wisuda langsung oleh Keraton Surakarta bersama 8 orang lain keturunan Ki Jaga Desa, bulan Juni lalu.
Sejarah Tlatjap atau Cilacap seperti dituturkan Subada terbagi dalam 3 tahap.
Tahap pertama adalah masa Keraton Nusatembini yang dipimpin oleh Ratu siluman bernama Brantarara.
Ratu Brantarara memiliki sebuah tumpakan atau kendaraan bernama Kuda Sembrani yang bisa terbang.
Syahdan di sebuah tempat lain yakni di Kerajaan Pajajaran tengah dilanda Pageblug atau serangan wabah.
Pageblug ini hanya bisa diobati dengan luh atau air mata Kuda Sembrani di Keraton Nusatembini, maka Pajajaran kemudian mengutus Patih Tilamdanu, Dipati Gobog, Dipati Wiling, Dipati Sendang dan beberapa lain demi mendapatkan luh Kuda Sembrani milik Ratu Brantara di Keraton Nusatembini.
Namun misi mendapatkan luh Kuda Sembrani bukan perkara gampang.
Para utusan Pajajaran ini terhalng Pring Ori Sapitu atau bambu berduri ketika tiba di pagar Keraton Nusatembini.
Selanjutnya mereka mendapat petunjuk untuk membedah Pring Ori Sapitu, dengan peluru kencana atau emas dan merekapun kemudian membuatnya.
Peluru emas kemudian ditembakkan kea rah Nusatembini maka bedahlah Pring Ori Sapitu.
Pring Ori Sapitu kemudian ditebangi sendiri oleh rakyat Nusatembini seperti mengambil emas.
Nah Sahabat menurut Subada, tempat para utusan Pajajaran yang andon atau numpang membuat peluru emas ini kemudian disebut Donan diambil dari kata andon yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia adalah numpang.
Para utusan Pajajaran ini tinggal di Donan sampai satu-persatu meninggal dunia dan rakyat pontang-panting tanpa pemimpin.
Subada melanjutkan, babad Cilacap kemudian memasuki tahap 2 ditandai pada abad XIV ketika Raden Ronggosengoro –menantu Adipati Wirasaba, diutus oleh Adipati Mrapat untuk pindah ke Donan dan diangkat sebagai Adipati Donan, maka rakyatpun aman dan tentram.
Namun di kemudian hari, Donan terancam marabahaya berupa terror burung raksasa Garuda Beri yang siap memangsa hewan dan manusia.
Adipati Donan kemudian mendapat petunjuk, Garuda Beri hanya bisa dibunuh dengan senjata bernama Cis Tilam Upih yang keberadaannya hanya ada di Kerajaan Demak.
Raden Ronggosengoro atau Adipati Donan kemudian berangkat menuju Demak untuk meminjam Cis Tilam Upih. Cis sendiri merupakan senjata semacam keris dengan ukuran yang lebih kecil.
Demak kemudian meminjamkan Cis Tilam Upih dengan syarat harus segera dikembalikan usai digunakan. Namun belum juga menggunakan Cis Tilam Upih Raden Ronggosengoro lebih dulu panic melihat ukuran raksasa Garuda Beri.
Maka gagallah upaya melumpuhkan Garuda Beri dan Cis Tilam masih ada di tangan Raden Ronggosengoro.
Sementara itu di Kerajaan Demak digelarlah sebuah sidang khusus, demi mendengar Garuda Beri yang masih berkeliaran mengancam wilayah Donan.
Maka Demak kemudian mengutus Ki Bagus Santri atau juga disebut Santri Undig yang konon merupakan penyamaran dari Sunan Kalijaga untuk menumpas Garuda Beri di Donan, maka dimulailah perjalanan Ki Bagus Santri menuju Donan.
Dalam setiap tempat yang disinggahi selalu meninggalkan tilas yang kemudian menjadi nama dari daerah tersebut.
Sahabat, perjalanan Ki Bagus Santri alias Santri Undig menuju Donan untuk menumpas Garuda Beri menjadi catatan penting penamaan setiap tempat yang disinggahi.
Kembali menurut Subada, saat Ki Bagus Santri mau menunaikan sholat tiba di sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat pohon mbulu berbentuk seperti payung maka jadilah daerah itu dinamakan Bulu Payung yang kini masuk Kecamatan Kesugihan.
Perjalanan berlanjut di suatu wilayah yang para penghuninya belum bisa mengaji. Oleh Ki Bagus Santri kemudian diberi pemahaman beragam ilmu sehingga merekapun menjadi warga yang kaya atau sugih dengan ilmu, jadilah tempat itu Kesugihan.
Masih di wilayah Timur, Santri Undig kemudian singgah di suatu tempat yang diserang pageblug atau wabah aneh,jika ada warga yang pagi hari sakit maka sore harinya meninggal dunia lalu jika sakit sore hari maka pagi keesokan harinya juga meninggal dunia.
Maka Santri Undig turun tangan dengan memberikan air sebagai sarana kesembuhan dan sirnalah penyakit aneh itu maka daerah ini dinamakan Kuripan atau Kehidupan.
Santri Undig kemudian tiba di Donan daerah yang ia tuju setelah lebih dulu transit di Kadipaten Limbangan dan oleh Adipati yang berkuasa maka Santri Undig berangkat mengikuti sayembara sebagai utusan Limbangan.
Santri Undigpun kemudian meminta persyaratan untuk membunuh Garuda Beri, diantaranya kain kafan atau mori seukuran badan, dibuatkan panggok atau rumah panggung, lobang sededeg sepengawe dan tentu gaman cis Tilam Upih.
Tibalah hari yang dinanti di sebuah tanah lapang disaksikan seluruh prajurit dan masyarakat.
Usai menunaikan sholat, Santri Undig masuk panggok dengan dibalut mori dan saat itulah Garuda Beri terbang dari Nusakambangan.
Santri Undig yang sudah siap dengan Cis Tilam Upih berkelebat menuju lobang sededeg sepengawe yang sudah disiapkan.
Garuda yang melihat sosok putihpun segera menukik turun namun karena lobang yang terlalu sempit tubuhnya tak menjangkau dan saat itulah Cis Tilam Upih ditusukkan di bagian paha oleh Santri Undig.
Seketika Garuda meradang dan terbang kocar-kacir karena sakit yang teramat sangat. Beberapa tempat menjadi persinggahan Garuda yang terluka seperti pohon Tapang di wilayah pesisir hingga dengklok atau membengkok tak kuat menahan besarnya ukuran Garuda maka disebutlah wilayah itu Tapang Dengklok di wilayah pesisir Cilacap.
Kemudian bulu-bulunya mbrodoli dengan tubuh seperti terpanggang maka daerah itu disebut grumbul Panggang.
Setelahnya, Santri Undig kemudian pulang menuju Demak dan lagi-lagi di setiap perjalanan membekaslah nama tempat yang ia singgahi seperti perairan Sapu Regel Kedung Salam hingga di sebuah tempat yang dipenuhi dengan pohon jeruk yang selanjutnya dinamakan Jeruklegi.
Adapun Raden Ronggosengoro sepeninggal Santri Undig ke Demak baru menyadari kalau ia bukan priyayi sembarangan. Maka iapun bergegas mencari dan terus mencari sampai kemudian meninggalkan Donan dan berujung pada situasi Donan yang kembali krisis karena tidak ada pemerintahan kali ini datanglah ancaman gerombolan Bajak Laut.
Subada yang kini sudah berusia 68 tahun kembali menceritakan, sejarah Cilacap memasuki tahap 3 yakni 1737 tahun saka atau 1801 masehi Sinuwun Paku Buwono IV Surakarta mengutus 3 Tumenggung untuk pindah paprentahan di Donan beserta prajurit dan keluarganya. Meraka adalah Raden Tumeneggung Kertanegara 3 yang ditugaskan di Ayah – Kebumen, Raden Tumenggung Ronggo Kertarana di Donan, dan Raden Tumenggung Perdana Jaga Praja yang kemudian ditarik untuk membantu Pangeran Diponegoro di Gua Slarong. Raden Tumenggung Ronggo Kertarana memiliki keturunan seperti Demang Wirayuda, Demang Candrayuda, Demang Wangsasengrana, dan Demang Jaga Desa.
Sedangkan dalam tata pemerintahannya kemudiian dibagi 3 wilayah –masing-masing Ki Jaga Desa bertugas di belahan Timur, Ki Jaga Laut di belahan tengah, dan Ki Jaga Resmi di belahan Barat.
Untuk diketahui, Ki Jaga Laut dan Ki Jaga Resmi merupakan keturunan dari Raden Tumenggung Perdana Jaga Praja sebagai adik dari Ronggo Kertarana.
Raden Tumenggung Ronggo Kertarana sendiri dikisahkan dibunuh oleh gerombolan bajak laut saat sedang berkumpul dengan warga.
Mengerucut pada kiprah Ki Jaga Desa, Subada menuturkan sebagai pungga yang diberi tugas menjaga keamanan di saat gangguan bajak laut.
Tanggung jawab besar menjaga keamanan membuat Ki Jaga Desa jarang berada di rumah dan lebih banyak berkeliling menjaga keamanan.
Naas di saat itulah gerombolan bajak laut kemudian dengan keji membunuh istri Ki Jaga Desa.
Ki Jaga Desa kemudian berupaya menuntut balas atas kematian istrinya berlari mengejar keberadaan bajak laut. Perjalanannya terhambat ketika rambutnya yang panjang kecantel tlawungan atau jemuran padi .
Dengan peristiwa itu, Ki Jaga Desa kemudian memberikan ipat-ipat atau peringatan keras agar keturunannya nanti jangan sampai berambut gondrong untuk yang laki-laki.
Dari garis silsilah yang diakui oleh Keraton Surakarta Ki Jaga Desa memiliki 4 keturunan anak antara lain Ki Jaga Desa 2, Ki Surarana berjuluk Raden Ngabehi Panglacak Margi, Ni Lasih, dan Ki Perna.
Dari Ki Surarana kemudian memiliki 3 anak –antara lain Trawirana, Suratirta dan Suradikrama.
Selanjutnya Suradikrama dianugerahi 3 keturunan yakni Ni Tritawigena, Ni Arsadinala dan Ki Purwawitana.
Nah dari Ki Purwawitana inilah menurunkan 10 keturunan dan 1 diantaranya adalah Subada Warso Miharjo, yang kini bergelar Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro.
Kembali pada sejarah Cilacap, Sinuwun Pakubuwono pada tahun 1839 mengutus Raden Ngabehi Cakradimeja, untuk membuka hutan Donan menjadi kota Tlatjap.
Kemudian ia mendirikan Pendopo Kabupaten Cilacap tahun 1775 tahun saka dengan mengurug dari tanah Kuripan .
Akhirnya Raden Ngabehi Cakradimeja diangkat menjadi Bupati Tlacap berjuluk Raden Adipati Tjakrewerdana . dari tahun 1839 sampai 1873.
Sedangkan mengenai hari Jadi Kabupaten Cilacap hasil sarasehaan disepakati tanggal 21 Maret 1856, sesuai SK yang ditandatangani gubernur Jenderal Belanda pada pengangkatan Bupati yang pertama.
Namun Subada menegaskan Cilacap bukan warisan Belanda melainkan jasa perjuangan para leluhur .
Sedangkan mengenai nama Tlatjap atau Cilacap, ada 2 versi yang diyakini Subada berdasarkan keterangan turun temurun.
Versi pertama dari tembung Ci yang artinya air dan cacap adalah sebuah daratan yang basah di wilayah Payau .
Versi lainnya adalah dari asal kata Cacab yang artinya adalah di ujung pantai Teluk Penyu terdapat sebuah lekukan yang mirip wluku atau alat pembajak sawah yang juga disebut Cacab.
Sahabat Yes itulah sepenggal dari kisah panjang sejarah Ki Jaga Desa dan Andilnya dalam Sejarah Cilacap.
Semoga semakin menambah kecintaan kita dengan kota yang kita huni saat ini.
Karena adanya kita sekarang adalah buah dari sejarah masa lalu. (san/190911)
Begitupun dengan Kabupaten Cilacap tempat tinggal kita tercinta yang usianya sudah lebih dari 1,5 abad lamanya.
Maka ketika ada suatu kesempatan untuk melakukan perbincangan dengan tokoh atau sesepuh yang sangat memahami sejarah Cilacap, tim Sketsa tak mau menyia-nyiakan peluang itu.
Dan inilah cerita yang kami dapatkan, dari sebuah acara Silaturrahmi paguyuban Keluarga Besar Ki Jaga Desa di Kelurahan Tritih Kulon – Cilacap Utara sepekan yang lalu.
Bagi sebagian kita nama Ki Jaga Desa mungkin terdengar asing. Padahal, beliaulah salah satu tokoh penting yang ikut trukah atau merintis dalam sejarah berdirinya Tlatjap atau sekarang kita sebut Cilacap.
Segera saja kita buka lembaran sejarah ratusan tahun silam bersama Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro –warga Tritih Wetan, yang merupakan canggah atau keturunan ke-4 dari Ki Jaga Desa.
Ratusan warga yang semuanya merupakan keturunan dari Ki Jaga Desa berkumpul dalam Silaturrahmi dan Halal bi Halal di rumah Rsumiyati --salah satu keluarga trah Jaga Desa di Jalan Ismoyo Baru RT 7 RW 3 Kelurahan Tritih Kulon – Cilacap Utara Ahad pekan lalu (11/9).
Ini merupakan agenda rutin di setiap Lebaran, selain arisan setiap bulan sebagai media pengikat silaturrahmi antar keturunan Ki Jaga Desa agar terus saling mengenal atau sering disebut orang tua kita agar tidak kehabisan nyala obor.
Paguyuban Ki Jaga Desa sendiri sudah berdiri sejak 15 tahun silam dan kini terus meretas dengan memperluas jalinan silaturrahmi termasuk melalui dunia maya di situs jejaring social facebook melalui alamat jagadesa trah.
Subada Warso Miharjo adalah sesepuh sekaligus Ketua dari Paguyuban Ki Jaga Desa dari awal berdiri sampai saat ini.
Nama Subada Warso Miharjo kini sudah bergelar Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro.
Gelar Raden Tumenggung ini secara resmi diberikan dalam sebuah acara wisuda langsung oleh Keraton Surakarta bersama 8 orang lain keturunan Ki Jaga Desa, bulan Juni lalu.
Sejarah Tlatjap atau Cilacap seperti dituturkan Subada terbagi dalam 3 tahap.
Tahap pertama adalah masa Keraton Nusatembini yang dipimpin oleh Ratu siluman bernama Brantarara.
Ratu Brantarara memiliki sebuah tumpakan atau kendaraan bernama Kuda Sembrani yang bisa terbang.
Syahdan di sebuah tempat lain yakni di Kerajaan Pajajaran tengah dilanda Pageblug atau serangan wabah.
Pageblug ini hanya bisa diobati dengan luh atau air mata Kuda Sembrani di Keraton Nusatembini, maka Pajajaran kemudian mengutus Patih Tilamdanu, Dipati Gobog, Dipati Wiling, Dipati Sendang dan beberapa lain demi mendapatkan luh Kuda Sembrani milik Ratu Brantara di Keraton Nusatembini.
Namun misi mendapatkan luh Kuda Sembrani bukan perkara gampang.
Para utusan Pajajaran ini terhalng Pring Ori Sapitu atau bambu berduri ketika tiba di pagar Keraton Nusatembini.
Selanjutnya mereka mendapat petunjuk untuk membedah Pring Ori Sapitu, dengan peluru kencana atau emas dan merekapun kemudian membuatnya.
Peluru emas kemudian ditembakkan kea rah Nusatembini maka bedahlah Pring Ori Sapitu.
Pring Ori Sapitu kemudian ditebangi sendiri oleh rakyat Nusatembini seperti mengambil emas.
Nah Sahabat menurut Subada, tempat para utusan Pajajaran yang andon atau numpang membuat peluru emas ini kemudian disebut Donan diambil dari kata andon yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia adalah numpang.
Para utusan Pajajaran ini tinggal di Donan sampai satu-persatu meninggal dunia dan rakyat pontang-panting tanpa pemimpin.
Subada melanjutkan, babad Cilacap kemudian memasuki tahap 2 ditandai pada abad XIV ketika Raden Ronggosengoro –menantu Adipati Wirasaba, diutus oleh Adipati Mrapat untuk pindah ke Donan dan diangkat sebagai Adipati Donan, maka rakyatpun aman dan tentram.
Namun di kemudian hari, Donan terancam marabahaya berupa terror burung raksasa Garuda Beri yang siap memangsa hewan dan manusia.
Adipati Donan kemudian mendapat petunjuk, Garuda Beri hanya bisa dibunuh dengan senjata bernama Cis Tilam Upih yang keberadaannya hanya ada di Kerajaan Demak.
Raden Ronggosengoro atau Adipati Donan kemudian berangkat menuju Demak untuk meminjam Cis Tilam Upih. Cis sendiri merupakan senjata semacam keris dengan ukuran yang lebih kecil.
Demak kemudian meminjamkan Cis Tilam Upih dengan syarat harus segera dikembalikan usai digunakan. Namun belum juga menggunakan Cis Tilam Upih Raden Ronggosengoro lebih dulu panic melihat ukuran raksasa Garuda Beri.
Maka gagallah upaya melumpuhkan Garuda Beri dan Cis Tilam masih ada di tangan Raden Ronggosengoro.
Sementara itu di Kerajaan Demak digelarlah sebuah sidang khusus, demi mendengar Garuda Beri yang masih berkeliaran mengancam wilayah Donan.
Maka Demak kemudian mengutus Ki Bagus Santri atau juga disebut Santri Undig yang konon merupakan penyamaran dari Sunan Kalijaga untuk menumpas Garuda Beri di Donan, maka dimulailah perjalanan Ki Bagus Santri menuju Donan.
Dalam setiap tempat yang disinggahi selalu meninggalkan tilas yang kemudian menjadi nama dari daerah tersebut.
Sahabat, perjalanan Ki Bagus Santri alias Santri Undig menuju Donan untuk menumpas Garuda Beri menjadi catatan penting penamaan setiap tempat yang disinggahi.
Kembali menurut Subada, saat Ki Bagus Santri mau menunaikan sholat tiba di sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat pohon mbulu berbentuk seperti payung maka jadilah daerah itu dinamakan Bulu Payung yang kini masuk Kecamatan Kesugihan.
Perjalanan berlanjut di suatu wilayah yang para penghuninya belum bisa mengaji. Oleh Ki Bagus Santri kemudian diberi pemahaman beragam ilmu sehingga merekapun menjadi warga yang kaya atau sugih dengan ilmu, jadilah tempat itu Kesugihan.
Masih di wilayah Timur, Santri Undig kemudian singgah di suatu tempat yang diserang pageblug atau wabah aneh,jika ada warga yang pagi hari sakit maka sore harinya meninggal dunia lalu jika sakit sore hari maka pagi keesokan harinya juga meninggal dunia.
Maka Santri Undig turun tangan dengan memberikan air sebagai sarana kesembuhan dan sirnalah penyakit aneh itu maka daerah ini dinamakan Kuripan atau Kehidupan.
Santri Undig kemudian tiba di Donan daerah yang ia tuju setelah lebih dulu transit di Kadipaten Limbangan dan oleh Adipati yang berkuasa maka Santri Undig berangkat mengikuti sayembara sebagai utusan Limbangan.
Santri Undigpun kemudian meminta persyaratan untuk membunuh Garuda Beri, diantaranya kain kafan atau mori seukuran badan, dibuatkan panggok atau rumah panggung, lobang sededeg sepengawe dan tentu gaman cis Tilam Upih.
Tibalah hari yang dinanti di sebuah tanah lapang disaksikan seluruh prajurit dan masyarakat.
Usai menunaikan sholat, Santri Undig masuk panggok dengan dibalut mori dan saat itulah Garuda Beri terbang dari Nusakambangan.
Santri Undig yang sudah siap dengan Cis Tilam Upih berkelebat menuju lobang sededeg sepengawe yang sudah disiapkan.
Garuda yang melihat sosok putihpun segera menukik turun namun karena lobang yang terlalu sempit tubuhnya tak menjangkau dan saat itulah Cis Tilam Upih ditusukkan di bagian paha oleh Santri Undig.
Seketika Garuda meradang dan terbang kocar-kacir karena sakit yang teramat sangat. Beberapa tempat menjadi persinggahan Garuda yang terluka seperti pohon Tapang di wilayah pesisir hingga dengklok atau membengkok tak kuat menahan besarnya ukuran Garuda maka disebutlah wilayah itu Tapang Dengklok di wilayah pesisir Cilacap.
Kemudian bulu-bulunya mbrodoli dengan tubuh seperti terpanggang maka daerah itu disebut grumbul Panggang.
Setelahnya, Santri Undig kemudian pulang menuju Demak dan lagi-lagi di setiap perjalanan membekaslah nama tempat yang ia singgahi seperti perairan Sapu Regel Kedung Salam hingga di sebuah tempat yang dipenuhi dengan pohon jeruk yang selanjutnya dinamakan Jeruklegi.
Adapun Raden Ronggosengoro sepeninggal Santri Undig ke Demak baru menyadari kalau ia bukan priyayi sembarangan. Maka iapun bergegas mencari dan terus mencari sampai kemudian meninggalkan Donan dan berujung pada situasi Donan yang kembali krisis karena tidak ada pemerintahan kali ini datanglah ancaman gerombolan Bajak Laut.
Subada yang kini sudah berusia 68 tahun kembali menceritakan, sejarah Cilacap memasuki tahap 3 yakni 1737 tahun saka atau 1801 masehi Sinuwun Paku Buwono IV Surakarta mengutus 3 Tumenggung untuk pindah paprentahan di Donan beserta prajurit dan keluarganya. Meraka adalah Raden Tumeneggung Kertanegara 3 yang ditugaskan di Ayah – Kebumen, Raden Tumenggung Ronggo Kertarana di Donan, dan Raden Tumenggung Perdana Jaga Praja yang kemudian ditarik untuk membantu Pangeran Diponegoro di Gua Slarong. Raden Tumenggung Ronggo Kertarana memiliki keturunan seperti Demang Wirayuda, Demang Candrayuda, Demang Wangsasengrana, dan Demang Jaga Desa.
Sedangkan dalam tata pemerintahannya kemudiian dibagi 3 wilayah –masing-masing Ki Jaga Desa bertugas di belahan Timur, Ki Jaga Laut di belahan tengah, dan Ki Jaga Resmi di belahan Barat.
Untuk diketahui, Ki Jaga Laut dan Ki Jaga Resmi merupakan keturunan dari Raden Tumenggung Perdana Jaga Praja sebagai adik dari Ronggo Kertarana.
Raden Tumenggung Ronggo Kertarana sendiri dikisahkan dibunuh oleh gerombolan bajak laut saat sedang berkumpul dengan warga.
Mengerucut pada kiprah Ki Jaga Desa, Subada menuturkan sebagai pungga yang diberi tugas menjaga keamanan di saat gangguan bajak laut.
Tanggung jawab besar menjaga keamanan membuat Ki Jaga Desa jarang berada di rumah dan lebih banyak berkeliling menjaga keamanan.
Naas di saat itulah gerombolan bajak laut kemudian dengan keji membunuh istri Ki Jaga Desa.
Ki Jaga Desa kemudian berupaya menuntut balas atas kematian istrinya berlari mengejar keberadaan bajak laut. Perjalanannya terhambat ketika rambutnya yang panjang kecantel tlawungan atau jemuran padi .
Dengan peristiwa itu, Ki Jaga Desa kemudian memberikan ipat-ipat atau peringatan keras agar keturunannya nanti jangan sampai berambut gondrong untuk yang laki-laki.
Dari garis silsilah yang diakui oleh Keraton Surakarta Ki Jaga Desa memiliki 4 keturunan anak antara lain Ki Jaga Desa 2, Ki Surarana berjuluk Raden Ngabehi Panglacak Margi, Ni Lasih, dan Ki Perna.
Dari Ki Surarana kemudian memiliki 3 anak –antara lain Trawirana, Suratirta dan Suradikrama.
Selanjutnya Suradikrama dianugerahi 3 keturunan yakni Ni Tritawigena, Ni Arsadinala dan Ki Purwawitana.
Nah dari Ki Purwawitana inilah menurunkan 10 keturunan dan 1 diantaranya adalah Subada Warso Miharjo, yang kini bergelar Raden Tumenggung Subada Warso Dipuro.
Kembali pada sejarah Cilacap, Sinuwun Pakubuwono pada tahun 1839 mengutus Raden Ngabehi Cakradimeja, untuk membuka hutan Donan menjadi kota Tlatjap.
Kemudian ia mendirikan Pendopo Kabupaten Cilacap tahun 1775 tahun saka dengan mengurug dari tanah Kuripan .
Akhirnya Raden Ngabehi Cakradimeja diangkat menjadi Bupati Tlacap berjuluk Raden Adipati Tjakrewerdana . dari tahun 1839 sampai 1873.
Sedangkan mengenai hari Jadi Kabupaten Cilacap hasil sarasehaan disepakati tanggal 21 Maret 1856, sesuai SK yang ditandatangani gubernur Jenderal Belanda pada pengangkatan Bupati yang pertama.
Namun Subada menegaskan Cilacap bukan warisan Belanda melainkan jasa perjuangan para leluhur .
Sedangkan mengenai nama Tlatjap atau Cilacap, ada 2 versi yang diyakini Subada berdasarkan keterangan turun temurun.
Versi pertama dari tembung Ci yang artinya air dan cacap adalah sebuah daratan yang basah di wilayah Payau .
Versi lainnya adalah dari asal kata Cacab yang artinya adalah di ujung pantai Teluk Penyu terdapat sebuah lekukan yang mirip wluku atau alat pembajak sawah yang juga disebut Cacab.
Sahabat Yes itulah sepenggal dari kisah panjang sejarah Ki Jaga Desa dan Andilnya dalam Sejarah Cilacap.
Semoga semakin menambah kecintaan kita dengan kota yang kita huni saat ini.
Karena adanya kita sekarang adalah buah dari sejarah masa lalu. (san/190911)
*Keterangan
foto : Bupati Anom Raden Tumenggung Subada Warsodipuro (ke-3 dari
kanan) bersama 8 wisudawan lain yang diwisuda di Keraton Surakarta
Hadiningrat sebagai pengakuan atas silsilah keturunan trah Ki Jaga Desa
Cilacap.
WISATA KABUPATEN
CILACAP (Sesi Ketiga)
Kamis, 04 Juli 20130 komentar
Geososiografi
Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah. Terletak
diantara 10804-300 - 1090300300 garis Bujur Timur dan 70300 - 70450200
garis Lintang Selatan, mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang
terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan. Wilayah
tertinggi adalah Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198 M dari
permukaan laut dan wilayah terendah adalah Kecamatan Cilacap Tengah
dengan ketinggian 6 M dari permukaan laut. Jarak terjauh dari barat ke
timur 152 km dari Kecamatan Dayeuhluhur ke Kecamatan Nusawungu dan dari
utara ke selatan sepanjang 35 km yaitu dari Kecamatan Cilacap Selatan ke
Kecamatan Sampang.
Batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara
berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten
Kuningan Propinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten
Kebumen-Kabupaten Banjarnegara-Kabupaten Purbalingga, sebelah barat
berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar, Propinsi Jawa Barat.
Karenanya Cilacap merupakan daerah pertemuan Budaya Jawa Banyumasan
dengan Budaya Sunda, sehingga sebagian penduduk Kabupaten Cilacap
bertutur dalam dua bahasa yaitu Jawa mBanyumasan dan Sunda.
Jumlah penduduk Kab. Cilacap sebanyak 1.860.240 jiwa.
Sejarah Kabupaten Cilacap
1. Zaman Kerajaan Jawa
Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan
Mataram Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman
Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap
terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur
dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari timur ke
arah barat :
- Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan
Kerajaan Majapahit.
- Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur
- Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah
diserang oleh kerjaan Islam Banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579,
sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada
Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten
Cilacap di sebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan
sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.
Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan
oleh Panembahan Senopati pada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal
Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang
diserahkan kepada Kerajaan Mataram.
Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh
yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon.
Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21
Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat
dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama tempat yang
dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur
dan Limbangan.
2. Zaman Penjajahan Belanda
Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy
bertugas) dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli
1839 Nomor 1, memutuskan :
"Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di
kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pelabuhan Cilacap,
maka sambil menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang
akan menjadi bagiannya, satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan
ini akan berkedudukan di Cilacap".
Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan
oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal
27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan
dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu
afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang menjadi tempat kedudukan
Kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga
atau Onder Regent. Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder
Regentschap setaraf dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur.
Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto
dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan
masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.
Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur
membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De
Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut:
Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung
Prenteng. Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan
Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat), dari sana ke arah
selatan mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut.
Dari sana ke arah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu.
Dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja
sebagai cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks
Kawedanan Kroya, karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang
dibentuk dari sub-bagian Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas.
Sehingga luas kawasan Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari
luas Kabupaten Cilacap sekarang.
Pada masa Residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah
Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur
Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda
dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86, dan surat
rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan
kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua
yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan
organisasi bestir pribumi dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220
per tahun yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda, setelah
menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan
besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara lain
menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap
(Kabupaten Cilacap).
Sumber: http://lingkunganbersama.blogspot.com/2013/07/wisata-kabupaten-cilacap-sesi-ketiga.html
Silahkan dicopy dan jangan lupa cantumkan sumbernya...!
Sumber: http://lingkunganbersama.blogspot.com/2013/07/wisata-kabupaten-cilacap-sesi-ketiga.html
Silahkan dicopy dan jangan lupa cantumkan sumbernya...!
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. LINGKUNGAN BERSAMA KITA - All Rights Reserved
Sumber: http://lingkunganbersama.blogspot.com/2013/07/wisata-kabupaten-cilacap-sesi-ketiga.html
Silahkan dicopy dan jangan lupa cantumkan sumbernya...!
Sumber: http://lingkunganbersama.blogspot.com/2013/07/wisata-kabupaten-cilacap-sesi-ketiga.html
Silahkan dicopy dan jangan lupa cantumkan sumbernya...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar