Dialog KIai Muchit-Kiai Ahmad
Shiddiq
Soal Pancasila
NU Online
KH Abdul Muchit Muzadi
memperkenalkan peran KH Ahmad
Shiddiq dalam proses penerimaan
Pancasila sebagai asas NU. Sebagai
orang yang bertemu langsung dan
diajak diskusi, ia kata demi kata
masih ingat apa yang diucapkan Kiai
Ahmad Shiddiq terhadap dirinya.
Ia menyampaikan hal itu pada
“Lokakarya Penyusunan Naskah
Akademik Pengusulan KH Ahmad
Shiddiq sebagai Pahlawan Nasional”
di Unej, Senin (25/5).
Menurut kiai yang akrab Mbah
Muchit, ketika Presiden Soeharto
"baru" berkuasa, warga NU dilanda
kegelisahan. Pasalnya, ketika itu,
Soeharto hampir-hampir menjadikan
Pancasila sebagai agama.
Merespon kegelisahan tersebut,
akhirnya KH As'ad Syamsul Arifin
mendatangi Soeharto. Intinya untuk
mengkonfirmasi sekaligus
mempertegas soal kedudukan
Pancasila sebagai dasar negara,
sedangkan agama sebagai dasar
hidup kita bersama.
Kemudian, cerita Mbah Muchit, PBNU
membentuk tim yang terdiri dari Kiai
Ali Maksum, Kiai Mahrus Ali, Kiai
As'ad Syamsul Arifin, Kiai Ahamad
Shiddiq dan Kiai Masykur. Tim itu
menyepakati untuk menjadikan
Pancasila sebagai dasar organisasi
NU.
Pada saat itu, belum ada organisasi
lain yang menggunakan Pancasila
sebagai asas organisasi. Tim itu juga
mengamanati Kiai Ahmad Shiddiq
untuk membuat kajian yang terkait
dengan kesepakatan tersebut.
Begitu sampai di Jember, terjadilah
dialog antara Kiai Ahmad Shiddiq dan
Mbah Muchit, seperti penuturannya
berikut ini:
"Hit, saya dapat pekerjaan besar.
Para kiai menyuruh saya untuk
menulis rumusan Pancasila sebagai
asas organisasi NU," tutur Kiai
Ahmad Shiddiq seperti yang ditirukan
Mbah Muchit.
Lalu dijawab Mbah Muchit, "Lha itu
kan urusanya Kiai Ahmad. Apa
hubungannya dengan saya?"
"Ya, jangan gitu lah. Biasanya kalau
bikin makalah yang berat-berat, kamu
membantu saya," jawab Kiai Ahmad
Shiddiq lagi.
Setelah perbincangan itu, akhirnya
dengan usaha keras selama dua
bulan penuh, rumusan yang tebalnya
34 halaman tersebut, selesai. Dan
dengan rumusan hasil kajian Kiai
Ahmad Shiddiq itu, akhirnya NU bulat
menerima Pancasila sebagai asas
organisasi.
Selama proses penulisan, Kiai Ahamd
Shiddiq berpesan kepada Mbah
Muchit, "Hit, sebelum saya baca di
Munas Alim Ulama NU, makalah ini
tidak boleh dibaca siapa pun.
Termasuk istrimu, juga tidak boleh!".
" Sami'na wa atho'na ," jawab Mbah
Muchit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar