FITNAH MEMFITNAH
“fitnah
memfitnah” telah menjadi “tren”
kehidupan umat masa kini.
Sebagaimana yang sering kita lihat
dan dengarkan dalam kehidupan
sehari-hari, di mesjid, mushalla,
kampus, ruang publik, bahkan di
semua media sosial. Begitu banyak
orang yang senantiasa mengaku
memiliki pengetahuan yang
mendalam, akan tetapi apa yang
disampaikannya justru menyalahkan,
menyesatkan dan mengkafirkan
orang atau kelompok lain yang tidak
sepemahaman dengan dirinya.
Hal ini tentu bertentangan dengan
apa yang disampaikan oleh Nabi
Muhammad SAW, “ikhtilafu ummati
rahmah” yang artinya, perbedaan di
umatku adalah rahmat. Karena
adanya perbedaan, maka Islam dapat
berkembang menjadi sebuah
peradaban yang besar di zaman
dahulu kala. Tapi yang terjadi
sekarang, Islam mengalami
kemuduran peradaban, karena
adanya kelompok yang tidak
menyukai perbedaan.
Kemudahan mengakses informasi
diera digital makin memarakkan
aktivitas yang “lebih kejam dari
pembunuhan”. Saling klaim
mengklaim kebenaran hingga
berujung saling sesat menyesatkan
bukan lagi hal yang “tabu”. Akhlak
telah dinomor sekiankan. Sementara
Nabi Muhammad SAW sesungguhnya
diutus untuk menyempurnakan
akhlak manusia , “innama buitstu
liutamimma makarimal akhlak” .
Hidup di zaman penuh dengan fitnah
merupakan sebuah cobaan. Sebagian
orang tidak menyadari bahwa apa
yang mereka lakukan justru
menyebarluaskan fitnah itu sendiri.
Sementara beberapa orang lain harus
menanggung hidup dalam fitnah
karena difitnah. Mereka “bertakwa”
dengan cara yang jahil. Entah siapa
yang sebenarnya menjadi suri
tauladannya.
Fitnah akan senantiasa bersemayam
dalam diri setiap orang apabila terus
menerus memupuk perasaan dengki,
hasut dan prasangka, yang
sebenarnya merupakan penyakit
hubungan sosial. Hal ini justru hanya
akan menyebabkan lunturnya kasih
sayang antar sesama makhluk
ciptaan Tuhan. Ketika fitnah telah
menjadi bagian dari kehidupan
seseorang, maka akan sangat sulit
untuk menghilangkannya.
Ironisnya, mereka yang menyebar
fitnah seakan berlimpah energi, tidak
merasa kelelahan. Dan yang lebih
mengherankan, bersamaan dengan
itu, mereka tetap mampu melakukan
ibadah shalat, puasa, berdakwah,
berdoa, dan banyak hal lainnya
kepada Allah SWT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar