Jumat, 05 Juni 2015

Wanita Karir Dalam Pandangan Islam

Wanita Karir Dalam Pandangan Islam

Mungkin banyak dari umat Islam yang
bingung akan sosok wanita karir dalam
pandangan Islam, belum lagi karena disebut-
sebut ada sebuah hadist yang menyebutkan
bahwa tidaklah pantas menyerahkan urusan
kepada wanita. Apakah hadist tersebut
shahih? Apakah ini berarti Islam menentang
para wanita memiliki pekerjaan mereka
sendiri dan hanya boleh mengurus urusan
rumah tangga saja? Ayo sama-sama kita
bahas untuk menemukan jawaban dari
banyaknya pertanyaan yang muncul di benak
kita semua ini.

“Tidaklah akan beruntung jika suatu kaum
kemudian menyerahkan kepada seorang
wanita, urusan mereka.” Mungkin hadist yang
diriwayatkan oleh Bukhari inilah yang
menjadi sumber ketakutan dan kebingungan
akan sosok wanita yang bekerja jika dilihat
melalui kacamata Islam. Ternyata, hadist ini
adalah komentar yang dilontarkan oleh
Rasulullah ketika ia mendengar berita tentang
pengangkatan yang dilakukan oleh Raja
Persia terhadap putri Kisra. Dan ternyata
juga, ada beberapa kalangan yang
meragukan keshahihan dari hadist yang
diriwayatkan oleh Bukhari tersebut.
Faktanya, wanita karir dalam Islam memiliki
posisi yang cukup tinggi karena itu berarti ia
bisa berdiri sendiri. Islam tidak pernah
menyuruh atau menyariatkan para lelaki
untuk mengurung istri-istri mereka di dalam
rumah mereka masing-masing, berlawanan
dengan apa yang dipercaya oleh orang-orang
kebanyakan. Bahkan istri dari nabi
Muhammad SAW sendiri merupakan seorang
wanita yang aktif dalam dunia perbisnisan,
dan hal ini juga yang menjadi penyokong
aktivitas dakwah Nabi Muhammad SAW pada
masa-masa awal ia mencoba untuk
berdakwah.
Sosok wanita karir dalam pandangan Islam
tidak seburuk yang selama ini dikabarkan
oleh orang-orang. Khadijah sebagai istri dari
seorang Rasul Allah saja merupakan seorang
pebisnis yang amat sangat tersohor pada
masanya. Setelah menikahi Nabi Muhammad
SAW, Khadijah juga masih melanjutkan
pekerjaannya sebagai pebisnis yang sukses,
bahkan bisa menjadi penunjang dana utama
bagi dakwah-dakwah yang dilakukan oleh
nabi Muhammad SAW yang saat itu masih
belum mendapatkan dana dari donatur
manapun. Jika memang Khadijah merupakan
seorang gadis rumahan yang dikunci
layaknya burung dalam sangkar, maka
bagaimanakah jadinya bisnis yang ia jalani?
Siapa yang kemudian akan mendanai dakwah
Nabi Muhammad yang butuh uang cukup
besar itu? Jika istri dari Rasulullah SAW saja
bisa membina bisnis, maka sudah
seharusnya wanita Islam lain juga membina
karirnya sendiri.
Setelah Khadijah meninggal dunia, Aisyah
yang kemudian dinikahi oleh Nabi
Muhammad SAW tidak kalah cemerlangnya.
Ketika ia sudah menjadi istri dari Rasulullah,
ia tetap menjadi seorang wanita karir Islam
yang aktif di tengah-tengah masyarakat.
Beberapa kali juga Aisyah ikut perang.
Setelah Nabi Muhammad SAW meninggal,
Aisyah kemudian menjadi guru yang memberi
pengetahuan, penjelasan, dan keterangan
mengenai agama Islam.
Posisi Wanita Karir Dalam Pandangan Islam
Melalui potongan sejarah mengenai istri-istri
dari Rasulullah SAW, bisa dilihat bahwa
ternyata muslimah bukanlah seorang burung
yang hanya boleh disangkarkan dan tidak
boleh memiliki aktivitas selain memenuhi
kebutuhan suami, baik emosional maupun
fisikal. Nabi Muhammad SAW sendiri
bersabda bahwa wanita merupakan tiang
suatu negara, yang berarti kemajuan atau
kemunduran suatu negara semua bergantung
pada kondisi dan status perempuan di
negara tersebut. Aisyah juga pernah
mengatakan bahwa sebuah alat pemintal
yang dipegang oleh wanita akan jauh lebih
baik dibandingkan sebuah tombak yang
dipegang oleh seorang lelaki, maka tidaklah
lagi kita perlu memusingkan peran wanita
karir dalam pandangan Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar